Nasional

7 Ribu PMI Antre Masuk Batam, Waspadai Omicron

batampos.co.id – Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (FKPD) menggelar rapat bersama, guna membahas persiapan antisipasi Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2022. Ada tujuh agenda penting yang dibahas, termasuk persoalan Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang terus membanjiri Batam. Mereka berpotensi membawa varian baru Omicron karena Singapura dan Malaysia sudah terpapar covid varian baru tersebut.

Koordinator Rusun PMI Karantina Tanjunguncang, Dokter Zee memberi pengarahan kepada PMI yang dikarantina sambil menunggu hasil Swab, Rabu (28/4) lalu. (Dalil Harahap/Batam Pos)

Wakil Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, mengatakan, pembahasan utama adalah pengamanan serta antisipasi Nataru, antisipasi kedatangan PMI, persoalan stok komoditas pangan jelang Nataru, penerapan dan mekanisme PPKM level 3 yang mulai berlaku 24 Desember- 2 Januari 2022, namun dibatalkan pemerintah.

Hal yang tidak kalah penting adalah pembahasan perkembangan Covid-19 yang saat ini masih ada penambahan kasus. Terakhir mengenai persoalan buruh yang terjadi beberapa hari ini.

Amsakar menjelaskan, untuk pengamanan Nataru, sudah ada prosedur tetap (protap) yang disiapkan dari unsur anggota Polri dan TNI. Nantinya akan ada penjagaan di pintu masuk seperti pelabuhan, dan bandara. Serta pengamanan saat perayaan Natal dan menyambut tahun baru mendatang.

“Dari Pak Kapolres semua sudah siap, dan untuk personil pengamanan juga tidak ada masalah. Nantinya akan ada pemantauan dan pengawasan di rumah ibadah umat kristiani,” kata dia usai memimpin rapat di Lantai IV Kantor Wali Kota Batam, Selasa (7/12).

Persoalan yang cukup mendesak saat ini adalah, persiapan tempat karantina bagi PMI selama pemberlakuan masa karantina selama 10 hari. Saat ini sudah ada 1.568 PMI yang ditempatkan di rusun.

Selanjutnya, berdasarkan informasi sudah ada 7 ribuan PMI yang akan masuk dan menunggu jadwal keberangkatan menuju Batam. Mengingat banyaknya jumlah tersebut, muncul persoalan untuk tempat karantina.

Ia menjelaskan, ada beberapa opsi yang akan diambil sebagai solusi menyambut ribuan PMI yang akan tiba ke Batam hingga akhir tahun ini. Pertama, menambah lokasi penampungan PMI.

“Rencananya akan ada tambahan dua tower di rusun yang sama, yang nantinya akan dibuka untuk PMI. Namun, muncul persoalan lainnya yaitu ketersediaan tempat tidur di rusun,” sebutnya.

Berdasarkan informasi dari Dandim dalam rapat disampaikan setidaknya butuh 2.000 sampai 2.500 tempat tidur, agar PMI ini bisa menjalani proses karantina selama 10 hari di Batam.

“Sekarang yang sudah ada itu 1.600 bed. Jadi, ini akan ditingkatkan. Untuk persoalan PMI ini merupakan wewenang provinsi, jadi hasil rapat akan kami sampaikan, dan diharapkan segera ada tindak-lanjut,” jelas Amsakar.

Ekstra bed ini dibutuhkan agar PMI bisa menempati rusun yang disiapkan Pemerintah Kota Batam. Nanti satu kamar akan ditingkat dari dua menjadi tiga tempat tidur.

Opsi kedua adalah menggunakan fasilitas hotel sebagai lokasi karantina PMI. Pihaknya akan berkoordinasi dengan pihak hotel terkait karantina PMI. Hotel mana saja yang bisa dijadikan tempat karantina.

“Persoalan biaya nanti Pak Dandim yang tahu. Karena kalau kami membantu untuk lokasi. Sebab PMI ini kewenangan di tingkat provinsi. Namun, kami mendorong pemerintah pusat untuk membantu dan bisa mengirimkan bantuan untuk penanganan PMI di Batam,” jelasnya.

Selain itu, ada juga opsi membuka pintu masuk di daerah lain. Hal ini juga diusulkan sebagai opsi mengingat jumlah PMI yang akan masuk sangat banyak. Persoalan saat ini adalah daya tampung tempat karantina, serta fasilitas yang layak selama mereka menjalani karantina di Batam.

“Penanganan PMI ini menyangkut di semua lini, dan tidak saja kota, provinsi, bahkan pusat. Sebab kami juga harus berkomunikasi dengan KBRI di Malaysia. Jadi kompleks untuk penanganan PMI ini,” bebernya.

Ia berharap bantuan untuk penanganan PMI ini segera dikirim ke daerah. Sehingga proses kepulangan dan karantina PMI tidak terkendala.

“Kalau bisa dikirimkan anggaran, tentu bisa untuk panjar hotel dulu sebagai tempat karantina. Namun, saya optimis hal ini bisa teratasi, sebab FKPD sangat solid. Dan Batam memilki capaian yang bagus untuk penanganan PMI ini, makanya dipilih sebagai pintu masuk, walaupun ada persoalan-persoalan yang muncul,” tutupnya.

Pengawasan Lokasi Karantina Diperketat

Sementara itu, jumlah Pekerja Migran Indonesia (PMI) di lokasi karantina Rusunawa BP dan Pemko Batam di Tanjunguncang kembali meningkat mendekati angka 800 orang, Selasa (7/12).

Jumlah ini meningkat drastis dari bulan sebelumnya yang relatif diangka 300 hingga 500 PMI. Peningkatan PMI yang kembali ke Tanah Air ditenggarai karena menjelang akhir tahun. Banyak PMI yang ingin merayakan Natal dan Tahun Baru di kampung halaman.

“Sudah seminggu ini, jumlahnya di atas 700an orang. Hari ini masih ada 796 orang. Yang sudah dipindahkan ke rumah sakit karena positif ada tujuh orang,” ujar dr Anggitha, petugas medis yang menangani kesehatan para PMI di Rusunawa.

PMI yang berada di lokasi karantina ini mendapat pengawasan yang ketat dari petugas gabungan. Aktivitas mereka benar-benar diperhatikan agar tidak dulu berbaur ataupun keluar dari lokasi karantina sebelum ada kepastian hasil swab yang menyatakan positif atau negatif.

“Masa karantina juga ditingkatkan jadi sepuluh hari karena ada varian terbaru (Omicron) yang sudah mewabah di beberapa negara tetangga. Kita berharap agar Covid-19 ini segera berakhir makanya penanganan PMI benar-benar diperhatikan,” ujarnya.

PMI yang menjalani karantina ini harus melewati dua kali test swab. Jika positif maka harus dirawat terlebih dahulu hingga sembuh sebelum diperkenankan kembali ke daerah asal. Sampel PMI yang terkonformasi positif juga diperiksa lagi bersama Litbangkes untuk mengetahui jenis atau varian Covid-19 yang dibawa PMI yang positif tadi. (*)

Reporter : YULITAVIA
EUSEBIUS SARA