Internasional

Tiongkok-Taiwan Tegang, Jepang dan AS Siap Bantu

Pesawat tempur F-16 Angkatan Udara Taiwan terbang mengawasi pesawat pengebom H-6K Angkatan Udara Tiongkok yang dilaporkan terbang di atas Selat Bashi, selatan Taiwan, pada 2018 silam. Ketegangan kembali terjadi antar dua negara itu. ( F AFP)

batampos.co.id – Tiongkok dengan negara saudaranya, Taiwan menghadapi ketegangan yang memicu peperarangan. Namun, jika pun Tiongkok menyerang Taiwan, maka Amerika Serikat (AS) dan Jepang siap membantu Taiwan.

Pernyataan ini disampaikan langsung mantan Perdana Menteri (PM) Jepang Shinzo Abe dalam forum virtual yang digelar Institute for National Policy Research, awal Desember ini.
Wali Kota Taoyuan, Cheng Wen-tsan hadir dalam forum itu. Dia diprediksi menjadi kandidat presiden Taiwan di masa depan untuk menggantikan Tsai Ing-wen.

Abe menjelaskan, Kepulauan Senkaku, Kepulauan Sakishima, dan Pulau Yonaguni hanya berjarak kurang lebih 100 kilometer dari Taiwan. Senkaku adalah kepulauan sengketa. Tiongkok menyebutnya sebagai Diaoyu. Karena kedekatan wilayah itu, jika sampai terjadi invasi bersenjata ke Taiwan, Jepang juga berada dalam bahaya besar.

“Keadaan darurat Taiwan adalah kedaruratan Jepang dan aliansi Jepang-AS juga. Penduduk Tiongkok, khususnya Presiden Xi Jinping, jangan sampai salah paham terkait hal ini,” ujarnya seperti dilansir dari CNBC.

Abe memang bukan lagi orang nomor satu di pemerintahan. Meski begitu, dia adalah pemimpin faksi terbesar di Partai Demokratik Liberal yang kini memimpin di Jepang. Dia masih berpengaruh kuat di partai. Karena itu, dia berani menegaskan pernyataan jika Tiongkok menyerang Taiwan.

Sementara itu, AS memiliki pangkalan militer di Okinawa, Jepang. Jaraknya cukup dekat dengan Taiwan. Pangkalan tersebut akan menjadi titik penting dalam dukungan AS ke Taiwan. AS selama ini terikat hukum untuk hanya memberi Taiwan sarana membela negaranya sendiri. Namun, perpolitikan Washington sepertinya berubah.

“AS dan sekutunya akan mengambil tindakan jika Tiongkok menggunakan kekuatan untuk mengubah status quo atas Taiwan,” ujar Menteri Luar Negeri AS

Hubungan AS-Tiongkok memang masih tegang. Mulai dari masalah perang dagang, serangan siber, hingga penjualan senjata ke Taiwan. Beberapa petinggi AS bahkan sudah berkunjung ke Taiwan. Itu adalah hal yang dulu tidak pernah dilakukan Negeri Paman Sam itu.

Di sisi lain, Tiongkok terus berupaya memprovokasi Taiwan. Jet tempur mereka kian sering masuk Zona Identifikasi Pertahanan Udara (ADIZ) Taiwan. Kelompok Safeguard Defenders juga memaparkan bahwa Beijing memburu penduduk Taiwan yang bermasalah di luar negeri. Mereka mendesak negara-negara yang menangkap warga Taiwan agar mendeportasinya ke Tiongkok.

Sepanjang 2016–2019, setidaknya 610 warga Taiwan telah diekstradisi ke Tiongkok dari berbagai negara. Rata-rata adalah pelaku kejahatan penipuan via telepon. Mereka ditangkap di beberapa negara Asia seperti Filipina dan Kamboja. Langkah Tiongkok itu dilakukan untuk melemahkan kedaulatan Taiwan. Beijing ingin mengisolasi Taipei dari negara-negara lain di dunia.

” Mereka yang diekstradisi ke Tiongkok menghadapi penahanan sewenang-wenang, penyiksaan, penghilangan paksa, dan pengakuan paksa yang disiarkan televisi,” Demikian pernyataan Safeguard Defenders, seperti dikutip Agence France-Presse (AFP).

Jubir Kementerian Luar Negeri Tiongkok Wang Wenbin tentu saja menampik tudingan tersebut dan menyatakan itu tidak berdasar.

Di sisi lain, Taiwan sudah berupaya agar warga negaranya tidak dibawa ke Tiongkok. Usaha serupa dilakukan Dewan HAM PBB. Namun, tekanan Tiongkok pada negara-negara kecil yang menangkap warga Taiwan jauh lebih besar. (*)

Reporter: JP Group