Metropolis

Erna Warisi Bisnis Penyelundupan Manusia dari Suami

Polda Kepri saat ekspose tersangka Inisial ES Alias E jaringan penyelundup PMI F Humas Polda Kepri 2 e1641974480494
Polda Kepri saat ekspose tersangka Inisial ES Alias E, jaringan penyelundup PMI. F Humas Polda Kepri

batampos – Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Kepri kembali menangkap satu pelaku penampung PMI ilegal jaringan Acing. Dia adalah Erna Esmawati, 33, warga Jalan Merpati, Kota Tanjungpinang, Kepri.

Erna diamankan tim Ditreskrimum Polda Kepri dan dibantu Tim Opsnal Polsek Putri Hijau, Bengkulu Utara, Sabtu (8/1) pukul 17.40 WIB. Selanjutnya pada Minggu (9/1) pukul 12.00 WIB dibawa ke Bandara Fatmawati Soekarno Bengkulu menuju Polda Kepri untuk dilakukan proses penyidikan lebih lanjut.

Erna berperan sebagai penampung dari 8 PMI ilegal yang menjadi korban kapal terbalik di Perairan Malaysia, 15 Desember 2021 lalu, yang menewaskan 21 orang.

Dari pengakuan Erna ke penyidik, dia baru menjalani bisnis saat dihubungi Muliadi alias Long (perekrut PMI wilayah NTB) untuk menampung 8 orang PMI ilegal yang akan diberangkatkan melalui pelabuhan milik Susanto alias Acing. Tersangka yang menampung, memberangkatkan para PMI secara ilegal dan diduga sebagai salah satu pelaku sentral.

“Pelaku ini, Es (Erna) melanjutkan kegiatan ilegal yang dilakukan suaminya. Sebelumnya suaminya telah ditangkap polisi,” kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Kepri, Kombes Jefry Siagian, Selasa (11/1).

Dari informasi yang didapat Batam Pos, suami Erna diamankan Direktorat Polisi Perairan Polda Kepri Maret 2021 lalu. Zaki ditangkap atas kasus yang sama, penyelundupan PMI ilegal ke Malaysia.

Saat ditanya ke Jefry, apakah Zaki termasuk jaringan Acing? Jefry mengatakan, ada keterkaitan. Telebih, saat istrinya melanjutkan usaha penyelenudupan PMI ini, sang istri akhirnya menjadi bagian jaringan Acing.

“Iya, ada yang menyampaikan ke Muliadi alias Long, bahwa istrinya Zaki (Erna) melanjutkan kegiatan suaminya itu, sehingga Muliadi menghungi Erna, untuk menjemput dan menampung para PMI ilegal ini sementara di Tanjungpinang,” ucap Jefry.

Dari kegiatan ini, Erna mendapatkan uang Rp 3 juta. Namun, uang ini dipergunakan untuk kebuthan akomodasi dan biaya makan selama di Tanjungpinang.

Kepada penyidik, Erna mengaku baru sekali membantu penyelundupan manusia ini.

“Es ini mengaku tidak lari, karena memang 10 Desember sudah meninggalkan Batam dan tidak mengetahui dicari polisi,” ujarnya.

Kabid Humas Polda Kepri, Kombes Harry Goldenhardt menambahkan, saat penangkapan Es, polisi juga mengamankan alat komunikasi, ATM dan buku tabungan atas nama ES.

“Es, berperan sebagai pengurus dan memfasilitasi 8 PMI hingga ke luar negeri,” ungkapnya.

Atas perbuatan Es, polisi menjerat dengan Undang-Undang Pemberantasan Tindak Perdagangan Orang dan Undang-Undang Perlinduan Pekerja Migran.

“Ancaman hukumannya 10 hingga 15 tahun, dan denda hingga Rp15 miliar,” ujarnya.

Ia mengatakan, penindakan ini merupakan bentuk keseriusan Polda Kepri, dalam penanganan kasus PMI ini. “Kami akan mengungkap sindikat pekerja ke luar negeri dan mengungkap sampai ke akar-akarnya,” tuturnya. (*)