ubahlaku

Delapan Orang Positif, Masih Ada 400.Orang PMI di Lokasi Karantina

Dua Pekerja Mingran Indonesia (PMI) menjalani karantina di Rusunawa BP Batam, Tanjunguncang,
Batuaji, Rabu (8/9). F Dalil Harahap/Batam Pos

batampos.id – Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang kembali ke tanah air masih jadi fokus perhatian Gugus Tugas Penanganan Covid-19 di kota Batam. Mereka harus menjalani karantina selama delapan hingga 14 hari sebelum diperkenankan kembali ke daerah asal ataupun beraktifitas di luar lokasi karantina. Para PMI harus menjalani dua kali pemeriksaan swab agar hasilnya lebih pasti.

Saat ini jumlah PMI yang dikarantina di rusunawa Badan Pengusahaan (BP) dan Pemko Batam masih ada sekitar 400 san orang lagi. Ini sudah berkurang separuh sebab hasil swab kedua yang diterima akhir pekan kemarin telah memulangkan puluhan PMI.

“Sebagian sudah pulang karena hasil swab negatif. Yang positif ada delapan orang dan sudah dibawa ke rumah sakit,” ujar dr Anggitha, petugas medis yang menangani kesehatan para PMI di Rusunawa, Senin (8/11).

Seperti biasa, para PMI yang ditampung di lokasi karantina ini diawasi secara ketat. Mereka yang ditanyakan positif harus dibawa ke rumah sakit untuk mendapat perawatan medis hingga sembuh. Selama pandemi ini mewabah sudah puluhan ribu PMI yang ditampung di lokasi karantina ini. Yang terkonformasi positif juga lumayan banyak sehingga ini benar-benar menjadi fokus perhatian petugas agar tidak menjadi cluster terbaru di tanah air. PMI yang dikarantina ini umumnya dari Malaysia dan Singapura yang kembali ke tanah air melalui Batam.

Perhatian yang lebih bagi PMI ini juga dilakukan oleh Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BTKLPP) Batam yang mana, sampel PMI yang dinyatakan positif Covid-19 kembali diteliti untuk memastikan varian Covid-19 yang dibawa PMI tersebut.

“Ini untuk memastikan varian apa yang dibawa mereka yang positif tadi. Kalau ada varian terbaru tentu perlu upaya antisipasi yang lebih lagi,” ujar kepala BTKLPP Batam Budi Santosa. (*)

Reporter: Eusebius Sara

editor: tunggul