Ekonomi & Bisnis

Terapkan Industri Hijau, Hemat Energi hingga Rp 3,2 T

ILUSTRASI: kompor gasifikasi berbahan bakar biomassa sawit produksi Balikpapan. (Ajid/KPNN)

batampos.co.id – Pemerintah terus berupaya memacu pembangunan industri hijau untuk mengutamakan upaya efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya secara berkelanjutan. Dengan begitu pembangunan industri selaras dengan kelestarian fungsi lingkungan hidup serta dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Melalui upaya penerapan industri hijau juga kami mencatat telah menghemat energi sebesar Rp 3,2 triliun, dan penghematan air sebesar Rp 169 miliar. Pencapaian ini memperkuat komitmen industri untuk memastikan keberlanjutan bisnis perusahaan dalam jangka panjang,” kata Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita, dalam keterangan tertulisnya, Selasa (30/11)

Penganugerahan Penghargaan Industri Hijau merupakan apresiasi Kemenperin bagi perusahaan industri yang telah mewujudkan industri hijau serta berkomitmen menerapkan prinsip tersebut secara konsisten dan berkelanjutan.

Pada tahun ini, Penghargaan Industri Hijau diberikan kepada perusahaan dan industri yang telah mendukung konsep green economy, green technology dan green product dengan menerapkan upaya-upaya efisiensi dalam efektivitas dalam proses produksinya.

“Saatnya kita semua bersama-sama menjadi bagian dari transformasi menuju pembangunan industri berkelanjutan dengan mendukung penciptaan industri yang ramah lingkungan,” ungkap Menperin.

Salah satu industri yang langganan mendapatkan penghargaan industri hijau adalah PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. Pada tahun ini, perusahaan jamu ini kembali mendapatkan penghargaan Industri Hijau Level 5 dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin) atas keberhasilannya menerapkan prinsip Industri Hijau.

General Manager Lingkungan Sido Muncul Hadi Hartojo mengatakan penghargaan Industri Hijau ini sudah diterima sebanyak empat kali berturut-turut dan mendapatkan predikat tertinggi, yaitu Level 5. “Penghargaan ini telah diterima sejak 2017, 2018, 2019, dan 2021. Tahun lalu tidak diadakan karena pandemic,” ungkapnya.

Direktur Sido Muncul Irwan Hidayat mengaku penghargaan Industri Hijau ini menjadi salah satu target Sido Muncul di bidang lingkungan hidup. Menurut dia, memelihara lingkungan dan bisnis adalah dua hal yang sama penting. Irwan mengakui bahwa penerapan prinsip keberlanjutan pada industri jamu memiliki tantangan dan lebih sulit dibandingkan mengelola industri farmasi. Pasalnya, limbah industri jamu memiliki kadar biological oxygen demand (BOD) dan chemical oxygen demand (COD) yang tinggi.

BACA JUGA: Making Indonesia 4.0, Program Indonesia Menghadapi Industri Digital

“Kami telah mengembangkan teknologi untuk mengolah limbah. Termasuk, membangun plant dengan tangki up-flow anaerobic sludge blanket (UASB) untuk memproses berbagai varian limbah,” lanjut Irwan.

Pihaknya juga memilih bahan-bahan berkualitas, yang punya rendemen zat aktif yang tinggi. Langkah ini bertujuan untuk mengurangi penggunaan bahan baku secara berlebihan. Limbah padat dari proses produksi juga diolah menjadi bahan bakar.”Efisiensi energi yang didapat pun bisa berlipat,” sebutnya. (*)

Reporter: JP Group