Metropolis

Cara Imigran di Kota Batam Bertahan Dari Serangan Covid-19

Imigran Demo
Ilustrasi. Imigran Asal Afghanistan saat melakukan unjuk rasa di depan Kantor Wali Kota Batam beberapa waktu lalu. Saat melakukan aksinya mereka menjalankan protokol kesehatan dengan menjaga jarak dan menggunakan masker. Foto: Yulitavia/Batam Pos
Juni 2020 lalu menjadi pengalaman yang tidak terlupakan oleh salah seorang imigran asal Afghanistan, Ali Syafii. Kala itu, pria 24 tahun tersebut dinyatakan sebagai pasien Covid-19. Ia mengaku tidak mengetahui pasti asal muasal virus yang menyerang tubuhnya.
Yulitavia – Batam
Perasaan kalut dan takut terus menghantuinya. Bagaimana tidak virus yang telah banyak merenggut nyawa manusia itu kini bersemayam di tubuhnya. Terlebih minimnya perhatian terhadap para imigran membuatnya semakin gelisah.
Ali mengaku, ia dan 206 imigran lainnya terus berupaya menjaga fisik agar tidak mudah terpapar Covid-19. Namun, nasib berkata lain, dirinya justru menjadi salah satu pasien Covid-19 di Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau.
Ia menjelaskan, aktivitasnya selama berada di penampungan tidak hanya berdiam diri. Tapi juga harus berbelanja ke pasar untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Karena itu pula dirinya kerap bertemu dan bersentuhan dengan banyak orang.
Batuk, sakit kepala, serta hilangnya indra penciuman, menjadi awal ia menduga terpapar Covid-19. Mengetahui kondisi fisiknya tidak fit, Ali langsung mendatangi salah satu Puskesmas yang ada di dekat tempat tinggalnya.
Hasil uji laboratorium menunjukkan ia dinyatakan terpapar virus Covid-19, dan diminta melakukan isolasi mandiri di rumah.
“Positif lalu diminta tidak keluar rumah 14 hari waktu itu. Ketakutan pasti ada ya, karena kami juga baca berita soal Covid-19 ini,” kata dia saat dijumpai di sela-sela aksi demonstrasi, Senin (6/12/2021) lalu.
Menyandang status sebagai imigran memang berbeda dengan warga lokal. Apalagi waktu itu, jumlah kasus Covid-19 di Batam cukup banyak. Tidak ada perlakuan medis serta bantuan yang didapatkan membuatnya mencari cara agar cepat pulih dari virus ini.
Saat ia kembali, ada empat teman satu kamar yang menunggu kepulangannya. Di apartemen ini satu kamar diisi lima sampai enam orang. Imigran secara bergantian, termasuk dalam menggunakan kamar mandi. Satu kamar mandi digunakan untuk delapan orang imigran.
“Mustahil rasanya untuk tidak menularkan virus ini kepada penghuni lain, terutama teman satu kamar,” sebutnya.
Perasaan sedih sudah pasti, namun tetap harus semangat. Untuk mempercepat pemulihan, ia bahkan terpaksa keluar dan mencari warung terdekat dari rumah untuk membeli obat. Butuh waktu dua minggu untuk bisa pulih dari Covid-19.
Ali mengungkapkan, saat itu belum ada program vaksinasi yang didapatkan imigran. Berstatus sebagai imigran membuat ia tidak mendapatkan perlakuan atau bantuan medis dari pemerintah.
“Di saat warga lokal banyak dapat bantuan masker, handsanitizer dan obat-obatan, kami tidak ada, dan harus beli sendiri. Sedih memang,” kata pria yang sudah berada di Indonesia sejak Juli 2014 lalu ini.
Ali memilih meninggalkan keluarganya yang berada di Afghanistan dan Pakistan. Konflik yang tidak kunjung usai, memaksa ia harus pergi dari kota kelahirannya. Sejak awal tiba di Indonesia, ia ditempatkan di Medan. Tidak lama setelah itu, Ali dikirim ke Jakarta, Tanjungpinang, dan terakhir di Kota Batam.
Menunggu tanpa kejelasan status menambah rasa sedih saat terpapar virus. Jauh dari keluarga membuat kondisi mental semakin terganggu. Beruntungya masih ada teman satu kamar dan penghuni apartemen lainnya yang membantu selama proses penyembuhan.
“Satu orang yang kena, sudah pasti kena semua. Karena tempat tinggal kami yang padat,” imbuhnya.

Dari awal terpapar, teman satu kamar Ali yaitu Khan Mohammad, Shapur, Abbas, Jawed, Jawedan saling membantu semalam masa pemulihan.

Meskipun bergejala ringan, Ali menggunakan masker, dan membatasi aktivitas di lantai 2 apartemen. Untuk makanan juga dibantu teman, karena selama masa karantina ia tidak memasak di dapur seperti biasanya.

“Yang satu kamar sudah pasti terpapar, walau tidak dicek. Karena mereka sama saya terus. Tapi kalau mau keluar kamar, kami lihat penghuni lain, agar tidak bersentuhan. Jadi cukup kami saja yang terpapar. Meskipun seiring berjalannya waktu mereka bisa saja jadi pasien berikutnya,” terang Ali.
Ia menjelaskan, setelah menggunakan fasilitas selalu semprot handsanitizer. Kata dia, uang keluar bertambah, karena untuk memproteksi diri harus membeli seluruh peralatan yang dibutuhkan sendiri.
Berbeda dengan warga lokal yang dapat bantuan. Keperluan masker, handsanitizer, dan vitamin harus beli sendiri. Satu kamar saling bantu, ada yang beli masker, ada yang beli obat.
“Kami bagi-bagi saja, biar lebih hemat. Karena satu bulan uang hanya Rp 1.250.000,-. Tentu kami harus berhemat, belum lagi untuk makan. Karena tak ada yang bantu. Jadi kalau bersama bisa lebih murah,” bebernya.
Karena tidak adanya akses pekerjaan, uang yang diberikan IOM harus dipergunakan dengan bijak. Bahkan untuk membeli sepatu, baju, ia harus menabung setiap bulannya. Hal ini sudah dilakukan sejak awal menjadi pengungsi. Dengan biaya yang terbatas, harus bisa bertahan.
Tidak hanya sekali, selang beberapa bulan, tepatnya Januari 2021, ia kembali terpapar virus Covid-19. Kali kedua sebagai pasien membuatnnya lebih tenang.
Hidup berdamai dengan Covid-19 sejak awal sudah berlangsung di kehidupan imigran. Ali bahkan tidak bisa mengabarkan kondisinya kepada keluarga.
Sejak awal tahun ini, keluarga sudah tidak bisa dihubungi. Kondisinya yang belum mendapatkan negara baru menambah kesedihan menjadi imigran saat ini.
“Saya sakit tak bisa kasih tahu mereka. Adik saya juga bulan lalu meninggalkan Afghanistan tidak ada kabar,” ucapnya.
“Dua kali positif, saya rawat diri di rudenim saja. Kalau saya kenapa-kenapa ada kawan yang rawat. Kalau di hotel tak ada yang rawat. Tak ada respon,” kata dia.
Pria yang sudah fasih berbahasa Indonesia ini, memilih menjalani karantina di Rudenim, karena ada pengalaman tidak mengenakkan ketika kawannya menjalani perawatan di salah satu hotel yang ada di kawasan Nagoya.
Ali menceritakan tidak ada petugas medis yang disiagakan dan datang untuk mengecek keadaan salah satu temannya. Karena itu setelah menyelesaikan karantina selama tiga hari temannya yang bernama Jawwed memutuskan untuk kembali ke Rudenim Sekupang.
“Kalau Jawed mati di sana nanti tak ada yang tahu. Jadi walaupun kami takut saat dia kembali, kami tetap rawat dia. Kami pakai masker saja biar tak kena juga. Jadi kami saling rawat di sini. Karena petugas takut mau ke sini,” ia menjelaskan.
Imigran menjadi mandiri dalam mengatasi virus yang masuk ke tempat tinggal dan menyerang mereka. Mendadak mereka bergantian saling jaga, saling ingatkan. hal ini karena tidak ada petugas yang datang.
“Mereka tidak respon. Jadi kami di sini rawat sendiri saja sampai sembuh,” sebutnya.
Sekarang, meskipun sudah divaksin, imigran yang ada di Rudenim tetap beraktivitas menggunakan masker. Hal ini untuk melindungi dari virus Covid-19.
“Kami ke mana-mana pakai masker. Demo pun pakai masker,” selorohnya.
Saat ini Ali bersama ratusan imigran lainnya, tengah berjuang menunggu kejelasan status mereka. Ia beberapa kali turun ke jalan untuk menyuarakan keinginan agar segera dikirim ke negara ketiga.
Khan Mohammad,22, rekan satu kamar Ali, mengatakan, sejak dinyatakan positif, tidak ada yang memisahkan diri dari kamar, hal ini karena semua kamar penuh. Kondisi ini memaksa lima rekan lainnya tetap berada satu ruangan dengan pasien Covid-19.
“Waktu itu kami takut juga, tapi mau gimana lagi. Kami hanya bisa pakai masker dan menjaga diri agar tidak terlalu dekat dengan Ali,” sebutnya.
Selama masa pemulihan, Ali, Khan Mohammad, dan tiga teman lainnya secara bergantian membantu mengambilkan makan, membeli obat keluar, dan bergantian mencuci, masak, bahkan mandi.
Sebisa mungkin membatasi intensitas pertemuan dengan kawan dari kamar lain. Hal ini dilakukan agar mereka tidak ikut terpapar.
Hal yang sama juga diutarakan Fareso,27, yang merupakan rekan satu kamar Ali juga merupakan penyintas Covid-19 menceritakan pengalaman selama terpapar Covid-19.
Kondisi tempat tinggal atau flat yang satu kamar berisikan empat orang membuat virus dengan mudahnya menyebar.
Mendapatkan perlakuan berbeda dari warga lokal, membuat ia dan rekannya harus saling bantu, agar cepat pulih dari Covid-19.
Pria yang sudah tujuh tahun meninggalkan negaranya ini mengaku harus pergi ke apotik untuk membeli suplemen berupa vitamin, untuk menunjang daya tahan tubuh, agar virus ini segera enyah dari tubuhnya.
“Walaupun positif saya terpaksa tetap harus keluar ke apotik untuk cari obat,” ujarnya, Rabu (8/12).
Dengan total penghuni kurang lebih 207 orang, rasanya sulit sekali untuk menjaga protokol kesehatan sepertu yang disarankan pemerintah agar tidak terpapar Covid-19. Satu kamar dihuni tiga sampai empat orang, dengan satu kamar mandi untuk delapan orang.
“Bagaimana mau jaga jarak dan tidak kontak dengan yang lain. Ini kan apartemen, jadi kami pasti terus terhubung satu sama lainnya,” imbuhnya.
Dengan kondisi seperti itu, kalau ada satu kasus positif, sudah pasti semua terpapar. Hanya saja tergantung apakah itu bergejala atau tidak. Kalau terlihat baik-baik saja, anggaplah kebal Covid-19, walaupun kemungkinan terpapar pasti ada.
Selama terpapar Covid-19, sesama imigran saling jaga diri. Untuk mengatasi persoalan Covid-19, masing-masing mencoba untuk berdamai dengan Covid-19. Saling berbagi vitamin, masker, dan hand sanitizer sebagai bentuk proteksi diri terhadap serangan virus.
“Kalau kita punya vitamin tak mungkin makan sendiri, jadi harus bagi bersama kawan-kawan lainnya. Karena kami saling kena,” ucap Fareso.
Secara terus menerus, ia bersama teman lainnya saling rawat. Untungnya virus yang menyerang tidak masuk dalam kategori bergejala. Sehingga masih bisa diatasi dengan baik.
“Kami sudah lapor sama IOM tapi diminta tetap di rumah saja. Padahal kami positif. Karena itu kami jadi kuat bersama,” tambahnya.
Imigran memang harus mandiri, bahkan selama terpapar Covid-19, ia tetap menjalani aktifitas seperti biasanya. Hal ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan seperti makan.
“Kami masak sendiri. Jadi tetap harus ke pasar beli makanan. Jauh ke pasar jodoh (pasar induk di Batam) untuk beli kebutuhan makan. Mau bagaimana lagi, karena tak ada yang antar makanan buat kami, jadi saya tetap ke pasar. Tapi tetap pakai masker,” ceritanya.
Ia menambahkan, imigran juga memiliki rasa takut sama seperti warga lokal terhadap virus ini. Namun karena keadaan, ratusan imigran sudah lebih dulu berdamai dan hidup berdampingan dengan Covid-19.
Kata dia, apabila ada yang mengatakan tidak ada rasa takut, itu bohong. Karena jenis virus yang masuk ini juga berbahaya bagi penghuni Rumah Detensi. Luput dari perhatian pemerintah, membuat ia dan ratusan imigran lainnya harus bertahan melawan virus ini.
“Syukur hari ini sudah tidak ada lagi yang kena Covid-19. Dan kami juga sudah divaksin oleh IOM,” tambah Fareso.
Lanjutnya, di depan masih ada varian baru yang mewabah. Ia berharap, tidak ada imigran yang terpapar virus ini. Untuk itu, meskipun dengan keadaan yang tidak menguntungkan, imigran harus memproteksi diri.
Karena konflik yang tidak berhenti di Afghanistan, saat ini ia tidak bisa menghubungi keluarganya. Hal ini membuatnya semakin frustasi. Wabah ini menyebar di seluruh dunia, dan dia tidak bisa mengabarkan kondisinya kepada orangtua, begitu sebaliknya.
Fareso mengungkapkan saat ini hidup tanpa kejelasan. Berangkat meninggalkan kota kelahirannya 2014 lalu. Lalu Fareso tiba di Malaysia, Jakarta, Medan, dan akhirnya ditempatkan di Batam.
Sekarang, ia mengaku sudah sampai di titik jenuh yang sangat luar biasa. Keterbatasan akses membuatnya kesulitan bertahan dengan kondisi saat ini.
Untuk itu, aksi turun ke jalan diharapkan bisa didengar UNHCR agar segera mengirim imigran ke negara ketiga. Ia khawatir kondisi saat ini membuatnya kehilangan masa depan, terutama anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan.
Dinas Kesehatan Terikat Aturan
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Batam, Didi Kusmarjadi mengatakan perlakuan medis kepada imigran memang tidak bisa dilakukan seperti warga Batam.
Mereka imigran dibatasi, begitupun dengan tenaga medis. Ada aturan yang mengikat untuk pemberian vaksin kepada mereka.
Pemberian vaksin hanya diberikan untuk warga negara Indonesia (WNI). Sedangkan untuk imigran belum ada aturan yang memperbolehkan untuk diberikan layananan vaksin ini.
Memang tidak dipungkiri, mereka juga membutuhkan vaksin untuk memproteksi diri mereka dari virus ini. Namun pihaknya tidak bisa berbuat apa-apa karena ada aturan yang mengikat.
Didi menyebutkan untuk pasien terkonfirmasi Covid-19 dari imigran masuk kedalam kategori warga negara asing (WNA) dan ditempatkan di hotel yang sudah ditunjuk pemerintah.
Mereka tanpa gejala akan dikarantina di hotel yang berada di kawasan Nagoya. Sedangkan untuk warga lokal ditempatkan di rumah susun (rusun) milik pemerintah.
Keterbatasan tenaga medis membuat perlakuan kepada WNA ini juga terbatas. Masifnya penyebaran virus di Kota Batam memaksa pemerintah fokus mengendalikan virus dan melindungi warga lokal. Hal ini bukan berarti WNA terabaikan. Buktinya pemerintah menyiapkan hotel untuk mereka menjalani karantina.
“Ada yang mau dirawat di hotel, ada juga yang memilih tetap kembali ke Rudenim, dan menjalani perawatan sendiri di sana. Jumlah tenaga kesehatan yang terbatas juga tidak bisa mengakomodir semua pasien, termasuk dari kelompok imigran ini,” jelas Didi.
Spesialis kandungan ini menjelaskan untuk pemberian vaksin ini harus dilengkapi dengan NIK kartu tanda penduduk (KTP).
Ratusan imigran ini tidak memiliki dokumen tersebut. Sehingga vaksin dari pemerintah tidak bisa diberikan untuk mereka.
Ia mengakui memang ada di salah satu daerah memberikan perhatian dengan melakukan vaksinasi kepada imigran ini. Pemberian vaksin tersebut diselenggarakan oleh pihak swasta. Sehingga mereka imigran bisa mendapatkan vaksin.
“Kalau di kita belum ada sejauh ini,” imbuhnya.
Reporter: Yulitavia