ubahlaku

Enam Orang Positif Covid, Masih Ada 457 Orang PMI di Lokasi Karantina

PMI yang menjalani karantina di Rusun Tanjunguncang

batampos.id– Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang kembali ke tanah air masih cukup banyak. Lokasi karantina PMI, Rusunawa Badan Pengusahaan (BP) dan Pemko Batam di kelurahan Tanjunguncang, Kecamatan Batuaji, kota Batam terus kebanjiran dengan PMI yang kembali ke tanah air. Jumlahnya masih diatas 400 orang, Kamis (11/11). Jumlah ini tidak jauh berbeda dengan pekan sebelumnya yang rata-rata menampung diatas 500 PMI dalam sehari.

Petugas medis yang menangani kesehatan para PMI di lokasi karantina sebut yang sudah dikembalikan ke daerah asal karena bebas dari paparan Covid-19 juga cukup banyak. Namun demikian jumlah PMI yang ada di lokasi karantina tidak berkurang banyak sebab yang baru tiba juga masih cukup banyak. “Artinya ada yang pulang (setelah dinyatakan bebas dari Covid-19) dan ada yang baru tiba. Jumlahnya stabil begitu terus. Kurang paling hanya sedikit saja, setelah itu ada penambahan lagi,” ujar dr Anggitha, petugas medis yang menangani kesehatan para PMI di lokasi karantina.

Dijelaskan Anggitha, PMI yang keluar dari lokasi karantina ini tidak saja mereka yang dinyatakan bebas dari Covid-19, tapi juga ada yang terpapar Covid-19. Namun bedanya mereka yang terpapar Covid-19 dipindahkan ke rumah sakit khusus infeksi (RSKI) untuk mendapat penanganan medis. Sementara mereka yang dinyatakan bebas dari Covid-19 dikembalikan ke daerah asalnya.

“Untuk yang positif masih dibawa angka satu persen dari total semua PMI yang kita tangani di lokasi karantina. Mereka harus dirawat dulu sampai sembuh baru diperkenankan kembali ke daerah asal. Hari ini ada enam orang yang positif dan dipindahkan ke RSKI,” ujar Anggitha.

Seperti biasanya, PMI yang masih bertahan di lokasi karantina tetap diawasi secara serius oleh petugas gabungan di sana agar tidak keluar dari lokasi karantina. Kesehatan mereka dicek secara rutin. Mereka harus menjalani dua kali test swab agar hasilnya benar-benar akurat. (*)

Reporter: Eusebius Sara
editor: tunggul