Ekonomi & Bisnis

Pelemahan Rupiah terhadap Dolar AS, Tidak Berpengaruh Signifikan 

ILUSTRASI: Nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)

batampos – Perdagangan nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih tetap mengalami pelemahan hingga Rabu (19/1) kemarin. Diperkirakan pelemahannya akan berlanjut hingga beberapa hari ke depan. Mengutip kurs tengah Bank Indonesia (BI) posisi rupiah terbaru berada di level Rp 14.325 per dolar AS.

Analis keuangan Ariston Tjendra mengatakan, tekanan berlanjut terhadap rupiah seiring dengan semakin tingginya yield obligasi pemerintah AS. Yield tenor 10 tahun sudah menyentuh 1,88 persen, level tertinggi dalam 2 tahun.

“Antisipasi pasar terhadap kenaikan suku bunga acuan AS telah mendorong yield obligasi pemerintah AS terus naik,” kata Ariston kepada JawaPos.com (Grup Batam Pos, red), Rabu (19/1).

Ariston memaparkan, penurunan besar indeks saham AS semalam juga menambah sentimen negatif untuk aset berisiko. Tak hanya itu, harga minyak yang tinggi di kisaran USD 86 per barel juga bisa menekan rupiah karena bisa menurunkan surplus neraca perdagangan Indonesia dimana Indonesia adalah importir minyak.

“Rupiah mungkin bisa tertekan ke arah 14.360-14.380 dengan potensi support di kisaran 14.320,” ujarnya.

Sementara itu, di tempat terpisah, Menteri Koordinasi bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menyebutkan, kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) terhadap kurs rupiah tidak terlalu berpengaruh secara signifikan. Sebab, ekonomi nasional saat ini dalam keadaan yang cukup baik.

”Menurut saya tidak akan terlalu banyak,” ujar Luhut dalam acara Peluncuran Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia 2022.

Dia menyebutkan, Indonesia menjadi salah satu negara di dunia yang ekonominya paling baik dalam menyeimbangkan antara penanganan pandemi Covid-19 dan pemulihan ekonomi.

BACA JUGA: Nilai Tukar Rupiah Mungkin Masih Bisa Menguat

”Kita termasuk ekonomi yang paling baik di dalam mengendalikan keseimbangan dengan Covid-19 ini,” tuturnya.

Dia pun menjabarkan, salah satu bukti ekonomi Indonesia sedang dalam kondisi baik tercemin dari sisi neraca perdagangan Indonesia yang menorehkan rekor. Nilai ekspor tahun lalu menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah yaitu sebesar USD 233 miliar, sementara Impor juga tinggi yaitu sebesar USD 193 miliar. Berdasarkan capaian ekspor dan impor tersebut, Luhut optimis moneter AS tidak terlalu berdampak pada ketahanan nilai tukar rupiah.

”Karena kita punya dolar makin banyak. Ini semua kerja kita semua,” tutupnya. (*) 

Reporter: JP Group