Nasional

Meja Makan, Empat Kursi, Dua Mug, dan Sederet Panjang Kenangan

Saka Praja Adil Prasetya memandang patung sang ayah, Didi Kempot, di Museum Mini Didi Kempot, Solo (29/12). (Narendra Prasetya/Jawa Pos)

Dari baju sampai belangkon, mulai botol minyak angin hingga gelang kesehatan, Didi Kempot hadir di museum sebelah kediamannya di Solo lewat beragam memorabilia. Terinspirasi museum serupa untuk Nike Ardilla.

Reporter: NARENDRA PRASETYA

“KURSI ini yang biasa diduduki papa,” kata Saka Praja Adil Prasetya sembari mendudukinya. Ada meja makan di hadapan anak sulung Didi Kempot dan Yan Vellia itu. Dan, dengan segera ingatannya menghadirkan sederet momen indah bersama sang ayah, musikus legendaris yang berpulang sekitar 1,5 tahun lalu tersebut.

”Tiap makan bersama, aku duduk di kursi di depan kursinya papa, mama di kursi yang di samping papa, dan Seika (Zanithaqisya Prasetya, anak kedua Didi Kempot, Yan Vellia, red) di depan mama,” jelasnya sambil menunjuk satu per satu dari empat kursi yang mengitari meja makan itu.

Meja makan dengan empat kursi itulah yang ”menyambut” siapa saja yang mengunjungi Museum Mini Didi Kempot.

Museum tersebut berada di samping kediaman pelantun Banyu Langit itu di Jalan Kahuripan Utara Raya, Kelurahan Sumber, Solo, Jawa Tengah. Di tempat yang dibuka untuk umum sejak dua hari lalu tersebut, semua kenangan tentang penyanyi berjuluk The Godfather of the Broken Heart itu terangkum.

Di meja makan yang sama, ada dua mug dan satu asbak. Kedua mug merupakan hadiah dari produk susu untuk tulang dan salah satu merek kopi terkenal. “Sepanjang hidup, saya tidak pernah mengganti gelas itu,” sebut Yan Vellia di sela-sela acara pembukaan museum tersebut pada Rabu (29/12), di hari yang sama dengan ulang tahun ke-12 Saka.

Setiap pagi, Didi selalu menyeruput teh hangat buatan Yan Vellia di mug berwarna putih tersebut. Begitu pula saat minta dibuatkan kopi, Didi selalu memakai mug berwarna merah. Asbak kaca selalu menjadi pelengkap momen di meja makan tersebut.

“Asbak itu yang sering menemani Mas Didi Kempot. Hanya dengan merokok, walaupun itu tidak sehat ya, itu yang membuat beliau bisa mencari inspirasi menciptakan karya-karya musik,” kenang perempuan bernama asli Tarbiyah Setyani tersebut.

Dari tangan Didi, memang lahir ratusan karya pop Jawa atau ada yang mengategorikannya sebagai campursari. Penyanyi kelahiran Solo pada 31 Desember 1966 itu berpulang pada 5 Mei 2020 saat kariernya yang dirintis dari jalanan tengah menjulang tinggi.

Penggemarnya melintas batas dan latar. Anak-anak muda, bahkan mereka yang tidak bisa berbahasa Jawa sekalipun, mengidolakannya. Lagu-lagunya yang paling melankolis sekalipun dianggap sebagai obat penawar kegalauan dan patah hati.

Yan mengenang, dirinya dan Didi kerap bertukar pikiran tentang lagu-lagu karyanya di meja makan tersebut. “Karena beliau sangat sibuk sekali ya, meja makan inilah yang selalu membuat kami bisa ketemu. Mau dikemanakan karya-karya dari beliau dan kepiye carane lagu-lagu Jowo (bagaimana caranya lagu-lagu Jawa) tetap bertahan di dunia nasional dan internasional. Itu yang biasa kami obrolkan,” terangnya.

Di luar meja makan dan empat kursi itu, ada baju-baju yang sehari-hari dipakai pemilik nama Didik Prasetyo tersebut. Juga baju-baju beskap yang dikenakan mendiang saat show, baik on air maupun off air. Belangkon yang biasa dipakai adik almarhum pelawak Mamiek Prasetyo itu pun masih tertata rapi di sisi kiri museum tersebut.

Di sisi kanan museum tersimpan barang-barang pribadi milik sang maestro. Mulai benda-benda kecil seperti botol minyak angin, minyak rambut, sisir, bolpoin, arloji, gelang kesehatan yang konon dipakai selama tiga dekade hidupnya, hingga tape recorder yang dibawa-bawa saat syuting klip video.

Piagam-piagam penghargaan dari berbagai pihak juga dipamerkan di ruangan tersebut. Di atas kasur busa yang berada di pojokan ruangan itu. “Beliau lebih suka tidur di bawah, di kasur busa itu,” ungkap Yan.

Yan menyampaikan, museum untuk mendiang suaminya itu terinspirasi museum serupa yang didedikasikan untuk almarhumah penyanyi Nike Ardilla di Bandung. Museum mini tersebut akan dibuka setiap hari. “Kami buka museum ini untuk umum dan takkan dipungut biaya alias gratis,” sebut Yan.

Saat pembukaan museum, mayoritas yang hadir adalah komunitas pencinta Didi Kempot dari beberapa kota di Jawa. Yan memprediksi banyak penggemar Didi Kempot lain yang datang ke museum mini itu sebagai pengobat rasa rindu terhadap pelantun Suket Teki tersebut.

Pemerintah setempat pun konfiden dengan perkembangan museum tersebut. “Kami harap museum ini bisa berkembang dan menjadi destinasi wisata baru di Kota Surakarta. Dan, menjadi salah satu ciri khas wisata di kota ini,” tutur Plt Kepala Dinas (Kadis) Pariwisata Kota Surakarta Aryo Widyandoko. (*)