Feature

Agar Mandiri, Tiga Tahun Pertama Berkomitmen Tak Minta Bantuan

Kalpataru dari Fragmen Sejarah Mataram dan Situs-Situs Tersembunyi (1)

Wanawisata hutan pinus Seribu Batu Songgo Langit. Satu dari 10 destinasi wisata di kawasan wisata perhutanan Mangunan, Dlingo, Bantul, Yogyakarta.
(TAUFIQURRAHMAN/JAWAPOS)

Purwo Harsono merintis Mangunan menjadi wanawisata yang berbasis kecintaan terhadap sejarah tutur Kesultanan Mataram. Turut menurunkan jumlah kebakaran dan perambahan hutan, memunculkan sumber-sumber mata air baru, serta mengerek pendapatan asli daerah.

Reporter: TAUFIQURRAHMAN
Editor: MOHAMMAD TAHANG

MANGUNAN, dalam bahasa masyarakat setempat, sering diartikan sebagai mangu-mangu tenan. Alias diam termangu-mangu karena bingung memutuskan sesuatu. Yang bingung dalam cerita tersebut adalah Raden Mas Jatmika alias Susuhunan Hanyakrakusuma alias Sultan Agung dari Mataram. Sultan Agung bingung lantaran seekor burung merak baru saja terbang melintas di dekatnya.

Menurut petunjuk Ki Ageng Kajoran, tanah wangi (sitiwangi) yang dicarinya berada di sebuah bukit yang ditandai dengan kehadiran burung merak. Sebelumnya, Imam Besar Masjidilharam Iman Sufingi menganugerahkan segumpal tanah yang diambilkan dari makam Nabi Muhammad SAW kepada Sultan Agung. Tanah tersebut dilemparkan hingga ke Pulau Jawa. Di tanah itulah, kata sang imam besar, Sultan Agung akan dimakamkan.

Burung meraknya sudah ada. Dan, tanah yang ia pijak ini pun berbentuk sebuah bukit. Tapi, di mana letak persisnya tanah wangi itu? Apakah di tempat merak tersebut berasal, di tempat ia melintasi Raden Mas Jatmika? Atau, di tempat tujuan si burung hinggap?

”Dalam sejarah tutur masyarakat, akhirnya perbukitan ini disebut Mangunan. Alias mangu-mangu tenan atau bingung menentukan,” jelas Purwo Harsono pada Jawa Pos (grup Batam Pos) Selasa (19/10) pekan lalu.

Hutan dan perbukitan Mangunan itulah yang kemudian mengantar Ipunk, demikian Purwo Harsono biasa disapa, pada penghargaan kalpataru kategori Perintis Lingkungan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Berkat kerja kerasnya bersama warga sekitar untuk menjadikan Mangunan sebagai wanawisata berbasis lingkungan dan kecintaan terhadap sejarah tutur Kesultanan Mataram.

Alkisah, setelah melakukan pencarian selama berhari-hari, rombongan Sultan Agung dan para wadyabala Kesultanan Mataram akhirnya menemukan sebuah tanah wangi di atas bukit (giri) yang diselimuti kabut (imo) yang kelak menjadi Astana Imogiri, kompleks pemakaman raja-raja Mataram Islam, Dinasti Kasunanan Surakarta, dan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Cerita tutur di atas adalah bagian dari kisah perjalanan Sultan Agung menjelajah hutan, naik turun bukit dari desa ke desa dan kampung ke kampung untuk menemukan tanah wangi tersebut yang dirangkum Purwo dalam legenda Jajah Desa Milang Kori Nitik Sitiwangi.

Nilai historis dari kawasan hutan dan perbukitan di kawasan segitiga Pleret, Imogiri, dan Dlingo, yang semuanya masuk wilayah Kabupaten Bantul, Yogyakarta, itulah yang menjadi inspirasi Ipunk. Khususnya di Desa Mangunan.

Banyak situs dan titik yang menjadi saksi sejarah peristiwa penting. Sebut saja Sendang Banyu Panguripan yang menurut cerita dijadikan tempat Sunan Kalijaga memandikan jasad Cakrajaya alias Sunan Geseng. Setelah tubuhnya hangus (gosong/geseng) ikut terbakar bersama pepohonan di sekitar pertapaan Bengkung, tempat dia menunggui tongkat atas titah Sunan Kalijaga.

Kemudian, ada situs Jati Kluwih di Pedukuhan Loh Putih di Desa Jatimulya, Kecamatan Dlingo, tempat Sunan Kalijaga berdebat dengan Sunan Geseng tentang sebuah pohon yang berbatang jati, tetapi berdaun keluih.

Sebuah bukit yang disebut Gunung Kendil di Pedukuhan Sudimoro dipercaya sempat dijadikan tempat persinggahan Prabu Brawijaya V dari Majapahit sebelum moksa di Gunung Lawu. Sementara, raja junjungannya bermeditasi di Gunung Kendil, dua abdi kinasihnya, Suranggala dan Wiranggala, dua orang yang kerap dikaitkan dengan Sabdopalon dan Noyogenggong, menetap di bukit pertapaan Bengkung. Tidak jauh dari Gunung Kendil.

Hutan di Gunung Kendil digunakan orang-orang sakti pada zaman dahulu untuk berembuk tentang berbagai persoalan. Karena yang kerap dibahas adalah persoalan-persoalan rumit dan hanya orang-orang digdaya yang terlibat diskusi, sebelum memasuki kawasan sarasehan tersebut, para kesatria dan pendekar wajib melepas perhiasan dan pusakanya untuk kemudian dititipkan di pintu masuk hutan tersebut. Tujuannya, menghindari pertikaian.

Saat ini situs Gunung Kendil berada di kawasan hutan Sudimoro, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Sementara, situs penitipan pusaka dinamakan Gedong Pusaka. Dikembangkan menjadi kawasan wanawisata Pinus Asri.

Berbagai fragmen sejarah Mataram dan situs-situs historis yang tersembunyi di rerimbunan hutan perbukitan Imogiri dan Dlingo itulah yang dipresentasikan Purwo Harsono dengan gemetaran di hadapan Ngarso Dalem Sri Sultan Hamengkubuwono X pada perempat akhir 2014.

Beberapa hari sebelumnya, dia didapuk warga di pedukuhan sekitar Mangunan untuk mewakili mereka berbicara di hadapan sultan. Padahal, dia sudah lama mengubur impiannya soal pengembangan kawasan hutan Mangunan yang pernah dikemukakannya pada 1997.

Semestinya Ipunk berbicara banyak tentang pengembangan hutan wisata serta kesejahteraan petani hutan. Namun, entah grogi atau bagaimana, dia malah berbicara banyak soal situs-situs sejarah tersebut. ”Sejak saya berdiri sampai selesai presentasi, Sri Sultan tidak berbicara apa pun. Beliau hanya memandangi saya dengan tatapan tajam penuh pengawasan,” tutur Ipunk.

Ipunk baru sadar ketika salah seorang abdi dalem mengingatkannya bahwa beskap yang dikenakannya adalah motif kembang kuning. Motif yang biasanya khusus dipakai kalangan kesatria. Lazim dikenakan putra-putra sultan. ”Ditambah lagi keris yang saya kenakan adalah (gayaman, red) Solo,” kenang Ipunk, lalu tersenyum.

Apakah Sultan marah kepadanya? Tidak ada yang tahu. Nyatanya, setelah Ipunk selesai melakukan presentasi, sultan hanya memberikan dawuh singkat, ”jika memang semua yang kamu katakan itu benar, tolong ditulis. Tidak perlu bagus. Yang penting bisa dibaca. Gubernur akan bantu mewujudkan”.

Yang lantas dilanjutkan sultan yang juga gubernur Yogyakarta itu dengan permintaan untuk ditunjukkan ke salah satu titik yang diceritakan Ipunk. ”Akhirnya, rangkaian acara itu batal, diganti ndherekke sultan ke salah satu situs,” terang Ipunk.

Situs yang dipilih adalah sebuah lembah di tengah hutan pinus yang dipercaya menjadi titik lokasi Telaga Mardigda. Telaga legendaris yang tidak kelihatan mata.

Setelah pertemuan tersebut, Ipunk didekati orang-orang dekat sultan. Salah seorang di antaranya berkata bahwa jarang sekali dirinya melihat dawuh sultan yang singkat, tetapi penuh harapan. Dia berkata, janganlah melihat dawuh itu dari seorang gubernur kepada warganya, tetapi lebih kepada seorang raja yang bertitah kepada kawulanya. ”Tugasnya memang berat, tapi ampun (jangan) kecewakan Sultan,” ujar Ipunk menirukan perkataan abdi sultan yang merupakan salah seorang pejabat tinggi di Pemprov Daerah Istimewa Yogyakarta tersebut.

Ipunk bersama-sama warga Desa Mangunan, Dlingo, dan pedukuhan sekitar akhirnya mulai merintis wilayah perhutanan setempat untuk menjadi objek wisata berbasis hutan. Mula-mula dibangun Desa Wisata Kaki Langit pada 2014–2015 di kawasan hutan Pinus Sari. ”Kaki berarti sarana kita dalam berusaha. Langit adalah sandaran kita dengan Sang Pencipta. Ibu Pertiwi dan Bapa Angkasa. Itu tema yang kami munculkan,” jelasnya.

Tiga tahun kemudian, berbagai objek wisata bermunculan. Ada Rumah Literasi di Puncak Becici, Bukit Lintang Sewu dengan kawasan Pinus Asri dan Pintu Langit, Bukit Panguk, Bukit Mojo, Pinus Pengger, serta yang terkenal, kawasan Seribu Batu Songgo Langit yang saat ini ramai dipadati pengunjung.

Dalam mengelola situs-situs wisata tersebut, Ipunk bekerja sama dengan para petani hutan sebagai mitra utama. Setiap situs dikelola satu kelompok petani yang menjadi operator dan bertanggung jawab terhadap akomodasi, fasilitas, dan pengelolaan situs.

Kemudian, dibentuk pula kelompok-kelompok usaha transportasi jip (Langit Terjal), homestay (Atap Langit), kuliner (Rasa Langit), penggiat budaya (Budaya Langit), cendera mata (Karya Langit), wisata pertanian (Langit Hijau), dan wisata edukasi (Langit Cerdas).

Perintisan dilakukan sekitar tiga tahun, mulai 2014 sampai 2017. Baru pada tahun ketiga itulah ada dukungan komitmen anggaran dari Pemkab Bantul. ”Memang tiga tahun pertama saya ajak komitmen untuk tidak meminta bantuan dan tidak mau dibantu agar bisa mandiri,” katanya. Menurut Ipunk, kalau sejak awal bergantung bantuan, ketika bantuannya putus, berakhir pula usahanya.

Kerja keras Ipunk dan warga Dlingo selama hampir tujuh tahun itulah yang kemudian diganjar penghargaan kalpataru yang diserahkan Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar pada 15 Oktober. Menurut KLHK, dampak pengembangan kawasan hutan Mangunan menjadi wanawisata telah berkontribusi menurunkan jumlah kebakaran hutan dan perambahan hutan, membangun talud penahan erosi, serta memunculkan sumber-sumber mata air baru. Juga menyumbang pendapatan asli daerah (PAD) Rp 7 miliar pada Kabupaten Bantul dalam kurun waktu empat tahun.

Siapa yang tahu, tanpa konsep wanawisata ini, mungkin Mangunan hanya tetap menjadi perbukitan di daerah pinggiran Yogyakarta yang terlupakan dengan penduduknya yang sebatas penyadap getah pinus dan petani ladang. (*)