Metropolis

22 Penderita HIV Meninggal Dunia

 

batampos.co.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam mencatat, sebanyak 22 orang penderita Human Immunodeficiency Virus (HIV) meninggal dunia selama periode Januari hingga Oktober 2021. Jumlah ini lebih rendah dibanding tahun 2020 lalu yang jumlahnya mencapai 77 orang.

”Sepanjang tahun 2021 (hingga Oktober) ini, ada 395 penderita baru HIV di Batam,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Batam, Didi Kusmarjadi, Senin (6/12/2021).

Ilustrasi. HIV/AIDS (JawaPos.com)

Disebutkannya, angka ini sedikit lebih rendah dibandingkan 2020. Dimana, saat itu ada 538 kasus baru HIV. Namun, untuk 2021 ini masih menyisakan dua bulan lagi dari data yang dirilis tersebut, sehingga belum bisa disimpulkan secara keseluruhan.

”Jumlah kasusnya ada 395 penderita baru, dimana 22 orang di antaranya meninggal dunia,” tambah Didi.

Rentang usia paling banyak menderita HIV ini yakni berusia 25 tahun sampai 49 tahun dengan jumlah penderita mencapai 318 kasus. Lalu, usia 20 sampai 24 tahun sebanyak 36 kasus dan usia 50 tahun ke atas yakni sebanyak 27 orang.

Sedangkan usia 15-19 tahun terdapat delapan kasus dan 4 empat tahun ke atas empat kasus serta usia 5-14 tahun sebanyak satu kasus.

”Paling banyak usia produktif,” tambah Didi.

Adapun, bila dikategorikan berdasarkan jenis kelamin, penderita HIV di Batam didominasi oleh laki-laki, yakni sebanyak 290 kasus. Sementara jenis kelamin perempuan, berjumlah 105 kasus baru.

”Paling banyak laki-laki usia 25 tahun sampai 49 tahun dengan jumlah 230 kasus baru,” bebernya.

Jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, dimana pada 2020 terdapat 538 kasus baru HIV. Sementara itu pada 2019 ada 692 kasus baru, lalu 2018 sebanyak 718 kasus. Sementara itu, pada 2017 tercatat ada 768 kasus HIV baru.

”Kalau berdasarkan pekerjaan, di tahun 2021 ini masih belum selesai kami rekap. Baru yang tahun 2020 yang ada,” tambahnya.

Adapun, bila dikategorikan jenis pekerjaan, penderita HIV di 2020, didominasi karyawan atau buruh pabrik yakni sebanyak 202 kasus. Lalu ada ibu rumah tangga 81 kasus, tidak bekerja atau anak-anak dan Wanita Pekerja Seks (WPS) langsung atau tidak langsung masing-masing 32 kasus, buruh bangunan atau kuli angkut 26 kasus, mahasiswa dan mahasiswi 22 kasus, pedagang atau salesman 14 kasus, dan salon, hotel dan panti pijat 11 kasus. Ada juga nelayan, petani atau peternak enam kasus, sekuriti lima kasus serta anak buah kapal, pelaut, sopir, PNS, TNI, Polri masing-masing sebanyak tiga kasus.

Dijelaskannya, HIV atau Human Immunodeficiency Virus ini sebagian besar disebabkan seks bebas yang disertai tanpa alat pengaman atau kondom berpotensi terinveksi HIV. Apalagi, bagi yang kerap ganti-ganti pasangan. Ditambah, yang berhubungan seks dengan sesama jenis.

”Paling banyak itu pasangan sejenis LSL (Lelaki Suka Lelaki),” jelasnya.

Sementara itu, bagi pasangan sejenis lesbian diakuinya, tidak masuk kelompok risiko. Sebab, secara teknis tidak ada penetrasi dan dianggap rendah risikonya. Begitu juga dengan pengguna jarum suntik (narkoba) yang saat ini sudah jarang digunakan.

(*)

 

Reporter : Rengga Yuliandra, Yofi Yuhendri
Editor : RATNA IRTATIK