Kepri

Kampus Bintan Tourism Institute Tutup Total, Sudah 650 Mahasiswa Diwisuda

Sejumlah mahasiswa BTI  angkatan delapan atau terakhir sebelum kampus tersebut tutup total ketika mengambil ijazah dan sertifikat kelayakan di kampus BTI yang berada di Kijang, Bintan, Selasa (26/10) siang. F.Slamet Nofasusanto

batampos.id– Bintan Tourism Institute (BTI) yang berada di Kijang, Kabupaten Bintan resmi mengumumkan tutup total mulai 1 November 2021 mendatang.

Hal ini dibenarkan oleh Direktur Bintan Tourism Institute, Rudy Firmansyah ditemui di kampus BTI yang berada di Kijang, Selasa (26/10) siang.

BACA JUGA: Tantangan 20 Tahun Membangun Kota Otonom Tanjungpinang di Masa Pandemi

Dia mengisahkan, awalnya didirikan BTI bernama Sekolah Tinggi Pariwisata Sahid Bintan program diploma 1 (D1) untuk mencetak sumber daya manusia (SDM) dalam mendukung industri pariwisata di Kabupaten Bintan. “Kalau tidak didukung sumber daya manusia yang kuat, anak Bintan akan menjadi penonton,” ungkap Rudy.

Selain itu, lanjut Rudy, orientasi didirikannya sekolah bukan untuk mencari keuntungan melainkan menjamin mutu pendidikan sehingga melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas dan siap terjun di dunia kerja industri pariwisata.

Akhirnya, Sekolah Tinggi Pariwisata Sahid Bintan dibuka tahun 2013. Lalu, kegiatan di sekolah mulai tahun 2014.

Setahun kemudian, tepatnya tahun 2015, dua kepala daerah di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) saat itu yakni H.M Sani selaku Gubernur Kepri dan Bupati Bintan, Ansar Ahmad meresmikan sekolah yang berlokasi di Kijang.

“Pak Sani, gubernur saat itu datang meresmikan sekolah dengan memukul gong dan Pak Ansar bupati saat itu yang menandatangani prasasti ketika peresmian sekolah,” ujarnya.

Dia mengatakan, ketika itu biaya sekolah bagi mahasiswa angkatan pertama dan kedua ditanggung oleh pemerintah daerah. Biaya sekolah bagi mahasiswa angkatan ketiga juga ditanggung, namun dari pihak swasta.

Saat itu, Bupati Bintan kala itu, Ansar Ahmad mengundang manajemen PT. MITI ke sekolah. “Saat itu perusahaan mengucurkan Rp 1 miliar lebih untuk biaya 107 mahasiswa, sehingga 100 persen mahasiswa angkatan ketiga mendapatkan pendidikan gratis,” katanya.

Berjalannya waktu, Ansar Ahmad tidak menjabat sebagai Bupati Bintan lagi.

Rudy mengibaratkan sekolah BTI seperti ayam kehilangan induk. “Baru dua tahun beliau (Ansar) tinggalkan mulai goyang,” ungkap Ruddy akhirnya Sekolah Tinggi Pariwisata Sahid Bintan menjadi Bintan Tourism Institute.

Berbagai upaya dilakukan BTI agar bertahan. Dia mengaku sempat mengajukan sekolahnya berubah menjadi sekolah pelat merah pada tahun 2016 “Kita melapor ke Dikti agar sekolah kita menjadi kampus negeri,” katanya.

Angin segar menghampiri. Sekolahnya masuk dalam peringkat 16 besar dari 1.600 sekolah yang mengajukan ke Dikti. Namun ketika uji kelayakan, sekolahnya terkendala lahan karena lahan kampus masih pinjam pakai.

“Andaikan kalau status lahan kampus sudah hibah, mungkin akan lain,” kata Rudy. Kala itu mereka tidak patah semangat. Dengan sumber daya tersisa, mereka terus bertahan hingga tahun 2020.

“Kampus kita kembali goyang karena masalah anggaran, akhirnya saya berkomitmen bahwa kemampuan kita berkarya di Bintan sudah sampai ujung,” kata dia.

Rudy pun menyurati Ansar Ahmad sebagai ketua yayasan dari sekolah yang dipimpin dan DPRD Provinsi Kepri terkait kondisi kampus BTI.

Rudy juga akhirnya mengambil kebijakan hanya dapat mempertahankan 3 orang dari 13 orang stafnya.

Singkat cerita, sejak awal berdiri sampai diumumkan BTI tutup total mulai 1 November 2021 mendatang, Rudy menyebut, lebih dari 650-mahasiswa berhasil diwisuda.

Terakhir sebelum kampus BTI yang berada di Kijang tutup total, sekira 28 mahasiswa angkatan kedelapan atau angkatan terakhir diwisuda pada 18 Oktober lalu.

“Saya bersyukur pada 18 Oktober kemarin, 28 orang mahasiswa kita diwisuda, wisuda terakhir. Bahkan 6 orang mahasiswa sudah diminta sejumlah perusahaan untuk tanda tangan kontrak kerja,” ujarnya.

Disinggung harapannya ke pemerintah daerah? Rudy mengatakan, masih sangat berharap adanya sekolah khsusus pariwisata di Bintan, apalagi Bintan memiliki pendapatan asli daerah terbesar dari sektor pariwisata dan sudah seharusnya memiliki sekolah pariwisata.

“Sangat disayangkan sebenarnya. Kondisinya mahasiswa pariwisata di kita kurang, sehingga mendatangkan dari luar. Dia juga berharap, jangan sampai putra dari Bintan menjadi penonton di rumah sendiri. “Ibarat tikus mati di lumbung padi, sedih rasanya,” katanya.

Namun dia masih yakin Gubernur Kepri, Ansar Ahmad akan memiliki program ke depan dalam membangun pariwisata Bintan.

“Gambaran dari beliau akan ada revitalisasi yayasan sehingga membuat sekolah jauh lebih baik dari sisi keadaan, fasilitas, walaupun sekarang kondisinya sudah dari cukup,” katanya. (*)

 

Reporter: SLAMET NOFASUSANTO
editor: tunggul