Nasional

Covid-19 Varian Omicron Telah Menyebar di 24 Negara

batampos.co.id – Badan kesehatan dunia WHO melaporkan bahwa varian baru Covid-19 B.1.1.529 atau Omicron telah menyebar ke 24 negara. Sampai saat ini memang belum bisa didapatkan daftar pasti negara-negara yang dimaksud.

Sejumlah penumpang pesawat memadati Terminal Kedatangan Terminal 2, Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, minggu (24/10/2021). Virus Covid-19 varian Omicron sudah menyebar di 24 negara dan perlu dilakukan pengawasan ketat di pintu masuk Indonesia. (Hanung Hambara/Jawa Pos)

Rabu (1/12) lalu, WHO mengumumkan bahwa penyebaran telah mencapai 23 negara. Namun pada Rabu malam, dilaporkan pasien pertama yang terinfeksi Omicron dari Amerika Serikat.

Beberapa negara yang dilaporkan telah menemukan Omicron diantaranya Saudi Arabia, Korea Selatan dan Amerika Serikat. Selain beberapa negara yang sudah dilaporkan beberapa hari sebelumnya seperti Afrika Selatan, Hongkong dan Israel.

Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia Dicky Budiman menyebut berdasarkan informasi WHO yang diterimanya, rata-rata kasus Omicron yang ditemukan di negara-negara tersebut bergejala ringan. “Tapi perlu diingat meski gejala ringan, tetap harus diwaspadai karena bukan berarti tidak ada konsekuensi serus jangka panjang,” jelas Dicky, kemarin (2/12).

Dicky mengatakan bahwa untuk mencegah negara-negara di dunia memiliki banyak opsi untuk membendung persebaran Omicron. Mulai dari menggencarkan 5M, sampai memberlakukan pembatasan perjalanan.

“Tentunya keputusan pembatasan perjalanan memiliki konsekuensi tersendiri,” katanya.

Yang paling penting saat ini kata Dicky adalah menguatkan sistem pengawasan (surveillance) dalam rangka menemukan Omicron lebih dini. Dicky juga menyebut bahwa WHO menyimpulkan belum ada urgensi untuk mengembangkan vaksin baru.

“Belum ada bukti kuat bahwa Omicron bisa mengurangi efikasi vaksin,” jelasnya.

Profil lain dari Omicron yang diketauhi sejauh ini adalah mutasinya yang menyebabkan varian ini memiliki kemampuan transmisi lebih cepat. Sementara untuk waktu inkubasinya masih sama dengan varian yang beredar sejauh ini. Belum ditemukan sampel yang terbukti memiliki masa inkubasi lebih panjang.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof. Tjandra Yoga Aditama mengungkapkan, setidaknya ada beberapa hal yang bisa dibaca dari persebaran Omicron di beberapa negara. Untuk Saudi Arabia misalnya, mestinya akan berpengaruh pada keputusan soal Ibadah Umroh.

“Sementara persebaran di Korea Selatan menunjukkan varian ini mulai menyebar di Asia. Dampak varian ini memang amat luas,” jelas Yoga.

Yoga menjelaskan setidaknya adalah 6 dampak dari Omicron yang saat ini sedang menjadi kekhawatiran banyak orang. Yakni tingkat penularan, kemungkinan perburukan (severity) penyakit, infeksi ulang terhadap para penyintas, dampak terhadap efikasi vaksin yang sudah dipakai di banyak negara, serta menemukan obat treatmen seperti penghambat reseptor Interleukin 6 yang bermanfaat untuk menangani badai sitokin serta obat anti peradangan/inflamasi yaitu kortikosteroid.

Kemudian ada juga kekhawatiran soal lolosnya varian ini dari deteksi tes molekuler seperti PCR dan Antigen. Dalam hal ini Yoga menjelaskan varian Omicron memiliki beberapa mutasi di spike protein di posisi 67-70.

Mutasi di tempat ini menyebabkan terjadinya fenomena “S gene target failure (SGTF)” dimana gen S tidak akan terdeteksi dengan PCR lagi, hal ini disebut juga degan drop out gen S. “Walau ada masalah di gen S tetapi untungnya masih ada gen-gen lain yang masih bisa dideteksi sehingga secara umum PCR masih dapat berfungsi,” jelas Yoga.

Malahan, kegagalan deteksi Gen S pada pemeriksaan PCR ini justru dapat dijadikan indikasi awal untuk mendeteksi apakah sebuah sampel mengandung varian Omicron atau tidak. Namun pemeriksaan menyeluruh dengan metode “Whole Genome Sequencing (WGS)” masih diperlukan untuk memastikan.

”Kalau kemampuan WGS terbatas, maka ditemukannya SGTF dapat menjadi semacam bantuan untuk menyaring mana yang prioritas dilakukan WGS, selain kalau ada kasus berat, atau ada klaster, atau ada kasus yang tidak wajar perburukan kliniknya, dan lain sebagainya,” jelas Yoga.

Hal ini bisa dilakukan misalnya jika di suatu daerah ditemukan peningkatan sampel laboratorium yang menunjukkan “S gene target failures (SGTF)” maka ini mungkin dapat menjadi suatu indikasi sudah beredarnya varian Omicron.

Apalagi kata Direktur Pascasarjana Universitas YARSI tersebut, jumlah pemeriksaan whole genome sequencing Indonesia masih perlu ditingkatkan. Dari data GISAID sampai 1 Desember 2021, Indonesia memasukkan 9.265 sekuens, sementara Singapura sudah memasukkan 10.151 sekuen.

Afrika Selatan dengan penduduk tidak sampai 60 juta memasukkan 23.917 sekuen serta India bahkan sudah memasukkan 84.296 sekuen. ”Penduduk Indonesia itu kita kira-kira seperempat penduduk India. Jadi kalau India sekarang sudah memeriksa lebih 80 ribu sampel maka seyogyanya kita harusnya dapat juga sudah memeriksa sekitar 20 ribu sampel,” tegasnya.

Sementara itu, Komisi IX DPR mendorong agar pemerintah secara konsisten menjalankan kebijakan di semua tingkatan dalam rangka mengantisipasi Covid-19 varian Omicron. Baik di tingkat pusat hingga ke tingkat daerah. Sebab, mereka menilai bahwa saat gelombang kedua kemarin, penerapan kebijakan kurang konsisten.

Wakil Ketua Komisi IX DPR Emanuel Melkiades Laka Lena menuturkan bahwa pemerintah sudah punya bekal pengalaman dari gelombang pertama dan kedua. Seharusnya itu cukup untuk pemerintah menyusun kebijakan yang sesuai dengan kondisi terkini untuk menghadapi kemungkinan kenaikan kasus Covid-19.

Melki mewanti-wanti agar jangan sampai implementasi kebijakan saat ini tidak berubah dari gelombang kedua kemarin. Dia mencatat bahwa kebijakan dari Komite Penanganan Covid-Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC-PEN) yang lalu kurang sinergi antara di pusat dan lapangan.

“Ternyata kebijakan di atas tidak berjalan ke lapangan. Karena teman-teman di lapangan tidak konsisten melaksanakan tugas,” jelas Melki kemarin.

Karenanya, Melki mendorong agar semua petugas lapangan menjalankan sistem sesuai aturan dari atas tanpa pengurangan atau toleransi. Baik itu dari KKP, Imigrasi, TNI/Polri, dan BNPB. Salah satu yang terpenting adalah memastikan PCR yang digunakan sebagai syarat perjalanan merupakan kategori terbaik dan karantina dilakukan sesuai prosedur. Apalagi, virus varian baru ini mungkin tidak terdeteksi dengan PCR biasa.

Di sisi lain, meski ada potensi kenaikan kasus lagi, Melki meminta masyarakat untuk tetap tenang. Varian Omicron memang baru, tetapi belum diketahui jelas akan sama berbahayanya dengan varian Delta atau tidak. Sejauh ini, kasus-kasus yang ditemukan di Afrika menunjukkan gejala Omicron tidak separah Delta.

Yang terpenting adalah tetap menjaga protokol kesehatan dan mengikuti anjuran pemerintah. “Waspada saja, jangan grpgi. Bahwa varian ini baru, ya. Tapi jangan panik berlebihan,” lanjut politisi Golkar tersebut.

Terpisah, Anggota Komisi V DPR RI Sigit Sosiantomo meminta Kemenhub RI memperketat pintu masuk Indonesia bagi WNA maupun WNI yang pulang bepergian dari negara Afrika Selatan. Upaya itu diperlukan untuk mengantisipasi masuknya varian baru Covid-19, yakni varian B.1.1.529 atau Omicron saat momen Nataru.

Namun, sebaliknya untuk perjalanan domestik, Sigit meminta persyaratan perjalanan tidak terlalu ketat sehingga tidak membebani masyarakat. Saat momen Nataru tahun ini, dikhawatirkan akan ada lonjakan kasus akibat varian baru Covid-19 Omicron.

“Karena virus ini dari luar negeri, sebaiknya yang diperketat gerbang-gerbang internasional, bukan domestik,” ujarnya.

Dia mengimbau agar pemerintah tak mempersulit masyarakat yang hendak melakukan perjalanan domestic. Salah satu yang disoroti yakni validasi hasil tes Covid-19 di bandara. “Itu malah membuat kerumunan saat ada lonjakan penumpang. Apalagi, sudah ada aplikasi PeduliLindungi yang memuat semua informasi tentang vaksin dan tes calon penumpang,” ujar politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu.

Sementara itu Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas kemarin menyampaikan surat edaran penanggulangan Covid-19 di tengah perayaan Natal 2021. Yaqut mengatakan kesehatan dan keselamatan seluruh warga negara menjadi prioritas. Termasuk dalam pengambilan keputusan soal menyambut perayaan Natal 2021.

“Surat edaran berisi panduan ini diterbitkan dalam rangka mencegah, menanggulangi, dan memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di gereja,” kata Yaqut. Selain itu untuk memberikan rasa aman dan nyaman kepada masyarakat dalam merayakan Natal 2021.

Yaqut menegaskan upaya pencegahan dan penanggulangan Covid-19 di tempat ibadah saat Natal harus dilakukan. Semua pihak mesti waspada. Terlebih lagi dengan munculnya varian baru Covid-19 Omnicron di sejumlah negara. Dia menegaskan rumah ibadah harus menjadi contoh terbaik dalam upaya pencegahan penularan Covid-19.

Diantara ketentuannya adalah perayaan Natal 2021 di tengah pandemi dilakukan dengan pengetatan dan pengawasan protokol kesehatan. Pengawasan ini untuk memastikan tempat ibadah menjalankan aturan prokes PPKM level 3. Selain itu gereja membentuk Satuan Tugas Protokol Kesehatan Penanganan Covid-19 yang berkoordinasi dengan Satuan Tugas Penanganan Covid-19 di daerah setempat.

Kemenag juga meminta pelaksanaan ibadah dan perayaan Natal dilakukan secara sederhana dan tidak berlebih-lebihan. Kemudian dilakukan di tempat terbuka. Apabila dilaksanakan di gereja, diselenggarakan secara hybrid atau perpaduan offline dan online. (*)

Reporter: JP GROUP