Ekonomi & Bisnis

Bursa Karbon Bisa Naikkan Daya Saing Industri

ILUSTRASI: Seorang pelanggan memilih pakaian muslim di DC Mall, Nagoya Batam, Senin 19 April 2021. F Suprizal Tanjung, Batam Pos

batampos – Pasar ekonomi hijau menjadi perhatian berbagai pihak di Indonesia. Terutama pertukaran kredit emisi karbon. Pihak swasta merasa bahwa ekosistem harus segera dikembangkan agar Indonesia tak terjebak dalam defisit karbon.

CEO Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX), Lamon Rutten, mengatakan, pemangku kepentingan harus bertindak cepat dalam menciptakan platform jual beli komoditas karbon.

Menurut dia, hal itu juga berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sebab, banyak negara maju mulai mengetatkan aturan suplai barang yang mempunyai jejak karbon berlebih.

“Masalahnya, Indonesia merupakan eksportir untuk brand besar asing seperti industri tekstil. Kalau tidak segera diperbaiki, bisa jadi terkena pajak impor karbon di negara tujuan,” ucapnya.

Hal itu tentu dapat menurunkan daya saing industri di pasar global. Jika kalah, tentu banyak pabrik tutup. Padahal, kebanyakan perusahaan tekstil bersifat padat karya.
Selain itu, karbon Indonesia sudah memiliki pembeli dari bursa-bursa internasional.

“Indonesia adalah pasar yang sangat strategis. Kita harus siap dengan infrastruktur agar mekanisme pasar dapat dimulai segera,” tuturnya.

Co-Founder & Executive Director Indonesia Research Institute for Decarbonization, Kuki Soejachmoen, menambahkan, mekanisme perdagangan karbon sudah berubah. Di bawah Protokol Kyoto, Indonesia hanya berperan sebagai penjual. Namun, Paris Agreement mengizinkan RI menjadi penjual atau pembeli.

“Dengan upaya internal, Indonesia hanya bisa mengurangi 29 persen dari emisi karbon saat ini. Namun, kerja sama internasional diakui bisa membuat penekanan emisi hingga 41 persen,” tuturnya. (*)

Reporter: JP Group