Metropolis

Berawal dari Facebook, Buruh Bangunan Cabuli Pelajar SD di Kabil

Ilustrasi. Foto:JawaPos.com

batampos.co.id- Perkembangan zaman membuat semua orang mudah terkoneksi. Hal ini sering dimanfaatkan untuk melakukan kejahatan. Salah satunya yang dilakukan dua buruh bangunan di Kabil, berkenalan dan memperdaya siswi Sekolah Dasar hingga mencabulinya sebanyak 5 kali. Kasus ini terungkap, setelah orangtua korban pencabulan mengecek isi percakapan anaknya Facebook dan WhatsApp.

BACA JUGA: Setiap Bulan Terjadi Pencabulan Anak, Pelaku Dominan Orang Dekat

Orangtua korban menemukan percakapan tak biasa, antara anaknya dengan seseorang pemuda berinisial Rs. Kapolsek Nongsa, AKP Yudi Arvian mengatakan bahwa pencabulan ini pertama kali terjadi 18 Oktober silam.

“Tempat kejadian perkaranya di semak-semak lapangan bola, di Kelurahan Kabil (Nongsa, Batam),” kata Yudi, Jumat (3/12).

Berdasarkan keterangan korban dan pelaku, mereka bertemu melalui Facebook. Rs dan korbannya cukup lama berkomunikasi intens. Lalu, Rs membujuk korbannya bertemu. Tidak hanya itu saja, Rs membujuk korbannya melakukan hubungan layaknya suami istri.

Usai melakukan hal tersebut. Rs lalu menceritakan kejadian ini temannya, WIC. Keduanya pun sepakat, akan melakukan hal yang sama terhadap korbannya.

“Jadi kedua pelaku membuat rencana, untuk melakukan hal sama terhadap korban. Pelaku Rs menghubungi korban, dan mereka janjian bertemu ditempat yang sama,” ujar Yudi.

Orangtua korban merasa ada yang ganjil. Sehingga memeriksa aplikasi pesan singkat milik korban. Dari sana didapati ada percakapan layaknya orang dewasa antara pelaku dan korbannya.

Usai melihat hal itu. Orangtua korban melaporkan kejadian ini ke Polsek Nongsa, 24 November pukul 13.00. Selang tak berapa lama pelaporan ini, polisi dapat menangkap para pelaku.
“Kami lakukan penyelidikan dan dapat mengamankan kedua orang perlaku, satu jam setelah ibu korban melaporkan ke kepolisian,” ujarnya.

Para pelaku mengakui perbuatan mereka. Atas hal ini, polisi menjerat dengan pasal 81 ayat 2 junto 76 E Undang-Undang Republik Indonesia tentang Perlindungan Anak. Yudi mengatakan kedua pelaku terancam hukuman penjara selama 15 tahun. (*)

 

Reporter : FISKA JUANDA