Nasional

Kapolda Kepri: Tak Ada Toleransi untuk Premanisme

Penganiaya Karyawan Kafe Ditetapkan Tersangka

Kapolda Kepri, Irjen. Aris Budiman. (Cecep Mulyana /Batam Pos)

batampos.id – Kasus premanisme yang menyebabkan salah satu karyawan kopitiam di kawasan Mitra Junction terluka, diambil alih dari Polsek Batam Kota ke Polresta Barelang dan didukung penuh Ditreskrimum Polda Kepri. Hasilnya, satu dari beberapa preman ditetapkan tersangka.

”Saya minta perkara ini diambil Pak Kapolresta (Kombes Yos Guntur),” tegas Kapolda Kepri, Irjen Aris Budiman, Rabu (27/10) petang di Mapolda Kepri.

Seperti diketahui, video kasus penganiayaan ini viral. Apalagi setelah pemilik kafe berharap pada Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo dan jajarannya menindaklanjuti kasus ini, sebab para preman ini sudah sering beraksi.

Aris menegaskan, pada dasarnya, sejak awal kasus ini telah ditangani dengan baik oleh penyidik Polsek Batam Kota. ”Penyidik kami langsung melakukan serangkaian tindakan, mulai dari melakukan olah TKP (tempat kejadian perkara) dan meminta dilakukan visum terhadap korbannya,” kata Aris.

Namun, agar kasus ini lebih cepat lagi penanganannya, apalagi kasus ini menyita perhatian publik, maka perlu melibatkan jajarannya di Polresta Barelang dan Ditreskrimum Polda Kepri. ”Dari hasil penyidikan yang dilakukan Polresta Barelang dan Ditreskrimum Polda Kepri, telah ditetapkan satu orang tersangka yakni R,” ungkapnya. Penetapkan R sebagai tersangka dilakukan berdasarkan pemeriksaan polisi terhadap para saksi dan juga korban.

Pemicu masalah ini, kata Aris, masih dalam penyidikan. Berdasarkan keterangan sementara dari para saksi, terkait utang piutang. ”Saya berharap masyarakat segera melaporkan apabila terjadi tindakan premanisme, laporkan ke kami. Pasti akan kami tindaklanjuti. Tidak ada toleransi pada aksi premanisme,” tegas Aris.

Sementara itu, Kapolresta Barelang, Kombes Yos Guntur Yudi Fauris Susanto, mengatakan, penganiayaan yang terjadi di kopitiam kawasan Mitra Junction, Batam Kota, merupakan bentuk premanisme. Oleh karena itu, ia sudah menginstruksikan kepada seluruh anggotanya untuk mengusut tuntas kasus tersebut dan memberantas premanisme di Batam.

”Mereka (pelaku) orang yang disuruh atau bisa disebut preman. Di Batam tidak boleh ada preman, tidak ada yang hebat. Akan kita tindak tegas,” tegas Yos di Mapolresta Barelang, Rabu (27/10) sore.

Yos menjelaskan, saat ini pihaknya sudah merampungkan penyelidikan terhadap kasus penganiayaan yang dialami ZD karyawan kopitiam. Yos berjanji menangkap siapapun yang terlibat.

Sebelumnya, sebuah video dugaan penganiayaan viral di media sosial Instagram. Dalam video tersebut terdapat belasan orang yang berada di warung kopi. Mereka terdengar berselisih paham dan terlihat satu orang mengalami luka di bagian wajah.

Penganiayaan itu diketahui terjadi pada 9 Juli lalu di salah satu kopitiam di kawasan Mitra Junction, Batam Kota. ”Memang betul dan terjadi. Setelah menerima laporan kami langsung mendatangi TKP, memeriksa saksi termasuk saksi korban. Kami layani semuanya,” ungkap Yos.

Yos mengaku, pihaknya memang memliki kendala sehingga pelaku tak kunjung ditangkap selama tiga bulan. Menurut dia, kendala tersebut terletak pada dinamika personel di lapangan. ”Ini dinamika di lapangan. Memang harus didukung keterangan dan semua bersifat kooperatif,” ujarnya.

Kabid Humas Polda Kepri, Kombes Harry Goldenhard, menambahkan, ada lima orang saksi telah diperiksa. Dari hasil visum, ada luka memar di wajah ZD, korban penganiayaan yang merupakan karyawan kafe. ”Kami masih melakukan pengejaran terhadap tersangka lainnya,” imbuhnya.

Terkait kasus yang telah viral ini, Harry mengucapkan terima kasih atas saran dan kritik masyarakat atas penanganan kasus ini. Ia mengatakan, seluruh kritik dan saran diterima dengan baik oleh kepolisian, demi menjadikan pelayanan Polri yang lebih baik lagi.
”Kami tidak antikritik, kami siap menerima kritik. Demi perbaikan tugas kami lebih baik. Kami memberikan lebih baik untuk masyarakat. Melayani secara baik. Kami mewujudkan presisi Kapolri,” tuturnya. (*)

Reporter : FISKA JUANDA
YOPI YUHENDRI
Editor : MOHAMMAD TAHANG