Covid-19

Herd Immunity Batam Tinggi

Pengunjung bersantai sambil menikmati sajian menu favorit di Excelso Tiban, Sekupang, Senin (25/10) lalu. Berdasarkan peta risiko Satgas Covid-19, kini Kota Batam didominasi zona hijau atau tidak memiliki kasus Covid-19 aktif. Masyarakat pun kini bisa menjalani aktivitas lebih bebas namun harus tetap menerapkan protokol kesehatan ketat. (Iman Wachyudi/ Batam Pos)

batampos.id – Kasus Covid-19 di Batam akhir-akhir ini semakin melandai. Bahkan, sejak pertengahan Juli, Batam mencatatkan rekor nol kasus. Hal ini ditopang tingkat kekebalan komunal (herd immunity) di Batam sudah terbentuk dan terbilang tinggi.

Namun demikian, Batam tidak buru-buru menjadi zona hijau. Batam tetap menerima status Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 1 yang disematkan pemerintah pusat, mes-ki sebenarnya sedikit lagi Batam zona hijau menyeluruh.

”Saat ini kami melakukan survei aspek epidemiologi warga, setelah 86 persen capaian vaksinasi. Hasilnya, dari 450 respoden, 270 orang memiliki herd immunity sangat baik, dan 98 persen masyarakat sadar prokes,” ujar Wakil Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, saat ditemui di sela-sela peresmian kafe The Recipes Mbak Iin, Rabu (27/10).

Di tempat terpisah, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam, Didi Kusmardji, membenarkan survei kekebalan tubuh terhadap virus Sars-Cov-2 bagi masyarakat Kota Batam terus berlanjut. Survei yang dilaksanakan sejak Senin (25/10) lalu telah mengumpulkan 300 sampel darah dari 450 sampel yang diambil. ”Ya, sampai hari ini sudah terkumpul hampir 300 sampel darah dari 450 sampel atau responden,” ujar Didi, kemarin.

Menurutnya, total ada 600 responden yang diwawancara termasuk 450 yang diambil sampel darah. Kendala di lapangan saat ini ada responden yang tidak bersedia diambil darah dan ada juga yang sudah pindah. ”Hasilnya dari Prodia langsung. Rata-rata bagus,” tambah Didi.

Survei kekebalan tubuh terhadap virus Sars-Cov-2 ini memeriksa sampel darah yang diambil. Kemudian akan dicek kadar antibodi dari masing-masing sampel darah, dengan ukuran minimal 136 unit/ml supaya dikatakan imun tubuhnya tinggi. Warga yang dijadikan sampel sudah ditentukan oleh Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kota Batam secara random (acak).

Sebelumnya, Pemerintah Kota (Pemko) Batam terus membahas rencana uji kadar imun tubuh bagi masyarakat Kota Batam. Rencana ini sudah dirapatkan oleh Wakil Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, bersama dua asisten Pemko Batam, Kepala Dinkes Kota Batam, ahli epidemiologi, serta perwakilan dari Klinik Prodia Batam.

Menurut Amsakar, rencana ini masih perlu penelitian lebih lanjut secara metodologis. Uji kadar imun tubuh nantinya diharapkan dapat membuktikan hipotesa awal bahwa rata-rata masyarakat Batam yang sudah divaksin memiliki imunitas tubuh yang tinggi.
Adapun ketujuh kategori sampel yang akan diuji ialah; sampel orang berusia 18 tahun ke atas yang sudah divaksin dosis satu; sampel orang berusia 18 tahun ke atas yang sudah divaksin dosis dua; sampel orang berusia 12-1 tahun yang sudah divaksin dosis satu; sampel orang berusia 12-1 tahun yang sudah divaksin dosis dua, sampel orang berusia 18 tahun ke atas yang belum divaksin, sampel orang berusia 12-17 tahun yang belum divaksin, dan sampel orang yang tidak diwajibkan vaksinasi.

Sementara itu, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Embung Fatimah Batam di Batuaji sudah dua pekan ini tak lagi menangani pasien Covid-19. Gedung Tun Sendari Terpadu yang sejak awal memang khusus menangani pasien Covid-19 sudah kosong. Tak ada lagi pasien baru yang masuk selama sepekan terakhir ini.

”Alhamdulillah, masih kosong. Tak ada pasien (Covid-19) baru yang masuk. Semoga tetap begini ke depannya dan wabah ini segera berakhir,” ujar Wadir Pelayanan Medik RSUD Embung Fatimah, Sri Rupiati, Rabu (27/10).

Kosongnya pasien Covid-19 ini adalah angin segar bagi petugas medis di sana. Semula mereka harus berbagi tugas dengan layanan pasien Covid-19 di Gedung Tun Sendari Terpadu. Kini, sama-sama kembali fokus melayani pasien umum. Aktivitas mereka kembali normal seperti sedia kala.

”Untuk sementara Gedung Tun Sendari masih dibiarkan kosong. Petugas di sana juga sudah kembali dengan rutinitas seperti sebelum Covid-19 mewabah,” ujar Sri.
Namun demikian, Sri tetap menegaskan penerapan protokol kesehatan (protkes) di lingkungan rumah sakit tetap berjalan maksimal. ”Kami juga berharap masyarakat di luar sana juga tetap setia dengan protkes. Tetap waspada sebab wabah ini belum sepenuhnya hilang,” kata Sri.

Amsakar menambahkan, saat ini masih ada lima kelurahan di Batam menyisakan 6 pasien Covid-19. Dua di antaranya berada di satu kelurahan. Jika 5 pasien ini berangsur pulih dan tidak ada penambahan kasus baru, pemerintah akan mempertimbangakan level Batam menjadi zona hijau.

”Yang paling penting, jangan abaikan protokol kesehatan. Tetap waspada. Karena negara seketat Singapura saja, kasusnya meledak sampai 3.000-an kasus. Saya pikir ini merupakan tanggung jawab kita bersama,” jelas Wakil Wali Kota Batam yang juga Ketua Gugus Tugas Covid-19 itu.

Terpisah, di Rusunawa BP Batam dan Pemko Batam di Tanjunguncang, masih ada 634 orang Pekerja Migran Indonesia (PMI) dikarantina hingga Rabu (27/10). Jumlah ini belum berkurang banyak sebab baru sedikit yang keluar dari lokasi karantina. Sehari sebelumnya, jumlah PMI di lokasi karantina yang sama mendekati angka 900 orang.

Sebanyak 19 PMI dari sekitar 200-an PMI yang keluar dari lokasi karantina, harus dirawat ke Rumah Sakit Khusus Infeksi (RSKI) Galang karena hasil swab menyatakan positif Covid-19. ”Hari ini ada 200-an orang yang keluar karena hasil swab-nya sudah kami terima. 19 orang di antaranya positif dan harus dievakuasi ke RSKI,” kata dr Anggitha, petugas medis yang menangani kesehatan para PMI di Rusunawa, kemarin.

Mereka yang dikarantina adalah mereka yang tiba dari luar negeri dalam sepekan terakhir. Sebelum diperkenankan kembali ke daerah asal mereka harus me-lalui dua kali proses swab untuk memastikan kesehatannya. Jika positif maka harus dirawat terlebih dahulu.

Sejak pandemi ini mewabah, sudah puluhan ribu PMI yang ditampung di lokasi karantina tersebut. Perlakuan mereka sama yakni harus benar-benar steril dari lingkungan luar.

Harga PCR Luar Jawa Rp 300 Rribu

Sementara itu, Dirjen Pelayanan Kesehatan telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor HK 02.02/I/3843/2021, tentang harga tertinggi pemeriksaan polymerase chain reaction (PCR). Dari SE ini, untuk luar Jawa dan Bali PCR tertinggi Rp 300 ribu, sedangkan untuk Jawa dan Bali Rp 275 ribu.

”Iya sudah ada, berdasarkan keterangan dari Dirjen Yankes,” kata Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Batam, dr Achmad Farchanny, MKM, kemarin.
Pemberlakuan harga PCR tertinggi ini sejak diterbitkan, Rabu (27/10). Berdasarkan SE tersebut, pemeriksaan PCR diberlakukan untuk masyarakat atas inisiatif pribadi. Harga pemeriksaan PCR ini tidak berlaku untuk penelusuran kasus Covid-19.

Berdasarkan SE itu, Dinkes provinsi dan Dinkes kabupaten atau kota harus melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap pemberlakuan pelaksanaan batas tarif tertinggi untuk pemeriksaan RT-PCR. Nantinya, pemerintah akan mengevaluasi secara periodik terhadap ketentuan batas tarif tertinggi untuk pemeriksaan RT-PCR dalam surat edaran ini.

Kepala Dinkes Kepri, M Bisri, sangat mendukung pemberlakuan pemeriksaan PCR murah. Ia menyatakan, dengan semakin terjangkaunya pemeriksaan PCR, dapat membantu masyarakat yang akan berpergian ke berbagai daerah.

Pihaknya akan melakukan pengawasan setelah mendapatkan surat edaran resmi dari Kemenkes. ”Pastinya kami dukung kebijakan ini, karena ini memudahkan masyarakat,” ujarnya.

Senada disampaikan Kepala Dinkes Batam, Didi Kusmarjadi. Ia mengatakan masih menunggu surat edaran dari Kemenkes. ”Jika surat itu sudah terbit, Dinkes Batam akan menyosialisasikan dan menerapkan sesuai aturan. Pasti dong akan diberlakukan,” tuturnya.

Penurunan tarif PCR ini telah ditunggu-tunggu masyarakat. Ridzky, warga Batubesar, sangat berharap pemeriksaan PCR mirip dengan diberlakukan di India. ”Katanya di sana lebih murah,” ujarnya.

Jika dengan harga pemeriksaan PCR di kisaran puluhan ribu, tentunya dapat meringankan masyarakat. Ia mengaku harus berpikir panjang untuk melakukan perjalanan. Sebab harga pemeriksaan PCR hampir mirip seharga satu tiket pesawat. ”Jika bawa anak dan istri, sudah berapa duit saya keluarkan untuk PCR,” katanya. (*)

Reporter : IMMANUEL SEBAYANG
RENGGA YULIANDRA
EUSEBIUS SARA
FISKA JUANDA
Editor : MOHAMMAD TAHANG