Nasional

Dari Pejabat sampai Pengusaha Antre Berobat

EDDY Saputra pemilik klinik Lee Tit Tar dan sertifikat Chris Leong Method. ( Socrates/Batam Pos)

Wanita separo baya itu dipapah anaknya masuk. Jalannya diseret. Setelah terapi satu jam, ia bisa berjalan sendiri ke mobilnya. Sebelum pulang, ia mengacungkan jempol. Terapi Lee Tit Tar banyak peminat. Sampai Januari 2022, jadwal terapi pasien penuh. Seperti apa terapi Lee Tit Tar? Inilah kisahnya.

Reporter: SOCRATES

PERNAH menyaksikan terapis tulang asal Malaysia Chris Leong yang jadi langganan artis dan pejabat? Muridnya, Eddy Saputra, buka praktik di Batam, sejak 4 tahun lalu. Meski lokasinya di Dapur 12 Sagulung, pasien yang berobat tak pernah berhenti. Dari pagi sampai malam.

Siapa Eddy Saputra? Lelaki 33 tahun ini, berasal dari Desa Belantaraya, Kecamatan Gaung, Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau. Keluarganya memiliki usaha sarang burung walet. Ia menjadi warga Batam sejak 5 tahun lalu.

“Bagi saya, nomor satu adalah kejujuran,” katanya.

Eddy tamatan SMK Negeri 1 Tembilahan jurusan akuntansi. Sejak masih sekolah, ia senang berusaha dalam bidang kesehatan. “Saya menjual alat-alat kesehatan, jual madu untuk asam urat dan sebagainya. Nama Lee Tit Tar karena marga saya Lee, Tit Tar itu tekniknya, seperti dalam ilmu kungfu,” kata Eddy Saputra.

Tit Tar, kata Eddy, merupakan pengobatan tradisional Tiongkok. Tujuannya, memperbaiki struktur tulang dan sendi. “Dalam film kungfu, sering kita lihat, orang yang cedera, diperbaiki tulang dan sendinya dengan menggunakan tenaga dalam. Jadi, suara ugh..ugh saat terapi, karena menggunakan tenaga dalam,” tuturnya.

Metode pengobatan tradisional Tit Tar dari Tiongkok ini, filosofinya terkait dengan keseimbangan alam. Tubuh manusia, memiliki mekanisme untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Terapi Tit Tar, terutama menyangkut trauma fisik, yang diperkenalkan oleh Master Wah Toh tahun 200 SM di Provinsi Kanton, Tiongkok. Tit Tar juga sering dikaitkan dengan seni bela diri kungfu, untuk menyembuhkan cedera dalam bela diri kontak tinggi.

Eddy Saputra menjadi terapis setelah ia memakai minyak Kutus-kutus. Lantaran harganya lumayan mahal, ia lalu menjadi agen minyak itu. Ia bisa menjual minyak Kutus-kutus sampai 5.000 botol per bulan dan total omzet Rp 500 juta. “Saya jadi kenal orang yang kena saraf kejepit, stroke, keseleo, tapi tak bisa sembuh. Saya berpikir, bagaimana agar orang bisa sembuh, sehingga saya belajar terapi,” katanya.

Dulu, kalau ada yang beli minyak Kutus-kutus, Eddy memberi terapi gratis. Ia lalu belajar dari temannya dari Pekanbaru cara mengurut dan terapi saraf dan tulang. Ternyata, Eddy dinilai cepat belajar dan didorong buka praktik. Saat itu, Eddy belum terpikir jadi terapis. Sebab, bisnisnya menjual material toko bangunan dan kopi tiam, berjalan lancar.

Seiring waktu, banyak perusahaan tutup. Toko bangunan dan kopi tiam sepi. Sejak itu, Eddy memutuskan serius menjadi terapis. Dari warga biasa sampai pengusaha. Eddy berkeliling menjual minyak Kutus-kutus dan mulai menetapkan tarif untuk terapi. Jalan dua tahun, wabah Covid-19 datang.

Sejak itu, Eddy memutuskan membuka klinik, di bekas toko bangunan miliknya, di ruko Kaveling Kamboja, Dapur 12 Sagulung, Batam. Stok barang material bangunan dijual murah. Pasien mulai ramai. Eddy dan istrinya memanfaatkan media sosial.

Selain belajar terapi dari temannya di Tans Tit Tar Pekanbaru, Eddy belajar lagi dari pakar tulang dan saraf Chris Leong dan mendapat sertifikat level 1 dan level 2 kursus Tit Tar. Piagamnya dipajang di klinik Lee Tit Tar. Ia juga belajar totok urat saraf, terapi bakar hingga gurah hidung.

Dengan Chris Leong, Eddy belajar reposisi tulang dan sendi.

“Kalau stuktur tulang sudah diatasi, akan mempengaruhi otot dan saraf. Kalau kepala ditarik, akan mengatasi saraf kejepit, seperti membuka resleting, dan saraf yang terjepit teratasi,” papar Eddy.

Meski sudah diterapi, pasien harus tetap menjaga cara duduk yang membungkuk, mengangkat beban terlalu berat. Selain itu, kata Eddy, harus menjaga pantangan makan dan minum seperti es, air bersoda dan coklat.

Kenapa antrean sangat panjang? Menurut Eddy, karena Chris Leong terkenal di Malaysia dan Indonesia, sehingga banyak orang mencari pengobatan alternatif sendi dan saraf. Informasi terapi Lee Tit Tar, menyebar dari mulut ke mulut dan pesan WhatsApp.

Lee Tit Tar, back pain relief centre, spinal balance & bone setting atau terapi pereda nyeri punggung, keseimbangan tulang belakang sendi, efektif mengobati saraf terjepit karena salah bantal, saraf punggung, leher kaku, nyeri sendi dan cedera karena olahraga.

Itu sebabnya, banyak pasien terpaksa menunggu giliran. “Dulu, saya sendirian menangani pasien dari pagi sampai malam. Pernah saya tangani 21 orang pasien sehari, masing-masing terapi satu jam, Saya hanya istirahat makan,” kata Eddy Saputra. Kini, Eddy punya dua asisten yang membantunya, sekaligus jadi muridnya.

Pasiennya berdatangan dari berbagai wilayah di Batam seperti Batam Center, Nagoya dan Nongsa. Juga dari Moro, Karimun, Tanjungpinang. Sejumlah pejabat dan pengusaha yang menderita saraf kejepit kini menjadi pasien Lee Tit Tar. Antara lain, Aleng Lim bos Indomobil, Harry Sutiono bos Honda Kepri, Liga Maxwell bos PKP dan Lim Siang Neng, bos Cipta Group.

Eddy memang tidak membeda-bedakan pasien, dari status sosial dan ekonominya. Lama terapi rata-rata 1 jam. “Kasihan mereka yang sudah lama mendaftar untuk terapi,” kata Eddy. Bagaimana sebenarnya proses terapi ini? (bersambung)