Metropolis

Penderita HIV Batam Didominasi Anak Muda, Paling Banyak Buruh

Ilustrasi. HIV/AIDS (JawaPos.com)

batampos.co.id – Jumlah penderita Human Immunodeficiency Virus (HIV) di Kota Batam terus bertambah. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Batam, sepanjang tahun 2021 (Januari hingga Oktober 2021), terdapat 395 kasus baru HIV.

Angka ini sedikit lebih rendah dibandingkan tahun 2020, dimana ada 538 kasus baru HIV. Namun untuk tahun 2021 ini masih menyisakan dua bulan lagi.

“Ya, menurut laporan yang masuk hingga Oktober 2021 ini ada 395 kasus baru,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Batam Didi Kusmardji, Kamis (2/12).

Dirincinya, rentang usia paling banyak menderita HIV ini, yakni berusia 25 tahun sampai 49 tahun dengan jumlah penderita mencapai 318 kasus. Lalu usia 20-24 tahun sebanyak 36 kasus dan usia 50 tahun ke atas yakni sebanyak 27 orang.

Sedangkan usia 15-19 tahun terdapat delapan kasus, dan usia empat tahun ke atas empat kasus serta usia 5-14 tahun sebanyak satu kasus. “Paling banyak usia produktif,” tambah Didi.

Adapun bila dikategorikan berdasarkan jenis kelamin, penderita HIV di Batam didominasi oleh laki-laki, yakni sebanyak 290 kasus. Sementara jenis kelamin perempuan berjumlah 105 kasus baru.

“Paling banyak laki-laki usia 25 tahun sampai 49 tahun dengan junlah 230 kasus baru,” bebernya.

Jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, dimana pada tahun 2020 terdapat 538 kasus baru HIV. Sementara itu pada tahun 2019 ada 692 kasus baru, lalu 2018 sebanyak 718 kasus. Sementara itu pada tahun 2017 tercatat ada 768 kasus HIV baru.

“Kalau berdasarkan pekerjaan di tahun 2021 ini masih belum selesai kami rekap. Baru yang tahun 2020 yang ada,” tambahnya.

Adapun bila dikategorikan jenis pekerjaan penderita HIV di tahun 2020, didominasi karyawan atau buruh pabrik yakni sebanyak 202 kasus. Lalu ada ibu rumah tangga 81 kasus, tidak bekerja atau anak-anak dan WPS langsung atau tidak langsung masing-masing 32 kasus, buruh bangunan atau kuli angkut 26 kasus.

Lalu mahasiswa dan mahasiswi 22 kasus, pedagang atau salesman 14 kasus, dan salon, hotel dan panti pijat 11 kasus. Ada juga nelayan, petani atau peternak enam kasus, sekuriti lima kasus serta anak buah kapal, pelaut, supir, PNS, TNI, Polri masing-masing sebanyak tiga kasus.

Dijelaskannya, HIV atau Human Immunodeficiency Virus ini sebagian besar disebabkan seks bebas yang disertai tanpa alat pengaman atau kondom berpotensi terinveksi HIV. Apalagi ganti-ganti pasangan. Ditambah yang berhubungan seks dengan sesama jenis.

“Paling banyak itu pasangan sejenis LSL (Lelaki Suka Lelaki),” jelasnya.

Sementara itu bagi pasangan sejenis lesbian diakuinya, tidak masuk kelompok risiko. Sebab, secara teknis tidak ada penetrasi dan dianggap rendah risikonya. Begitu juga dengan pengguna jarum suntik (narkoba) yang saat ini sudah jarang digunakan.

Ditambahkan Didi, berbagai upaya terus dilakukan Dinkes Batam dalam menimimalis angka HIV AIDS ini. Salah satu memberikan penyuluhan dengan melibatkan semua lapisan masyarakat. Melakukan tes HIV AIDS sebanyak-banyaknya termasuk juga Mobile VCT.

Selain itu pihaknya juga memberikan sosialisasi pengobatan segera, sebab orang dalam HIV AIDS (ODHA) yang teratur ARV menyebabkan viral load rendah dan kemungkinan pularkan juga menjadi rendah.

“Selain itu kita juga menurunkan stigma HIV/AIDS di masyarakat,” pungkasnya. (*)

Reporter: Rengga Yuliandra