Pro Kepri

Pergi Bawa PMI Ilegal, Pulang Bawa Narkoba, Acing Fasilitasi Sindikat Narkoba Internasional

Kapolres Tanjungpinang AKBP Fernando dan jajaran menunjukkan barang bukti narkotika di Mapolres Tanjungpinang, Rabu (12/1). f.yusnadi

batampos- Sepak terjang Susanto alias Acing, tersangka utama penyelundupan pekerja migran Indonesia (PMI) ilegal ke Malaysia, yang kapalnya karam di Perairan Johor Bahru, Malaysia, 15 Desember 2021 lalu dan menewaskan 21 PMI, ternyata tak hanya mengirim PMI ilegal, Acing juga memfasilitasi masuknya narkoba dalam jumlah besar dari Malaysia ke Kepri.

Hal ini terungkap saat Satnarkoba Polres Tanjungpinang meringkus tiga pengedar narkotika di kawasan berbeda di Tanjungpinang dengan barang bukti 1 kilogram (kg) sabu dan 27 butir pil ekstasi.

Kapolres Tanjungpinang AKBP Fernando mengatakan, polisi awalnya mengamankan seorang perempuan inisial ZA di Perumahan Pinang Merah, Tanjungpinang Timur, Selasa (4/1) lalu. Dari tangan ZA, polisi menyita satu butir ekstasi. Saat diinterogasi, pelaku mengaku mendapatkan pil haram dari seorang lelaki inisial BW yang membawa narkotika dari Malaysia.

Polisi kemudian memancing BW datang ke rumah ZA. Benar saja, BW datang ke rumah ZA dan langsung diamankan. Dari tangan BW, polisi menyita sembilan paket sabu serta 23 butir ekstasi.

“Pelaku mengaku membawa 1,5 kg sabu dan 90 butir ekstasi dari Malaysia ke Bintan menggunakan speedboat. Lalu dibawa ke Tanjungpinang,” ungkap Fernando di Mapolres Tanjungpinang, Rabu (12/1).

Kepada polisi, pelaku juga mengaku telah menyerahkan sebagian barang haram tersebut kepada seorang inisial RE. Dari hasil penyelidikan, polisi berhasil menangkap RE di Jalan Pompa Air, Tanjungpinang. Saat penggeledahan, polisi menemukan barang bukti 13 paket sabu serta tiga butir ekstasi.

“Pengakuan pelaku narkoba itu sebagian sudah dikirim ke Batam. Sebagian lainnya akan dikirim ke Kendari, Sulawesi Tenggara,” bebernya.

Polisi kemudian mendalami jalur masuk narkoba yang dibawa BW dari Malaysia. Khususnya speedboat atau kapal cepat yang dipakai untuk menjemput narkoba di Malaysia.

Hasilnya, BW mengakui menyewa speedboat milik Acing dan berangkat melalui Pelabuhan Sei Gentong, Tanjunguban, Bintan Utara, Bintan, Kepri, yang juga milik Acing. “Jadi, pelabuhan itu (Sei Gentong, red), selain digunakan A (Acing) sebagai tempat pemberangkatan PMI ilegal, pelabuhan tersebut juga dijadikan jalur masuknya narkotika dari Malaysia. Rutenya sama dengan yang digunakan saat mengirim PMI yang kapalnya tenggelam di Perairan Balao, Johor, Malaysia itu,” ungkapnya.

Fernando juga mengungkapkan, dari pemeriksaan, BW mengakui pernah memasok narkoba jenis sabu dalam jumlah besar melalui Pelabuhan Sei Gentong, Bintan itu. “Sebelum memasok 1 kg sabu dan 90 butir pil ekstasi ini, dari pemeriksaan, BW mengakui pernah memasok 8 kilogram sabu dari Malaysia menggunakan sepedboat A melalui pelabuhan A juga.”

Saat menjemput sabu 1 kg dan 90 butir ekstasi ke Malaysia, lanjut Fernando, BW membayar biaya sewa kapal sebesar Rp 3,5 juta milik Acing yang telah ditetapkan tersangka dan ditahan di Polda Kepri atas meninggalnya 21 PMI ilegal di Johor Bahru tersebut.

“Pulangnya menggunakan jasa pancung nelayan. Ia membayar pakai sabu seberat 1 ons 20 gram. Jadi, bayarnya pakai sabu,” ujar Fernando.

Saat ini, polisi masih melakukan pengembangan guna mengungkap jaringan narkotika internasional tersebut. Juga tak menutup kemungkinan ditelusuri sejauh mana keterlibatan A dalam pengiriman narkoba jaringan internasional dari Malaysia ke Kepri.

“Iya, saat ini kami masih melakukan pengembangan untuk menangkap jaringannya,” tegas Kapolres.

Atas perbuatannya, tiga pelaku dijerat Pasal 114 ayat 2 dan Pasal 112 ayat 2 Jo Pasal 132 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Pelaku terancam pidana lima tahun hingga 20 tahun penjara.

Sementara itu, Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI), dalam investigasinya menyebut ada keterlibatan oknum aparat dalam pengiriman tenaga kerja Indonesia (TKI) ilegal ke Malaysia.

Selain oknum anggota TNI Angkatan Udara dan Angkatan Laut, terbaru, diduga ada keterlibatan oknum anggota polisi di Polres Bintan dalam bisnis ilegal ini.

Kabid Humas Polda Kepri, Kombes Pol Harry Goldenhardt, mengatakan, pihaknya sedang menelusurinya. “Sedang didalami,” kata Harry singkat.

Informasi yang diperoleh Batam Pos, oknum anggota polisi yang diduga ini sejauh ini ada empat orang. Mereka dari bintara dan perwira.

Diberitakan sebelumnya, kasus ini menjadi perhatian setelah boat yang mengangkut puluhan TKI Ilegal tenggelam di perairan Malaysia yang menewaskan 21 orang. Kemudian, polisi menangkap beberapa pelaku yang terlibat, termasuk Acing, pemilik boat sekaligus pemilik Pelabuhan Sei Gentong di Tanjunguban, Bintan Utara, Bintan, Kepri.

Selain Acing, tim gabungan Polda Kepri, Satgas Penanganan PMI, dan Mabes Polri sudah menangkap empat orang lainnya yang masuk jaringan Acing untuk pengiriman PMI ilegal ini. Masih ada tujuh orang terduga yang masih dalam pengejaran. (*)

REPORTER: YUSNADI NAZAR-SLAMET NOFASUSANTO