Feature

Lombok, Tawarkan Pesona Pantai, Dataran Tinggi, dan Kearifan Lokal

Senja hari di Pantai Kuta Mandalika. (F. Kirana Adelia)

batampos.id – Siapa yang tidak mengenal Lombok? Lombok adalah kawasan yang bisa dikatakan sangat religius. Kawasan ini dikenal dengan sebutan “Seribu Masjid”.

Tetapi selain itu, Lombok dikenal dengan keindahan alamnya. Pesona ini memancing banyak wisatawan dari manca negara maupun domestik berkunjung ke Lombok. Baik itu wisata pantai, hingga mengeksplorasi keindahan dataran tingginya dan kearifan lokal yang dimilikanya.

Rasa penasaran atas keindahan Lombok memancing minat untuk mengunjungi kawasan ini. Terletak di Provinsi Nusa Tenggara Barat, Lombok bukan kawasan yang sulit untuk dijangkau.

Tepatnya, 28 Desember 2019 silam, keinginan untuk mengunjungi Lombok tak tertahankan lagi. Menggunakan kapal ferry, keinginan untuk membuktikan keindahan alam Lombok terlunasi.

Menggunakan moda transportasi ini memang membutuhkan waktu lebih lama dibanding dengan memanfaatkan transportasi udara. Lumayan juga, jika menggunakan ferry perjalanan yang harus ditempuh memakan waktu hingga tujuh jam.

BACA JUGA: Kisah Sukses Manajer Kopi Malabar Sejak SD Bergulat dengan Kopi

Oh ya, saat itu perjalanan dimulai dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Bandingkan dengan menggunakan moda transportasi udara yang hanya memakan waktu lebih kurang 1,5-2 jam saja!

Tapi, keputusan untuk memilih moda transportasi laut bukan hanya karena ingin mengurangi pengeluaran saja. Tapi, lebih pada kepuasan untuk menikmati perjalanan sembari melihat nuansa pemandangan alam sepanjang perjalanan.

Benar saja, keputusan untuk memilih moda transportasi laut tak sia-sia. Keindahan alam Lombok benar-benar memuja mata. Mendekati Lombok, kami disuguhi oleh pemandangan gunung tinggi menjulang yang berselimut awan.

Keelokan alam ini membuat kami tak ingin melewatkannya. Sesegera mungkin kami mengabadikan moment tersebut dengan berswafoto dengan latar belakang gunung menjulang itu.

Merapat di Pelabuhan Lembar, Lombok Barat, kami melanjutkan perjalanan menuju ke penginapan. Kebetulan saja, salah satu keluarga rekan bersedia untuk menerima kedatangan kami selama di Lombok.

Keesokan harinya, usai memulihkan stamina, kami memulai perjalanan mengunjungi destinasi wisata di Lombok. Pantai Kuta Mandalika menjadi tempat pertama tujuan wisata kami.

Lagi-lagi pemandangan di Pantai Kuta Mandalika membuat kami terpesona. Pasir putih membentang luas, kejernihan air laut, ditambah dengan pesona batu karang. Pengunjung seolah dimanjakan dengan kecantikan alam Pantai Kuta Mandalika.

Rupanya pesona alam ini yang memancing wisatawan domestik dan manca negara singgah di Pantai Kuta Mandalika. Selain keindahan alam, pengunjung juga dimanjakan dengan suara ombak dan hembusan udara yang menyegarkan.

Tapi perjalanan belum usai, destinasi wisata kedua menunggu untuk dikunjungi. Yakni Bukit Merese, warga sekitar mengenalnya dengan Bukit Cinta.

Setibanya di lokasi, kami memahami kenapa wilayah ini dijuluki Bukit Cinta. Bagaimana tidak, keindahan panorama alam membuat siapa pun yang datang jatuh hati pada pandangan pertama!

Padang rumput hijau membentang luas memberikan keindahan tersendiri. Tetapi, baiknya berkunjung saat musim kemarau ke Bukit Merese.

Di saat itu, Bukit Merese semakin terlihat keasriannya. Hijaunya padang rumput semakin memanjakan mata meski dikelilingi tanah kecoklatan.

Matahari terbenam di Bukit Merese adalah moment yang tak terlupakan. Pesona alam ditambah rasa takjub mengenang kebesaran Sang Pencipta adalah sebuah pengalaman berharga.

Keesokan harinya, Air Terjun Benang Stokel dan Benang Kelambu di Lombok Tengah menjadi tujuan kami selanjutnya. Perlu diketahui, air terjun ini terletak di kaki Gunung Rinjani.

Tetapi untuk mencapai air terjun ini, pengunjung harus rela berjalan kaki selama 20 menit dari pemberhentian kendaraan terakhir. Tetapi jangan khawatir kelaparan. Pasalnya sepanjang jalan menuju air terjun, banyak yang menjajakan makanan.

Sesampainya di lokasi, kami tak mau ketinggalan moment dengan mengabadikan keindahan alam. Rupanya, Air Terjun Benang Stokel dan Benang Kelambu menjadi salah satu destinasi wisata yang sangat digemari wisatawan.

Banyak pengunjung dari kalangan anak-anak, remaja, dan dewasa ingin merasakan kesegaran air terjun. Harga masuknya pun terbilang murah, yaitu Rp 5 ribu hingga Rp 10 ribu.

Saat berkunjung di Kampung Sasak. (F. Kirana Adelia)

Kampung Sasak (Sasak Village) Sade, Kabupaten Lombok menjadi tujuan akhir wisata. Dusun Sade merupakan salah satu rumpun yang dihuni oleh suku asli Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Dusun Sade yang sukunya bernama suku Sasak ini masih memiliki tradisi yang sangat kental dan budayanya.

Di Dusun Sade, kita disuguhi dengan rumah adat yang terbuat dari dari anyaman bambu yang masih berdiri sangat kokoh dan kuat. Tak hanya itu, di dusun itu pun bisa kita rasakan suasana kehidupan pribumi lombok pada masa lalu hingga sekarang ini.

Seolah-olah suku sasak tak terpengaruh dengan modernisasi dan asimilasi budaya. Mereka tetap kokoh memperkenalkan budaya Suku Sasak mereka kepada para pengunjung dengan menggunakan beberapa pakaian adat dan bahasa asli mereka.

Di dusun ini, kita bisa melihat beberapa suku Sasak khususnya perempuan, yang sedang mengerjakan kain yang di tenun dengan tangan-tangan mereka sendiri. Juga banyak kerajinan-kerajinan yang di buat langsung oleh suku sasak di dusun Sade ini, sehingga siapapun yang datang berkunjung langsung ingin membeli cinderamata yang sangat berkesan dari Dusun Sade.

Pesona alam dan budaya yang ditawarkan Lombok memang menjadi candu bagi wisatawan untuk kembali datang berkunjung. Bagi kami ini memang akhir perjalanan wisata, tentu saja bukan berarti akhir masa kami di Lombok. Segudang kenangan akan pesona alam dan budaya akan membawa kami kembali ke Lombok pada suatu masa nanti. (*)

Oleh: Kirana Adelia Salsabila
Editor: Ryan Agung