Nasional

Tahapan Produksi Massal Dimulai Pekan Depan

Metode RT-LAMP (reverse transcription loop mediated isothermal amplification) merupakan inovasi dari Pusat Riset Kimia – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

batampos – Indonesia sebentar lagi memiliki perangkat alternatif untuk deteksi Covid-19 buatan dalam negeri, seakurat RT-PCR (real time polymerase chain reaction). Perangkat bernama reverse transcription loop mediated isothermal amplification (RT-LAMP) sudah mengantongi izin edar dan mulai tahapan produksi massal pekan depan.

Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Teknik (OR IPT) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Agus Haryono menuturkan, setelah mengantongi izin edar dari pemerintah, rangkapan perjalanan produksi massal alat RT-LAMP tersebut sudah bisa dimulai.

’’Betul (sudah bisa produksi massal, Red). Nanti yang akan memproduksi adalah mitra industri kami,’’ katanya di Jakarta kemarin (13/1). Agus mengatakan dalam waktu dekat akan dilakukan perjanjian kerjasama lisensi antara BRIN dengan mitra industri. Dia memperkirakan perjanjian kerjasama itu bisa dilakukan pekan depan.

Dia mengatakan BRIN tugasnya sebagai lembaga riset dan inovasi. Agus tidak bisa menyampaikan harga alat tersebut. Termasuk juga biaya tes Covid-19 yang menggunakan RT-LAMP. ’’Terkait harga jual adalah kewenangan dari pihak mitra industri yang nanti memproduksi massal,’’ jelasnya. Tapi yang jelas Agus memastikan biayanya lebih murah dibandingkan dengan RT-PCR yang ada selama ini.

Agus menuturkan dengan masuknya Covid-19 varian Omicron di Indonesia, tentu harus diantisipasi penyebarannya. Diantaranya dengan memaksimalkan upaya testing dan tracing. Dia berharap untuk kegiatan testing dan tracing tersebut, pemerintah juga menggunakan metode RT-LAMP karya anak bangsa.

Peneliti kimia BRIN yang terlibat dalam inovasi RT-LAMP Tjandrawati Mozef membenarkan bahwa setelah mengantongi izin edar, tahapan berikutnya adalah produksi massal atau komersialisasi. Untuk tahapan komersialisasi itu, mereka bekerjasama dengan PT Biosains Medika Indonesia. ’’Untuk (jumlah) pemesanan, saya belum tahu update dari mitra. Karena izin edarnya memang baru saja keluar,’’ katanya.

Tjandrawati berharap alat tersebut bisa dimanfaatkan oleh masyarakat luas. Selaku peneliti, dia mengatakan dari sisi biaya selama pengujian di laboratorium, cost untuk RT-LAMP lebih murah dibandingkan RT-PCR. Dia juga berharap dokumen hasil pengujian Covid-19 berbasis RT-LAMP bisa dijadikan dokumen syarat perjalanan udara maupun darat di Indonesia.

Business Development and Legal Manager PT Biosains Medika Indonesia Arief Muhammad Sigit yang juga kepala projek yang ditunjuk untuk RT-LAMP belum memberikan rincian harga perangkat tersebut. Termasuk juga soal kapasitas produksinya. ’’Untuk saat ini masih menunggu arahan selanjutnya dari pemerintah,’’ jelasnya. Meskipun lebih murah dibandingkan RT-PCR, biaya tes Covid-19 berbasis RT-LAMP selisihnya tidak sangat jauh. (*)

Reporter: JP Group