Metropolis

Dana BOS Juga Dipakai untuk Kepentingan Pribadi

WhatsApp Image 2022 01 03 at 16.31.42 e1641825146105
Mantan Kepala SMA Negeri 1 Batam Muhammad Chaidir (pakai rompi) digiring Jaksa usai ditetapkan sebagai tersangka dugaan tindak pidana korupsi oleh Kejaksaan Negeri Batam, Senin (3/1). F.Yashinta

batampos – Dugaan tindak pidana korupsi dana Bos dan Komite 2017-2019 di SMA Negeri 1 Batam akan memasuki babak baru. Berkas perkara yang menyeret nama M Chaidir sebagai tersangka dugaan korupsi senilai Rp 830 juta dinyatakan lengkap dan tahap 2.

Menurut sumber Batam Pos di Kejari Batam, dugaan kerugian negara Rp 830 juta itu selain digunakan pelesiran, ternyata juga digunakan untuk kepentingan pribadi dan lainnya. Tak hanya Chaidir, uang itu juga digunakan beberapa guru untuk kepentingan pribadi.

“Uang itu digunakan dalam banyak hal selain pelesiran. Ada untuk kepentingan pribadi guru, berkisar Rp 3 juta hingga Rp 35 juta,” ujarnya.

Menurut dia, sebagian dana itu sudah dikembalikan para guru. Namun masih ada yang belum mengembalikan, sehingga penyidik kejaksaan menunggu inisiatif pengembalian kerugiaan negara tersebut.

“Bakal kami tunggu, termasuk dari tersangka Chaidir yang infonya memang akan mengembalikan juga, tapi belum tahu kapan,” ujarnya.

Pengembalian kerugiaan negara, lanjutnya, tak akan menghilangkan tindak pidana korupsi, namun akan jadi pertimbangan hukuman terhadap terdakwa saat penuntutan. Bahkan, sebenarnya para guru bisa dijerat dengan pasal dugaan korupsi, karena tahu uang yang digunakan untuk pelesiran adalah dana bos dan komite sekolah.

“Sebenarnya bisa dijerat karena mereka tahu itu dana bos dan komite. Tapi tak menyangka bakal ditindak Kejaksaan. Kejaksaan tak memproses karena memakai azas keadilan dan kemanusiaan. Karena itu, yang dijerat penangungjawab pengguna anggaran,” terangnya.

Baca Juga: Takut Terseret Kasus, Guru SMA 1 Batam Ramai-Ramai Kembalikan Uang ke Jaksa

Disisi lain, ia tak menampik jika bisa melakukan proses hukum terhadap lainnya, jika ada desakan dari majelis hakim. Dimana pada proses pembuktian, terungkap jika ada pihak lain yang memang terlibat dalam dugaan korupsi tersebut.

“Kalau ada desakan untuk diproses, maka akan kami proses,” ujarnya.

Lalu apakah tak ada keterlibatan pihak lain, dalam sugaan korupsi? Karena tak mungkin soal pemberkasaan dilakukan tersangka Chaidir seorang diri.

“Memang ada keterlibatan pihak lain, tapi atas perintah tersangka. Seperti peran bendahara hanya menerima perintah dari tersangka Chaidir. Tersangka Chaidir juga memalsukan tandatangan ketua komite,” jelasnya.

Masih kata dia, saat ini jaksa fokus untuk proses pelimpahan berkas, yang dalam waktu dekat akan memasuki babak persidangan. Setelah persidangan, barulah mereka akan menyelidiki adanya dugaan korupsi dana bos SMA dan SMK di Kota Batam. Dimana, pihaknya sudah memiliki informasi adanya dugaan korupsi di sekolah-sekolah yang memiliki siswa terbanyak di Batam.

“Untuk sekolah SMA dan SMK lainnya, tunggu tanggal mainnya. Karena memang kami sudah ada informasi,” tegasnya.

Kasi Intel Kejari Batam, Wahyu Oktaviandi membenarkan berkas perkara telah P21 atau lengkap. Karena itu, kemarin, Penyidik Pidsus Kejari Batam menyerahkan berkas perkara dan barang bukti ke Jaksa Penuntut Umum (JPU).

“Hari ini (kemarin, red) proses tahap 2 dugaan tipikor SMA N 1 Batam. Selain barang bukti dan berkas, penyidik juga menyerahkan tersangka ke jaksa penuntut umum,” ujar Wahyu kepada Batam Pos, Rabu (13/1).

Menurut dia, hari ini (Kamis, 14/1), JPU berencana melimpahkan berkas perkara ke Pengadilan Tipikor Tanjungpinang, untuk proses selanjutnya. Sedangkan untuk pemindahan tahanan Kepala SMA N 1 Batam tahun 2012-2019 itu akan dilakukan pada saat persidangan nanti.

“Rencana besok (hari ini) berkas dilimpah ke Pengadilan di Tanjungpinang, untuk tersangka kemungkinan minggu depan. Kondisi tersangka sampai saat ini sehat,” imbuh Wahyu.

Disinggung bagaimana perkembangan proses penyidikan, dikatakan Wahyu masih terus berjalan. Proses penyidikan yang masih berjalan juga tak menutup kemungkinan akan adanya tersangka lainnya.

“Tunggu saja nanti bagaimana proses penyidikan, yang salah pastinya akan diproses,” tegas Wahyu.

Diberitakan Batam Pos sebelumnya, Mantan Kepala SMA Negeri 1 Batam M Chaidir ditetapkan sebagai tersangka dugaan tindak pidana korupsi oleh Kejaksaan Negeri Batam, Senin (3/1). Ia diduga melakukan korupsi Dana Bantuan Operasional Sekolah), biaya operasional dan dana Komite (dana SPP siswa) tahun anggaran 2017 sampai 2019 senilai Rp 830 juta.

Modus yang dilakukan Chaidir diduga dengan cara me mark up dan membuat kwitainsi fiktif. Tak hanya itu, Chaidir juga memalsukan tanda tangan dan lainnya. Salah satu dana diduga digunakan tersangka untuk mengajak para guru dan keluarga berlibur ke Malaysia.

Chaidir diduga melanggar pasal 2 ayat 1 UU No 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan korupsi sebagaimana diubah dan ditambah UU No 20 tahun 2001 jo pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP jo pasal 65 ayat 1 KUHP.

Kemudian pasal 3 UU No 31 tahun 1999 tentang pemberantasan korupsi sebagaimana diubah dan ditambah UU No 20 tahun 2001 jo pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP jo pasal 65 ayat 1 KUHP. Adanya jo pasal 55 yang dikenakan pada pasal Chaidir tak menutup untuk penetapan tersangka lainnya, yakni dilakukan bersama-sama. (*)

 

Reporter: YASHINTA