Metropolis

Merangkai Jalur Cahaya dari Pulau ke Pulau di Perbatasan Negeri

Melistriki wilayah perbatasan negeri di Batam, Kepulauan Riau (Kepri) dan pulau-pulau sekitarnya, merupakan peran penting yang diemban Perusahaan Listrik Negara (PLN) Persero.

Dihadapkan langsung dengan Singapura yang terang benderang, kehadiran dua entitas perusahaan milik negara ini mampu menjaga kepala ibu pertiwi tetap tegak dan berdaulaut menantang Selat Malaka.

Rifki Setiawan Lubis – Batam

Air laut berlatar belakang pemandangan senja, tampak tenang mengantar sang mentari kembali ke peraduannya. Angin pun berhembus semilir membawa gemerisik suara-suara perahu pompong yang hilir mudik di lautan lepas Belakang Padang. Gelombang di sekitarnya pun buyar oleh hantaman lambung perahu yang membelah lautan.

Dari kejauhan, dermaga Pelabuhan Kuning Belakang Padang terlihat megah, menyambut kedatangan perahu pompong terakhir, yang mengantarkan kembali warga Belakang Padang yang bekerja di Batam.

Seiring mentari menunjukkan gelagat akan mengakhiri senjanya, satu per satu nyala cahaya mulai menampakkan diri hingga penjuru pulau. Kini, pulau yang dikenal sebagai Pulau Penawar Rindu tampak bermandikan cahaya dari tanah Singapura, berkat setrum listrik dari PLN.

Secara historis, Warga Belakang Padang mulai menikmati listrik selama 24 jam, mulai September 2013. Saat itu, interkoneksi dari Pulau Batam menuju Bintan lewat instalasi kabel bawah laut sepanjang 4.778 kilometer, diresmikan oleh Mantan Gubernur Kepri, Almarhum HM Sani.

Proyek interkoneksi tersebut dibangun dan dikelola melalui kerja sama antara PLN Persero dan Bright PLN Batam, dengan investasi senilai Rp 19 miliar. Pasokan listrik berasal dari pembangkit PLN Batam, sebesar 2 megawatt.

Sejak permulaan baru tersebut, perekonomian Belakang Padang yang dulunya merupakan pusat pemerintahan pertama di Batam berkembang cukup signifikan. Warga setempat yang didominasi nelayan mulai membeli kulkas, untuk mengawetkan ikannya, lalu membeli televisi, untuk memenuhi kebutuhan akan informasi.

Bahkan, saat era digital seperti sekarang ini, warga juga memiliki smartphone, agar tidak ketinggalan konten yang tengah viral di media sosial. Mereka tidak perlu takut kehabisan daya, karena listrik sudah mengalir selama 24 jam penuh.

Peta Kelistrikan ULP Belakang Padang.

RT 4 Keluharan Sekanak Raya, Kecataman Belakang Padang, Batam, Sarang, mengatakan, bahwa warga bersyukur bahwa listrik sudah mengalir penuh ke pulau penyangga (hinterland) Batam ini.

“Masyarakat Belakang Padang selalu mengeluh, karena dulu listrik pakai genset, dan itu sering ada gangguan. Dengan adanya suplai listrik dari Batam, Alhamdulillah saat ini sudah normal,” kata Sarang di rumahnya, Rabu (1/11/2021).

Sarang kemudian menceritakan masa lalu, dimana saat genset masih menjadi andalan masyarakat Belakang Padang.

“Dulu listrik hanya hidup selama delapan jam sehari. Misalnya saat siang, nanti yang hidup di Kampung Melayu, maka kalau malam yang hidup di Kampung Jawa,” tambahnya.

Untuk menghidupkan genset tersebut, warga harus membayar sekitar Rp 200 ribu per bulan untuk mengisi bahan bakarnya setiap hari. Genset tersebut dikelola oleh PLN Persero Unit Layanan Pelanggan (ULP) Belakang Padang.

“Sekarang Alhamdulillah normal semua, kecuali kalau ada gangguan dari Batam, maka disini kena juga,” imbuhnya.

Sarang yang merupakan pensiunan Telkom ini melihat warga sekitar banyak yang terbantu, khususnya bagi para nelayan.

“Warga kami merasa terbantu sekali. Nelayan disini bisa beli kulkas. Ada juga yang beli televisi. Dan ada yang bisa buka usaha, sejak listrik mengalir penuh.

Sementara itu, Camat Belakang Padang, Yudi Admaji mengatakan selain Belakang Padang, listrik PLN juga sudah sampai ke pulau-pulau sekitar yakni Pulau Pemping, Pulau Kasu, Pulau Terung, dan Pulau Pecung. Tapi listrik yang mengalir di pulau-pulau kecil ini berasal dari genset milik salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut.

“Pulau-pulau penyangga, seperti Pemping, Kasu, Terung dan Pecung sudah dikelola. Tiga pulau ini sudah 24 jam. Selain pulau-pulau tersebut, masih banyak pulau yang belum tersentuh listrik 24 jam dari PLN. Sehingga saat ini, masih mengandalkan listrik dari genset swadaya, yang hanya sanggup mengalir selama delapan jam saja,” ucapnya.

Sejumlah pulau yang belum dialiri listrik PLN yakni Pulau Kepala Jernih, Pulau Lingke, Pulau Geranting, Pulau Bertam, Pulau Siali, Pulau Pajang, Pulau Lengkang, Pulau Sarang, Pulau Mecan dan Pulau Semakau.

“Kalau untuk Pulau Mecan, mereka sudah dapat bantuan dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepri dalam bentuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Komunal,” paparnya.

Menurut Yudi, kehadiran listrik PLN di wilayah perbatasan seperti Kecamatan Belakang Padang ini, mampu menjaga pertumbuhan ekonomi dan akses informasi.

“Wilayah perbatasan ini dijaga masyarakat setempat. Kalau mati listrik, kami tidak bisa berkomunikasi kalau terjadi apa-apa,” jelasnya.

Dari sisi pertumbuhan ekonomi, mayoritasnya didukung hasil laut. Nelayan-nelayan di Belakang Padang dan pulau sekitarnya sudah membangun tempat pembuatan es balok. Es balok diperlukan untuk mengawetkan ikan di kapal nelayan.

Nelayan pun tidak perlu lagi takut ikan tangkapannya cepat membusuk, sehingga menjualnya ke pengepul menjadi lebih mudah. Ikan pun masih segar.

“Kemudian bagi dunia pendidikan, pembelajaran anak sekolah juga sangat terbantu. Apalagi di tengah pandemi Covid-19, dimana belajar lebih banyak di rumah. Anak-anak mengecas HP-nya lebih mudah, sehingga bisa mengikuti pelajaran dengan baik,” ungkapnya.

Pulau Belakang Padang yang berjarak lima kilometer dari Pulau Batam ini, merupakan pulau utama dari Kecamatan Belakang Padang.

Perahu pompong tengah bersandar di Pelabuhan Kuning Belakang Padang. Foto: Rifki Setiawan Lubis/Batam Pos

Secara geografis, kecamatan ini merupakan gugusan kepulauan yang terdiri dari 166 pulau-pulau kecil. Tiga pulau diantaranya, yakni Pulau Nipa, Pulau Pelampong dan Pulau Batu Berenti merupakan pulau terluar Indonesia yang berbatasan langsung dengan dunia internasional.

Secara administratif, Kecamatan Belakang Padang terdiri enam keluharan yakni Kelurahan Pemping, Kelurahan Kasu, Kelurahan Pecong, Kelurahan Pulau Terung, Kelurahan Sekanak Raya dan Kelurahan Tanjung Sari.

Total luas wilayah kecamatan ini mencapai 581,55 kilometer. Jumlah penduduk mencapai 20.266 jiwa, yang terdiri dari 6.459 Kepala Keluarga (KK). Penduduk Belakang Padang sangat heterogen dan sebagian besar merupakan pendatang.

Misalnya, penduduk dari Suku Jawa, umumnya berlokasi tinggal di Kampung Jawa, Pulau Belakang Padang. Kemudian, penduduk dari Suku Melayu dan Padang yang mendiami Kampung Tengah dan Kampung Tanjung, Pulau Belakang Padang. Lalu orang Tionghoa yang banyak tinggal di sekitar Pasar Belakang Padang.

Mata pencaharian penduduk Belakang Padang yakni didominasi oleh nelayan dan pembudidaya hasil laut. Banyak juga, penduduk usia muda yang bekerja di Batam. Pagi hari berangkat kerja menggunakan perahu pancung, kemudian sore hari kembali lagi.

Sementara transportasi antar pulau, misalnya dari Belakang Padang ke Batam menggunakan perahu pompong yang dikendalikan tekong, sementara di daratan Pulau Belakang Padang menggunakan becak.

Untuk saat ini pun, kegiatan perdagangan juga sudah ramai.Pulau Belakang Padang yang menjadi ibu kota Kecamatan Belakang Padang menjadi pusat perdagangan dari ratusan pulau-pulau kecil di sekitarnya.

Penduduk yang berasal dari pulau sekitar, seperti Pulau Kasu, Pulau Terung dan lainnya terbiasa mengarungi laut, untuk berbelanja di Pasar Belakang Padang, biasanya sekali dalam seminggu atau lebih, tergantung jarak pulaunya dari Belakang Padang.

Sekali berbelanja, penduduk pulau selalu bertransaksi dalam jumlah besar. Selain berbelanja, maka sekalian juga bayar listrik, bayar air, bayar asuransi dan lain-lainnya di Kantor Pos Cabang Belakang Padang. Antreannya sangat panjang, apalagi pada hari-hari sibuk.

Kecamatan Belakang Padang juga tengah mengembangkan pariwisata maritim, seiring kehadiran resort di Pulau Nirup yang berjarak sekitar lima kilometer dari Belakang Padang.

Rencananya, wisatawan dari Singapura yang ingin ke Pulau Nirup, umumnya naik kapal yacht. Baru setelah itu, menjalani pemeriksaan di Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) Pelabuhan Sekupang Batam, kemudian baru ke Nirup.

Pulau Nirup juga telah dilengkapi Kantor Imigrasi Kelas II yang menyediakan layanan Customs, Immigration, Quarantine and Port (CIQP).

“Kami juga telah merevitalisasi Pelabuhan Sekanak, sebagai pelabuhan menuju Nirup. Rencananya, akan ada paket pariwisata berkeliling Belakangpadang. Karena kan tidak mungkin hanya berdiam di pulau. Di sini ada tiga jenis wisata yang menarik, yakni; wisata kuliner, wisata budaya, dan wisata sejarah,” ungkap Yudi

Yudi mengatakan, ia sudah berkomunikasi dengan pihak pengelola, agar ikut mempekerjakan warga setempat. ”Pulau tersebutkabarnya akan segera beroperasi tahun depan. Saya sudah minta agar warga setempat juga bisa ikut kerja di sana. Di Belakangpadang sendiri, jalan-jalan sudah mulai dilebarkan untuk mendukung pengembangan pariwisata di sini,” katanya.

Jalan yang tengah dalam proses untuk dilebarkan berlokasi di Pasar Belakangpadang. Menurut Yudi, jalan tersebut dilebarkan dan diperbaiki drainasenya. Anggarannya sekitar Rp 1 miliar.

Selain itu, untuk menjaga kebersihan Pulau Penawar Rindu tersebut, Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) juga tengah dibangun. TPST ini menggunakan anggaran dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan (PUPR). Revitalisasi TPST Belakangpadang diharapkan mampu memotivasi masyarakat agar tidak lagi membuang limbah di laut yang dapat mencemari perairan setempat.

Revitalisasi TPST ini juga dapat membuat Belakangpadang yang berseberangan dengan Singapura lebih bersih, mengingat daerah itu merupakan daerah pariwisata yang kerap dikunjungi pelancong dari dalam dan luar negeri.

Listrik 24 Jam, Perekonomian Kasu Bertumbuh

Berjarak delapan kilometer dan 30 menit perjalanan laut dari Pulau Belakang Padang, Pulau Kasu yang memiliki jumlah penduduk sebanyak 3.000 jiwa ini, sudah merasakan dampak dari listrik 24 jam, melalui genset yang ditempatkan PLN disana.

Lurah Pulau Kasu, Iktiar Budi mengatakan genset PLN masuk ke Kasu sejak 2018. “Mayoritas mata pencaharian penduduk disini, 98 persen nelayan,” kata Budi, Minggu (12/12/2021) di Pulau Kasu.

Ikan yang ditangkap nelayan Kasu, kemudian dibeli oleh pengepul dari Pulau Siali, baru kemudian dijual ke Singapura.

“Di Kasu, dengan adanya listrik 24 jam, maka nelayan bisa mengecas lampu sorot sendiri, yang memang diperlukan saat mau turun ke laut di malam hari,” jelasnya.

Masyarakat Belakang Padang membantu petugas PLN mengangkut material dari kapal ke daratan. Foto: PLN ULP Belakang Padang untuk Batam Pos

Selain itu, tempat pembuatan balok es yang diperlukan untuk mengawetkan ikan, sebelum dijual ke pengepul juga bisa beroperasi. Sebelum listrik mengalir 24 jam, balok es harus dicari ke Belakang Padang atau ke Batam. Tentu saja, hal tersebut membuat pengeluaran nelayan semakin bertambah, untuk, biaya bahan bakar perahu.

Masih kata Budi, dengan kondisi seperti sekarang ini, taraf hidup masyarakat di pulau yang mayoritas dihuni Suku Melayu tersebut mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

“Untuk kehidupan sehari-hari, banyak warga yang berjualan. Misalnya jualan pop ice, jualan gorengan dan buka warung kelontong,” paparnya.

Di Kasu, juga terdapat sekolah negeri, antara lain SD 006, SMP 7 dan SMA 7, serta Madrasah Ibtidaiyah (MI). “Anak-anak terbantu ketika mengerjakan tugas sekolah dari rumah,” jelasnya.

Budi berharap PLN bisa membantu membagikan cahayanya ke pulau-pulau di sekitar Kasu, seperti Pulau Bertam, Pulau Kepala Jernih, Pulau Lingka, Pulau Pontong, Pulau Siali dan Pulau Semakau.

“Di Bertam, Kepala Jernih dan Lingka, ada bantuan genset dari provinsi, setahun yang lalu. Untuk biaya per hari sekitar Rp 8 ribu. Sedangkan di Siali punya genset sendiri, milik para pengepul ikan. Genset dari pemerintah ini tentunya terbatas kemampuannya. Biasanya hidup pukul 18.00 WIB dan mati pada pukul 24.00 WIB. Dulu Kasu juga seperti ini,” tuturnya.

Komitmen PLN Melistriki Wilayah Hinterland

Pengelolaan listrik di Belakang Padang dan pulau-pulau sekitarnya menjadi tanggung jawab penuh dari PLN Unit Pelayanan Pelanggan (ULP) Belakang Padang.

Selain Belakang Padang, PLN ULP Belakang Padang juga mengelola listrik di Pulau Kasu, Pulau Pemping, Pulau Bulang, Pulau Pecong, Pulau Jaloh, Pantai Gelam, Pulau Selat Nenek, Pulau Temoyong, Pulau Abang, Pulau Batu Legong, Pulau Air Raja, Pulau Subang Mas, Pulang Sembulang dan Pulau Buluh. Pulau-pulau tersebut merupakan pulau penyangga Batam.

Manajer PLN Unit Pelayanan Pelanggan (ULP) Belakang Padang, Firmansyah mengatakan PLN akan terus berkomitmen menambah jalur kelistrikan di pulau-pulau yang belum teraliri listrik.

“Ada beberapa pulau yang belum teraliri listrik dan menjadi target kami, seperti di Pulau Sarang, Pulau Ranting dan Pulau Mecan,” katanya saat ditemui di kantornya di Belakang Padang, Senin (15/11/2021).

PLN mulai melistriki Pulau Belakang Padang sejak tahun 1997. Namun, saat itu masih menggunakan genset yang mampu mengalirkan listrik selama 14 jam, dari pukul 17.00 WIB hingga 05.00 WIB.

Seiring berjalannya waktu, proyek interkoneksi dari Batam ke Belakang Padang rampung pada 2013. Dalam prosesnya, PLN Persero membeli listrik dari Bright PLN Batam, sehingga mimpi warga setempat untuk mendapatkan pasokan listrik 24 jam bisa direalisasikan.

Setelah Belakang Padang, maka setrum PLN pun mengaliri Pulau Terung, Pulaui Kasu dan Pulau Pecung.

Menurut Firmansyah, mengembangkan infrastruktur kelistrikan di daerah kepulauan memang sangat sulit. Dan tentu saja menguras biaya yang besar.

“Kondisi geografis, dimana antar pulau dipisahkan laut memang menjadi kendala. Kemudian transportasi juga untuk mengangkut tiang-tiang, material lainnya sangat terbatas. Biaya investasi besar, bisa mencapai ratusan miliar untuk kabel bawah laut. Kalau untuk pengadaan genset berkapasitas besar di satu pulau, maka biayanya sekitar Rp 4 miliar,” jelasnya.

Maka, untuk menggelar instalasi kabel bawah laut bukan perkara mudah. Satu-satunya solusi yang bisa ditawarkan ke pulau-pulau sekitar Belakang Padang yakni listrik melalui genset.

“Di Kasu sudah ada genset berkapasitas 400 Kw. Di Pecung dan Terung sudah 200 Kw, dan mampu berjalan selama 24 jam. Bahan bakar dari kami. Penduduk setempat juga kami subsidi, jadi bisa bayar token lebih murah, sekitar Rp 80 ribu per bulan,” paparnya.

Setelah menambah jaringan listrik di Pulau Jaloh dan Pulau Selat Nenek tahun lalu, maka untuk pengembangan di 2022, PLN akan ekspansi program listrik desa ke Pulau Geranting, Pulau Mecan dan Pulau Sarang. “Sudah mengajukan kontrak, jadi kami tinggal menunggu anggarannya turun,” tegasnya.

Berdasarkan data, total jumlah pelanggan PLN ULP Belakang Padang sudah mencapai 7.410 pelanggan. Pelanggan terbanyak di Pulau Belakang Padang, sebanyak 3.151. Kemudian di Pulau Terong sebanyak 656. Lalu di Pulau Kasu sebanyak 653, dan di Buluh sebanyak 623. Sementara, sisanya tersebar di 12 pulau lainnya.

Firmansyah melihat bahwa pertumbuhan ekonomi Belakang Padang melaju pesat, setelah listrik mengalir 24 jam. Dampak positif tersebut juga dirasakan oleh warga pulau sekitar, seperti Pulau Kasu dan lainnya.

“Perekonomian naik, sehingga banyak yang mengajukan tambah daya. Karena banyak yang pakai kulkas, sehingga konsumsi listrik naik,” imbuhnya.

Kemudian, nelayan yang biasa membeli es balok dari Batam, sekarang bisa membuat es sendiri. “Jadi menghemat biaya bahan bakar untuk perahu boat. Satu kali pulang-pergi, misalnya dari Kasu ke Batam yang makan waktu 30 menit itu menghabiskan biaya Rp 180 ribu. Kalau dari Pulau Terung malah lebih lama lagi, sekitar 45 menit, boleh dihitung biayanya sendiri,” terangnya.

Untuk melistriki sebuah pulau memang memiliki tantangan tersendiri, tapi Firmansyah bersyukur bahwa warga kepulauan mau membantu dan ikut berpartisipasi membangun jaringan listrik di pulaunya.

“Banyak tantangan melistriki pulau ini. Di pulau-pulau seperti Kasu yang tidak ada mobil, tiang yang rusak itu dipikul bersama-sama, dinaikkan ke kapal. Kalau kami sendiri saja, dalam sehari paling bisa dua tiang dipikul. Syukurnya masyarakat mau membantu, jadi pekerjaan bisa lebih mudah,” tuturnya.

Lewat Kepri Terang, Pemprov Kepri Melistriki Hinterland

Sebanyak tiga pulau di Kecamatan Belakang Padang Kota Batam, yakni di Pulau Lengkang, Pulau Gare dan Pulau Labon mendapat bantuan genset beserta jaringan Listrik dari Pemprov Kepri melalui Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Gubernur Kepri, Ansar Ahmad hadir langsung dan meresmikan pemakaian genset dan jaringan listrik pada acara yang dipusatkan di Pulau Lengkang, Kelurahan Sekanak Raya, Kecamatan Belakang Padang, Senin (15/11/2021).

Menurut Gubernur Ansar jumlah rumah tangga di tiga pulau yang terlayani dari pemakaian genset ini adalah sebanyak 296 Kepala Keluarga (KK).

“Program Kepri Terang memang telah kita gagas. Maka sekarang saya sedang gencar melengkapi kebutuhan dasar masyarakat terutama kebutuhan akan listrik,” kata Ansar.

Kegiatan Dinas ESDM dari APBD tahun 2021 ini merupakan lanjutan kegiatan tahun 2020, dengan rincian di Pulau Lengkang, genset kapasitas 100 kVA dengan jaringan berjumlah 185 rumah tangga.

Di Pulau Gare, genset kapasitas 50 kVA dengan jaringan berjumlah 68 rumah tangga, serta Pulau Labon, genset kapasitas 20 kVA dengan jaringan berjumlah 43 rumah tangga.

Ansar juga menjelaskan bahwa kedepannya operasional genset dan jaringan listrik yang saat ini dikelola oleh Pemprov Kepri akan dikerjasamakan bersama PLN dalam bentuk Kerja Sama Operasional (KSO)

“Jika sudah di KSO kan dengan PLN, biasanya listrik dapat beroperasi selama 14 jam dari yang sekarang hanya 6 jam. Dari segi biaya juga pasti lebih murah. Kemudian nantinya untuk pembiayaan penyambungan baru akan diupayakan melalui dana CSR,”tambah Ansar.

Melalui program Kepri Terang, memang sudah ribuan rumah yang teraliri listrik di seluruh Kepri. Dengan kerja sama dengan PLN serta penyambungan baru melalui dana CSR dari berbagai perusahaan di Kepri.

Selain itu Ansar menuturkan bahwa untuk Tahun Anggaran 2022, Pemprov sudah menganggarkan Rp 3 miliar rupiah untuk mengaliri listrik di 8 pulau sekitar Batam, PLN juga akan membantu di 3 pulau.

“Jadi ada total 11 pulau yang akan di KSO kan dengan PLN. Harapan kita adalah semua pulau dapat dilayani PLN supaya pembiayaan lebih murah dan pelayanan lebih baik,” tuturnya.

Ansar juga berjanji akan selalu memperhatikan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dasar masyarakat Kepri. Ia berharap jika kebutuhan dasar, utamanya listrik sudah baik, maka masyarakat dapat melakukan aktivitas ekonomi dan anak-anak dapat belajar dengan lebih baik.(*)