Metropolis

Warga Winner Milenium Mansion Tuntut Pengembang Winner Group Bertanggungjawab

Warga Perumahan Winner Milenium Mansion saat mengajukan protes. ( F Galih Adi Saputro/Batam Pos)

batampos.id – Warga Perumahan Winner Millenium Mansion, di kawasan Pasir Putih, Bengkong Sadai, mengeluhkan permasalahan lahan berupa row jalan keluar masuk perumahan itu. Permasalahan ini telah berlangsung sejak 2017 dan tak kunjung selesai hingga kini.

Warga perumahan kelas menengah ke atas yang berjumlah sebanyak 201 unit bangunan ini menyayangkan ada pihak pengembang lain yang bukan pengembang perumahan Winner Millenium Mansion yang sah yakni PT Millenium Investment, mengklaim bahwa pihaknya yang berhak atas row jalan yang semula selebar 9,5 meter, diklaim milik pengembang lain selebar 5 meter.

Warga perumahan Winner Millenium Mansion yang berada di Pasir Putih, Bengkong Sadai Kota Batam minta agar pengembang Winner Group bertanggung jawab atas permasalahan row jalan di perumahan tersebut.

Pasalnya, row jalan keluar-masuk perumahan tersebut berdasarkan PL yang dikeluarkan oleh BP Batam awalnya seluas 9,5 meter, namun sekarang terjadi penyempitan dan pemagaran oleh PT. Sentral Leejaya Costapati, yang rencananya akan dibangun kawasan ruko.

Seperti yang dikatakan salah satu perwakilan warga Perumahan Winner Millenium Mansion Antony. Pihaknya selaku konsumen pembeli rumah di kawasan tersebut mempertanyakan lebar jalan yang semula pada saat pembelian, terima dari pengembang, row jalan seluas 9,5 meter.

“Kami sudah membeli rumah disini pada pengembang Winner Group dan pada PL yang diberikan kepada kami dari BP Batam, row jalannya 9,5 meter, tapi sekarang kok terjadi pemagaran dan pengecilan, hanya tinggal 4,5 meter lagi jalan kami,” ucap Antony didampingi puluhan warga lainnya.

Itulah yang disesalkan warga yang tinggal dan membeli rumah di Perumahan Winner Millenium Mansion.

“Kok ini ada pihak pengembang lain mengklaim jalan keluar masuk warga perumahan Winner Millenium Mansion, seluas 5 meter merupakan miliknya. Bahkan mereka sudah sebagian memagari jalan perlintasan keluar masuk yang seharusnya hak dari warga Perumahan Winner Millenium Mansion,”ujar Antony, Selasa (26/10).

Berdasarkan putusan PTUN Tanjungpinang di Sekupang, lanjut Antony, sebenarnya sudah ada keputusan bahwa para pihak itu ditolak, baik itu PT Millenium Investment selaku pengembang perumahan Winner Millenium Mansion, serta pihak pengembang lain yang mengklaim sebagaian row jalan merupakan haknya yang akan didirikan bangunan.

“Artinya kalau putusannya para pihak ditolak, kan tidak ada yang menang, baik itu PT Millenium Investment selaku pengembang Perumahan Winner Millenium Mansion, maupun pengembang lain yang mengaku yang memiliki hak untuk row jalan di Perumahan Winner Millenium Mansion selebar 5 meter. Begitu juga putusan dari PTUN Medan menyatakan hal yang sama, para pihak semua ditolak, tak ada yang menang,”terangnya.

Tak itu saja. Salah satu warga Perumahan Winner Millenium Mansion juga mengajukan kasasi, lanjutnya, hasilnya juga ditolak.

Berdasarkan penetapan lokasi (PL), pengembang PT Millenium Investment selaku pengembang Perumahan Winner Millenium Mansion yang mendapat pengalokasian lahan dari BP Batam sebagai pihak pembangun lahan penetapan lokasi (PL) yang terbit Nomor 22030412 dan nomor 22030404 tanggal 25 Juni 2002. Sementara PT Sentral Leejaya Costapati menerima PL dari BP Batam dari pengalihan hak (jual beli lahan) dari PT Trikarsa Ekualita yang dimiliki sejak 2013, berdasarkan balik nama ke PT Sentral Leejaya Costapati tanggal 20 Desember 2018.

Sebelumnya permasalahan lahan tersebut sudah sampai ke DPRD Kota Batam dan juga sudah dilakukan Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi I DPRD Kota Batam dan bersama pihak terkait.

Salah satu rekomendasi dalam RDP tersebut adalah Badan Pengusahaan (BP) Batam diminta untuk mencarikan solusi permanen atas permasalahan tumpang tindih lahan yang terjadi itu, namun sampai sekarang solusi permanen itu belum ada.

“Disampaikan di RDP DPRD Batam Komisi I, mereka meminta tidak ada pengerjaan pemotongan jalan atau penyempitan jalan di Perumahan Winner Millenium Mansion. Karena tak ada pihak yang dimenangkan. Kami selaku warga juga menyayangkan parit saluran pembuangan di kawasan Perum Winner Millenium Mansion juga ditutup mereka,” sesalnya.

Warga Perumahan Winner Millenium Mansion meminta pemerintah yang berwenang terkait lahan bisa memantau langsung, bisa dilihat dari dampak lingkungan, sudah ditutupnya parit atau saluran pembuangan air.

“Kami sudah melaporkan ke seperti ke kelurahan, Camat, Kapolsek, Kapolres, Walikota, DPRD Batam, BP Batam dan ke banyak instansi lainnya,”terangnya.

Pemagaran yang dilakukan oleh PT. Sentral Leejaya Costapati saat ini menjadi resah dan keributan pada warga yang berdomisili di perumahan tersebut. Warga terus berupaya untuk mempertahankan haknya, Selasa (26/10/2021) lalu.

“Kami sudah membeli rumah disini pada devoper Winner Group dan pada PL yang diberikan kepada kami dari BP Batam, row jalannya 9,5 meter, tapi sekarang kok terjadi pemagaran dan pengecilan, hanya tinggal 4,5 meter lagi jalan kami,” ucap salah seorang warga Perumahan Winner Millenium Mansion lainnya, Alin.

“Jadi belum ada pihak yang dimenangkan. Begitu juga di dalam RDP bersama Komisi I DPRD Kota Batam, bahwa diminta agar lahan tersebut tidak ada dilakukan pengerjaan apapun, apalagi pemagaran, namun sekarang mereka tetap saja melakukan pemagaran,” terang Alin

Alin menyampaikan, dengan sisa jalan 4,5 meter itu maka warga perumahan tersebut bakal sangat susah untuk keluar masuk kendaraan, sebab jalan itu adalah jalan satu-satunya keluar dan masuk perumahan.

“Kami minta pihak devoper Winner Group untuk menyelesaikan masalah ini, sebab kami ini adalah konsumennya. Dia janji sama kami jika dilakukan pemagaran dia akan turun, namun kenyataannya sekarang tidak ada, dia seperti lepas tangan dan tidak bertanggung jawab,” tuturnya.

Sementara itu, Aping yang juga warga perumahan tersebut berharap agar instansi terkait untuk turun dan membantu penyelesaian permasalahan tersebut. Pihaknya sudah melaporkan permasalahan itu, mulai dari tingkat kelurahan hingga kepada Wali Kota Batam dan BP Batam.

Pantauan di lapangan, karena kekesalan dan kecewa kepada pengembang Winner Group yang tidak ada turun ke lokasi atas pemagaran yang dilakukan oleh PT. Sentral Leejaya Costapati tersebut, warga mengusir para karyawan Winner Group yang berkantor di sekitaran lokasi perumahan itu.

Warga meminta agar karyawan Winner Group mengosongkan kantor pemasaran itu dan bahkan menutup paksa kantor tersebut. Hal itu adalah bentuk kekecewaan mereka atas adanya permasalahan pengecilan jalan perumahan tersebut.

Berdasarkan warga selaku konsumen pembeli Perumahan Winner Millenium Mansion, seperti Alin, dan Aping, sertipikat Badan Pertanahan Nasional (BPN) di lapangan tidak ada perselisihan antara Perumahan Winner Millenium mansion dengan Lahan PT. Sentral Leejaya Costapati berdasarkan PL dan sertipikat 9,5 meter yang warga miliki sudah puluhan tahun (PT. MILLENIUM INVESTMENT selaku pengembang, dalam bidang lahan telah dialokasikan sejak tahun 2002).

Atas hal itulah, warga telah menempuh upaya rapat dengar pendapat (RDP) bersama komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Batam, dengan mengundang pihak pengelolaan lahan BP Batam, PT Tri Karsa Ekualita, PT. Sentral Leejaya Costapati dan perwakilan warga Perumahan Winner Millenium Mansion, bahwa hasil rapat dengar pendapat dengan anggota komisi I DPRD Kota Batam.

“Pada RDP di komisi I, DPRD Batam meminta jangan ada kegiatan di row jalan yang disengketakan. Kalaupun masih nekat, maka akan diberhentikan,”terangnya mengakhiri. (*)

Reporter: Galih Adi Saputro
Editor: Chahaya Simanjuntak