Pro Kepri

Guru Diminta Tidak Terlalu Berpedoman Pada LKS, Siswa Tidak Wajib Miliki LKS

Siswa SMPN 6 Tanjungpinang usai mengikuti PTM, Kamis( 13/1) f . Peri Irawan

batampos– Tenaga pendidik atau guru tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Tanjungpinang diminta tidak terlalu berpedoman pada buku Lembar Kerja Siswa (LKS) dalam memberikan materi pembelajaran untuk murid di sekolah. Selain sudah ada buku panduan dari pemerintah, LKS kerap menjadi keluhkan oleh murid karena tidak mampu untuk membelinya.

BACA JUGA: Temui Pengurus Gereja, Suardi Harapkan Selama Ibadah Natal Prokes Tetap Diikuti

Wakil Wali Kota Tanjungpinang, Endang Abdullah mengatakan selama ini mutu dan kualitas tenaga pendidikan dan tenaga kependidikan di Kota Tanjungpinang yang selama ini sudah baik, sehingga dituntut untuk lebih kreatif dalam memberikan materi pembelajaran.

“Diharapkan kepada seluruh tenaga pendidik dapat lebih semangat, kreatif dan terus berinovasi dengan sistem pendidikan terutama di masa pandemi,”kata Endang, Kamis (13/1) .

Endang juga berpesan kepada kepala sekolah dan guru agar tidak terlalu berpedoman sepenuhnya pada penggunaan LKS saat memberikan materi di kelas.

“Juga tidak mesti berpedoman sepenuhnya kepada LKS, tapi berikan materi pembelajaran yang menarik bagi anak-anak didik kita baik melalui tatap muka terbatas atau secara daring,” pesan Endang.

Hal senada disampaikan Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Tanjungpinang, Endang Susilawati menyebutkan pembelian LKS untuk proses pembelajaran tidak diwajibkan, sebab setiap sekolah sudah mempunyai buku panduan yang disiapkan pemerintah.

“Terkait proses pembelajaran menggunakan LKS, itu tidak menjadi kewajiban karena sudah mempunyai buku panduan yang disiapkan pemerintah melalu dana BOS,” kata Endang.

Menurut Endang, LKS bagi sebagian siswa juga dinilai memberatkan karena ekonomi orang tua siswa tidak sama, sehingga ada yang tidak mampu untuk membeli LKS.

“Karena tidak semua orang tua siswa mampu membeli LKS untuk anak-anaknya. Untuk itu kepada tenaga pendidik diwajibkan agar lebih kreatif memberikan materi pembelajaran kepada siswa, tanpa berpedoman dari LKS lagi,” tambahnya.

Salah satu orang tua siswa di Tanjungpinang, Yani menyebutkan dirinya cukup keberatan jika anaknya diwajibkan memiliki LKS karena saat ini dua orang anaknya sedang duduk di bangku SD dan SMP. Menurutnya jika hanya satu LKS mungkin tidak begitu berat, namun jika setiap mata pelajaran jumlahnya jadi banyak.

“Iya kalau bisa di tengah kondisi seperti ini guru juga paham dengan kondisi ekonomi orang tua, belum tentu semuanya sanggup beli,” tuturnya. (*)

Reporter : Peri Irawan