Metropolis

Kasus Demam Afrika pada Ternak Babi Terdeteksi di Kabil

1 5 e1641821113343
Medik Veteriner Ahli Muda DKPP Bintan, drh. Iwan Berri Prima saat memeriksa kesehatan hewan Babi di Bintan, baru-baru ini. F.Slamet Nofasusanto

batampos- Penyakit African Swine Fever (ASF) atau lebih dikenal dengan demam Afrika pada ternak babi terdeteksi sudah masuk Batam. Tepatnya di Kelurahan Kabil, Kecamatan Nongsa Kota Batam.

BACA JUGA: Tujuh Peternakan Babi Ditertibkan

Berdasarkan data dari DKPP Bintan bahwa pada 15 Desember tahun yang lalu, dilaporkan kematian ternak Babi di Batam. Bahkan, berdasarkan hasil pengujian realtime PCR oleh Balai Veteriner Bukittinggi, dari 4 sampel darah, 1 sampel menunjukkan hasil positif virus ASF.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Bintan, Khairul mengatakan, sebagai daerah yang berbatasan langsung dengan Kota Batam, upaya kewaspadaan ASF di Bintan harus ditingkatkan.

“Kita terus melakukan berbagai upaya untuk mempertahankan Bintan agar tetap bebas ASF,” kata Khairul.

Sementara Medik Veteriner Ahli Muda DKPP Bintan, drh. Iwan Berri Prima menambahkan, pihaknya setidaknya telah tiga upaya dalam menjaga Bintan agar tetap terjaga dari ancaman penyakit ASF.

Iwan Berri Prima menjelaskan, pertama yang dilakukan pengawasan lalu lintas hewan ditingkatkan, pihak Balai Karantina Pertanian (BKP) Kelas II Tanjungpinang sebagai institusi yang menjaga di pintu pemasukan dan pengeluaran memiliki beban dan tugas yang cukup berat. Oleh sebab itu, kerjasama dan koordinasi yang baik, antara dinas kabupaten/kota dengan BKP harus terus dilakukan.

Selanjutnya, masih kata Iwan Berri Prima, ketentuan pengetatan lalu lintas hewan dengan ketentuan pengeluaran babi hidup dari Kota Batam ke provinsi/kabupaten/kota lain hanya boleh dari peternakan yang telah memiliki sertifikat kompartemen bebas ASF dan produk babi dari unit usaha yang sudah disertifikasi Nomor Kontrol Veteriner (NKV). Setiap pemasukan juga harus mendapatkan rekomendasi dari DKPP Bintan.

“Termasuk pengeluaran hewan babi ke Kota Tanjungpinang juga diwajibkan melampirkan SKKH dari dokter hewan. Ini bentuk koordinasi dan kerja sama antara DKPP Bintan dengan Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kota Tanjungpinang,” tambah Iwan Berri Prima.

Kemudian, seluruh instrument kesehatan hewan di Kabupaten Bintan, yang meliputi UPTD RPH dan Puskeswan dan Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian kembali melakukan pemuktahiran data populasi ternak Babi rakyat di wilayahnya.

Selain itu, pihaknya juga mulai menertibkan pemotongan ternak babi di rumah pemotongan hewan babi (RPH-B) atau di tempat pemotongan hewan babi (TPH-B) serta peningkatan kualitas pemeriksaan ante-mortem dan post-mortem termasuk pelaporannya ke dalam aplikasi ISIKHNAS.

Iwan Berri Prima menjelaskan, berdasarkan pedoman Kesiapsiagaan Darurat Veteriner Indonesia (Kiatvetindo) untuk daerah tertular penyakit, pengendalian dan pemberantasan yang harus dilaksanakan meliputi depopulasi (pemusnahan), disposal (mengubur bangkai hewan), desinfeksi kandang (biosecurity) dengan menggunakan desinfektan, penutupan wilayah dan implementasi kompartemen bebas ASF, investigasi kasus, meningkatkan surveylans pasif, pelatihan untuk meningkatkan kapasitas petugas kesehatan hewan, Komunikasi Edukasi dan Informasi (KIE) pada peternak terutama pelarangan pemberian pakan dari sisa restoran atau hotel (swill feeding).

Iwan Berri Prima berharap, semoga Bintan tetap bebas penyakit ASF dan juga penyakit hewan lainnya. Terlebih Bintan adalah daerah yang dikenal dengan kawasan pariwisata Internasionalnya yang harus tetap aman, sehat dan terjaga dari ancaman penyakit. Baik penyakit pada hewan, maupun penyakit yang dapat mengancam kelangsungan kehidupan masyarakatnya. “Hal ini sesuai dengan komitmen Bintan sehat, Bintan gemilang,” ungkap Iwan Berri Prima. (*)

Reporter: Slamet