Nasional

Kerugian Serangan Siber Capai Rp 258 M

OJK Buat Peraturan Tentang Perlindungan, Pertukaran, Tata Kelola Data Perbankan

Ilustrasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). (F. JAWAPOS.COM)

batampos.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meluncurkan cetak biru (blue print) transformasi digital perbankan. Isinya gambaran konkret berbagai inisiatif dan komitmen OJK dalam mendorong akselerasi. Meskipun demikian, pesatnya perkembangan teknologi turut meningkatkan risiko serangan siber.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Heru Kristiyana, menuturkan, cetak biru itu disusun mempertimbangkan berbagai aspek. Proyeksi perbankan masa depan, kondisi digitalisasi, standar internasional, best practice, masukan stakeholder, serta harmonisasi kebijakan otoritas. Mereka juga mengedepankan aspek balance dan technology neutral.

Sehingga, inovasi perbankan tetap memperhatikan aspek kehati-hatian. Sedangkan, technology neutral membuat lebih fleksibelitas mengikuti perkembangan di masa mendatang. “Cetak Biru bersifat dinamis dan akan akan terus diperbaharui untuk mengekomodir berbagai perkembangan yang terjadi pada perbankan,” papar Heru secara virtual.

Di sisi lain, digitalisasi meningkatkan risiko terhadap keamanan siber di sektor perbankan. Mengantisipasi ancaman itu, Heru menyebut, OJK bakal menyusun panduan pengaturan manajemen risiko keamanan siber yang tertuang dalam Peraturan OJK (POJK). Yang mencakup perlindungan, pengaturan pertukaran, dan tata kelola data pada perbankan.

“Departemen Penelitian dan Pengaturan Perbankan (DPNP) segera membuat POJK. Kami berkewajiban memberikan rambu-rambu, supaya aman bagi bank dan nasabah bertransaksi,” terangnya. Meski demikian, Heru belum dapat memastikan aturan tersebut terbit.

Deputi Komisioner Pengawas Perbankan I OJK, Teguh Supangkat, menambahkan, peningkatan serangan siber juga terjadi di sektor keuangan global. Kajian International Monetary Fund (IMF) mengenai cyber risk menunjukkan, kerugian tahunan sektor keuangan global akibat serangan siber mencapai USD 100 miliar atau sekitar Rp 1.430 triliun.

Dari dalam negeri, Badan Intelijen Negara (BIN) hingga Juli 2021 mencatat, terdapat 741,4 juta serangan siber. Dari gangguan tersebut, perbankan menderita kerugian riil Rp 246,5 miliar pada semester I 2020 sampai semester I 2021. “Dari kerugian riil itu terdapat potensi kerugian Rp 208,4 miliar dan nilai pemulihan sebesar Rp 302,5 miliar dari laporan yang kami terima,” ucapnya.

Sementara itu, nasabah mengalami kerugian sebesar Rp 11,8 miliar. Dengan potensial kerugian Rp 4,5 miliar dengan nilai pemulihan Rp 8,2 miliar. Serangan siber juga menyebabkan kasus fraud di perbankan naik dengan 7.087 laporan kasus.“Jenis fraud dengan penggunaan siber yang masuk ke dalam tindakan lain sebesar 47,48 persen dari total kasus dengan kecenderungan kejadian antara lain skimming dan social engineering,” urainya. (*)

Reporter: JP GROUP
Editor: MOHAMMAD TAHANG

 

Lima Aspek Cetak Biru Pengembangan Digitalisasi Perbankan

-Data meliputi perlindungan, transfer, dan tata kelola data.

-Teknologi Informasi mencakup tata kelola, arsitektur, dan prinsip adopsi teknologi.

-Manajemen risiko teknologi informasi yang mencakup keamanan siber bank umum dan alih daya (outsourcing).

-Kolaborasi terdiri dari platform sharing, kerjasama bank dalam ekosistem digital.

-Tatanan institusi meliputi dukungan pendanaan, kepemimpinan, desain organisasi, talenta sumber daya manusia, dan budaya.

Sumber: OJK