Nasional

Cegah Kejahatan Ruang Siber dengan Literasi Digital

batampos.co.id – Berbagai macam tipu daya dilakukan untuk memperdaya anak-anak membuat video porno. Kasus terbaru diungkap Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim, yakni pelecehan seksual dengan modus menggunakan game online Free Fire.

f. cdn-cas.orami.co.id

Di kasus ini, pelaku memperdaya korbannya untuk membuat rekaman diri tanpa busana dengan ancaman akan mengambil alih akunnya jika enggan. Ada 11 anak perempuan yang menjadi korban berusia antara 9 tahun hingga 17 tahun. Mereka berasal dari berbagai wilayah, di antaranya Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.

Terkait kasus ini, Kasubdit V Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Kepri, AKBP Dhani Catra Nugraha, mengatakan bahwa pihaknya belum menanganani atau menerima laporan serupa. “Sejauh ini belum ada,” katanya, Rabu (1/12).

Walaupun kasus serupa belum ada di Kepri, Dhani meminta masyarakat lebih berhati-hati, terutama orangtua yang memiliki anak yang senang bermain game online.

Dunia digital berkembang pesat. Tidak hanya dapat diakses orang dewasa, tapi juga anak. Medianya bisa melalui game atau aplikasi-aplikasi yang sedang tren.

“Sesuatu yang tren akan diikuti. Namun, game atau aplikasi tak salah, jika digunakan sesuai porsinya saja,” ujarnya.

Menurutnya, game seperti Free Fire, Mobile Legend, dan PUBG cukup booming di kalangan anak-anak. Rata-rata anak yang memiliki ponsel memiliki aplikasi game ini.

“Tak salah mengikuti perkembangan zaman. Nah, di sinilah peran orangtua,” ucapnya.

Orangtua, kata Dhani, harus lebih peduli akan permainan dan apa yang dilakukan anaknya dalam permainan atau platform media sosial lainnya. Orangtua juga harus paham dengan perkembangan zaman dan aplikasi-aplikasi yang digunakan anak.

“Jangan hanya berikan ponsel, tanpa ada pengawasan. Sangat penting pengawasan itu,” tuturnya.

Oleh sebab itu, sebelum ada kejadian serupa, Dhani meminta kepada seluruh orangtua di Kepri, meningkatkan pengawasan lebih terhadap anaknya. “Pengawasan itu kini tak hanya dunia nyata, tapi juga maya. Apa yang anak lakukan, kita harus awasi. Jangan sampai kebobolan,” ungkapnya

Sejauh ini, Subdit Cyber Crime menangani penipuan online, pencemaran nama baik (online) dan penyebaran video porno.

Hal senada juga dikatakan pemerhati Anak Kepri, Erry Syahrial. Ia menilai maraknya kasus pencabulan saat ini akibat majunya teknologi dan penggunaan ponsel bagi anak. Menurut dia, konten di media sosial dapat mempengaruhi perilaku anak.

“Selain itu, pelaku saat ini juga mengincar korbannya melalui internet. Jadi, konten-konten di medsos itu merusak nilai-nilai moral yang ditanamkan di rumah dan di sekolah,” ujar Erry.

Erry menilai, selain membatasi penggunaan ponsel, orangtua juga harus membatasi anaknya untuk mengenal orang yang lebih dewasa. Kemudian memberikan pemahaman tentang bahaya pergaulan bebas.

“Intinya balik lagi ke keluarga. Bagaimana pengawasan dan memberikan anak pemahaman,” katanya.

Sebelumnya, Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polresta Barelang mencatat sepanjang 2021 sudah menangani 14 kasus pencabulan anak di bawah umur. Dari 14 kasus tersebut, sembilan perkara dinyatakan P21.

“Ada dua kasus masih sidik, dan satu kasus lidik,” ujar Kanit PPA Satreskrim Polresta Barelang, Iptu Dwi Dea Anggraini.

Dea menjelaskan, dari seluruh kasus yang ditangani, mayoritas pelaku merupakan pacar korban. Selain itu, orang terdekat, seperti ayah tiri, sepupu, tetangga, hingga kenalan korban di media sosial (medsos).

Pelaku juga diketahui berasal dari berbagai kalangan. Seperti Manager Port Pertamina Sambu, oknum wartawan media online, hingga pegawai swasta. “Rata-rata dilakukan oleh pacarnya,” tutup Dea.

Sementara itu, kasus predator anak yang beraksi dengan media game online Free Fire, juga menjadi perhatian Rainy Hutabarat, Komisioner Komnas Perempuan yang juga Ketua Tim Advokasi Internasional. Ia mengungkapkan, kekerasan siber berbasis gender yang dilaporkan ke Komnas Perempuan pada masa pandemi 2020-2021, dimana aktivitas di ruang-ruang siber semakin intens dan masif, justru meningkat berlipat-lipat.

“Sejak pandemi, memang banyak sekali kasus siber berbasis gender yang dilaporkan ke Komnas Perempuan. Hal ini terus meningkat oleh karena pengaruh teknologi juga,” ungkapnya, Rabu (1/12).

Di samping itu, dia juga mengapresiasi setiap orang yang cepat tanggap dalam menangani kasus ini. Terutama bagi pihak orangtua yang melakukan pengecekan HP si anak serta mengadukannya langsung dengan bantuan KPAI ke Bareskrim.

Oleh sebab itu, Ranty juga mengatakan, perlu adanya literasi digital bagi masyarakat. Literasi digital ini tak hanya diperuntukkan bagi orang dewasa namun juga bagi anak-anak remaja saat ini. Hal ini perlu dilakukan karena semakin maraknya eksploitasi seksual yang dilakukan di dunia digital.

“Tentu saja kita perlu melakukan literasi digital. Ruang siber bukanlah ruang aman atau ruang bebas dari berbagai bentuk kekerasan berbasis gender,” ujarnya.

Literasi digital bertujuan mencegah kekerasan siber berbasis gender termasuk eksploitasi seksual anak di samping kriminalitas online lainnya. Selain itu, mampu menggunakan teknologi digital untuk hal-hal yang bermanfaat bagi kehidupan.

Dalam situasi seperti ini, tentu saja para korban akan mengalami trauma secara psikis. Oleh sebab itu, ia sebagai salah satu anggota Komnas Perempuan menyebutkan tentu saja para korban memerlukan pemulihan.

Pemulihan ini merupakan hak yang harus diterima oleh si anak. Ia juga menekankan bahwa bila anak tersebut terkena tekanan secara psikis tentu saja akan mengganggu masa depannya.

“Pemulihan merupakan hak korban kekerasan seksual termasuk anak-anak. Tentu mereka mengalami luka psikis yang tak terlihat dan tidak mereka pahami, yang bila tidak ditangani akan berdampak negatif terhadap tumbuh kembang mereka. Juga perlu menjamin agar rekaman video porno diri mereka tidak disebarluaskan di kemudian hari,” tutupnya. (*)

Reporter: FISKA JUANDA, DEBRA NILA
YOFI YUHENDRI