Metropolis

PMI Ilegal Direkrut dari Jawa Barat dan Lampung

Kapal Karam PMI
Ilustrasi: Kapal pembawa PMI yang tenggelam di perairan Malaysia. Foto: Bakamla RI

batampos – Sebelas Pekerja Migran Indonesia (PMI) wanita yang diselundupkan Selasa (18/1) malam dari Belakangpadang yang kapalnya ditemukan karam di Perairan Pontian, Malaysia, Rabu (19/1) dini hari, ternyata direkrut dari Jawa Barat, Jateng, Lampung, dan Sumatera Selatan.

“Benar, mereka dari Jabar, Lampung, dan Sumsel. Semuanya berjenis kelamin perempuan,” ujar Kasi Perlindungan dan Pemberdayaan BP2PMI Kepri, Darman Sagala, Kamis (20/1).

Darman juga menyebutkan, identitas PMI yang selamat dan meninggal dunia sudah diketahui. PMI ilegal yang meninggal dunia yakni Elma Febriani (Indramayu/Jawa Barat), Kasiah (Banyuasin/Sumatera Selatan), Wulan (Bandung/Jawa Barat), Yuliatin (Bandar Lampung), Ratna (Indramayu/Jawa Barat), dan Wader (Indramayu/Jawa Barat).

Sedangkan korban yang berhasil diselamatkan Wahyuni (Semarang/Jawa Tengah), Anifah (Indramayu/Jawa Barat), Rosdiana (Lampung Utara), Azirah (Indramayu/Jawa Barat), dan Mila (Indramayu/Jawa Barat).

Sedangkan dua orang laki-laki sebagai tekong, M Syahrul dari Pulau Jaloh, Batam, dan Rafsandhani dari Pulau Terong, Batam.

Darman mengatakan, berdasarkan keterangan dari para korban, mereka berangkat 18 Januari sekitar pukul 19.00 dari Pulau Terong, Belakangpadang. Para calon PMI ilegal ini bertolak dari Batam menuju ke Pontian, dermaga api-api. Kapal yang dinaiki oleh para PMI ini berbahan fiber dengan mesin 200 horse power.

Setelah 2 jam perjalan, kapal ini memasuki wilayah Malaysia. Namun, saat akan memasuki wilayah perairan Pontian, kapal ini menabrak batu besar. Kapal berbahan fiber ini pecah dan tenggelam.

Nelayan yang berada di dekat lokasi kejadian berusaha menyelamatkan para PMI ilegal ini. Namun, hanya berhasil menyelamatkan 5 orang perempuan dan dua orang laki-laki.

Berdasarkan keterangan para korban yang selamat, disebutkan bahwa yang merekrut mereka dari Indramayu seseorang bernama Nining, sedangkan Jack perekrut dari Jakarta dan Lampung. Lalu, seseorang bernama Nanang perekrut dari Batam. Pemilik boat disebut-sebut bernama Yus.

“Mereka ini dijanjikan sebagai pembantu rumah tangga, dijanjikan diberangkatkan melalui jalur legal. Tapi faktanya melalui jalur ilegal,” ungkap Darman.

Kasubdit Gakkum Polda Kepri, AKBP Nanang Indra Bakti mengatakan, kepolisian sudah berkoordinasi dengan aparat Malaysia. Para pelaku yang merekrut dan menampung para PMI ini sedang dalam pengejaran kepolisian.

“Jajaran kepolisian masih sedang bekerja,” ujar Nanang.

Seperti diberitakan sebelumnya, enam PMI tewas, tujuh selamat (dua tekong) setelah boat pancung yang ditumpangi dari Belakangpadang terbalik di Perairan Pontian, Johor, Malaysia.

“Pati (pendatang tanpa izin, red) ini bergerak dari Pulau Jaloh, Batam, dikendalikan dua tekong, membawa 11 pati. Semuanya warga Indonesia yang diselundupkan secara haram ke negeri ini,” ujar Laksamana Pertama Maritim Nurul Hizam Zakaria, pengarah Maritim Johor, Malaysia, Rabu (19/1), di Pontian, Johor.

Otoritas Maritim Johor kemudian melakukan pencarian dan berhasil menemukan dua mayat PMI sekitar pukul 02.35 waktu Johor (19/1). Kemudian menyusul ditemukan empat mayat lagi pukul 03.00 dini hari waktu Johor.

Sedangkan, dua tekong dan lima PMI lainnya ditemukan selamat oleh nelayan Malaysia di Pulau Pisang, Malaysia. Mereka sudah diamankan kepolisian Malaysia untuk diproses hukum.

Konsul Polri KJRI Johor Bahru, Kompol Taufik H.A. juga membenarkan tenggelamnya boat yang mengangkut WNI saat mencoba masuk ke Malaysia secara ilegal di Perairan Pontian, Johor, di dekat Pulau Pisang, Malaysia.

Ia mengatakan, informasi awal diterima Konsul Polri dari APMM (Agensi Penguatkuasaan Maritim Johor) dan IPD (semacam Polres) Pontian bahwa boat tenggelam sekitar 0,3 NM sebelah Barat Daya Pontian Besar, akibat cuaca buruk.

“Tim SAR/MRSC Johor Malaysia selaku koordinator SAR menyampaikan, total isi boat 13 orang. Enam meninggal dunia (semua perempuan) dan 7 orang selamat (2 laki-laki, 5 perempuan),” ujar Taufik.

Taufik menambahkan, PMI itu berangkat dari kawasan Pulau Terong, Blakangpadang, Batam. “Ini hasil keterangan dari WNI yang selamat,” ujarnya. (*)

 

Reporter: FISKA JUANDA