Internasional

Selamat Datang Pemimpin Baru Jerman, Kanselir Olaf Scholz

Olaf Scholz menunjukkan surat mandat sebagai Kanselir Jerman dari Presiden Frank-Walter Steinmeier di Kastil Bellevue, Rabu (8/12/2021) waktu setempat. ( F Odd Andersen/AFP via DW)

batampos – Olaf Scholz resmi menjadi pemimpin baru Jerman. Dia menjadi kanselir, menggantikan Angela Merkel yang 16 tahun berkuasa. Scholz memenangkan 416 suara dari hasil pemungutan suara bundestag atau parlemen.

BACA JUGA:
Awal Desember, Pemerintahan Baru Jerman Fokus ke Energi Terbarukan dan Perubahan Iklim

Dengan anggota parlemen berjumlah 736 orang, pria 63 tahun itu wajib meraih 395 suara untuk mencapai mayoritas. Ketiga partai yang berkoalisi, SPD, Partai Hijau dan FDP seluruhnya memiliki 416 suara, yang secara otomatis memenangkannya.

Pemungutan suara di Bundestag sendiri berlangsung tertutup. Setiap anggota memberikan suara secara rahasia, dan dilarang mempublikasikan pilihannya.

Usai terpilih di parlemen, Scholz berangkat menuju Istana Presiden di Kastil Bellevue untuk menerima surat pengesahan sebagai Kanselir Jerman dari Presiden Frank-Walter Steinemeier. Dari sana, ia kemudian kembali ke gedung parlemen untuk mengambil sumpah jabatan kanselir sesuai dengan Konstitusi Grundgesetz.

Pengambilan sumpah terhadap Scholz ini dilakukan oleh Ketua Parlemen Baerbel Bas (SPD).

Setelah resmi menjadi kanselir, Olaf Scholz kemudian memanggil anggota kabinet dan mereka harus kembali ke Istana Presiden untuk menerima surat keputusan menjadi menteri. Dari Istana presiden, para menteri kabinet kembali lagi ke Bundestag dan duduk di tempat yang khusus ditentukan untuk anggota pemerintahan. Angela Merkel, yang bukan anggota parlemen, tidak boleh duduk lagi di parlemen, melainkan mengikuti acara itu dari bangku penonton.

Pelantikan Scholz dilaksanakan tanpa ritual kehormatan. Usai pelantikan, ia dan Angela Merkel tampak bersalaman tangan dan saling bercanda. “Kanselir tidak memiliki peran representasional seperti presiden AS atau Prancis. Jika Anda melihat kekuatan dan pengaruh politik seorang kanselir, bisa dikatakan mereka setara dengan perdana menteri di negara lain,” ujar Sejarawan yang juga rektor dari Berlin Institute for Advanced Study, Barbara Stollberg-Rilinger seperti dilansir dari Deutsche Welle, Kamis (9/12/2021)

Barbara menyebutkan, tradisi upacara pelantikan di Republik Federal Jerman memang berbeda dibanding di AS atau Prancis, karena latar belakang sejarah Jerman. “Sesuai amanat konstitusi,” ungkapnya. (*)

Reporter: Chahaya Simanjuntak