Pro Kepri

Regulasi Berubah-ubah jadi Penghambat Investasi Besar KEK Galang Batang

Robert Sianipar

batampos-Meskipun sudah menelan biaya investasi sebesar Rp18 triliun, namun investasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Galang Batang, Bintan masih belum sesuai target. Saat ini, PT. Bintan Alumina Indonesia (BAI) masih kesulitan untuk membangun smelter disebabkan regulasi yang berubah-ubah.

BACA JUGA: PT Pelabuhan Kepri Minta Kelola Pelabuhan Pelantar Dua, Pelabuhan di Sungai Riau, Tanjunguban dan di Penangi

“Sampai saat ini, kita masih belum memiliki smelter untuk mengolah Smelter Grade Alumina (SGA) menjadi Alumina Ingot. Penyebabnya masih terkendala pada regulasi yang berubah-ubah,” ujar Senior Advisor PT. BAI, Robert Sianipar, Minggu (23/1) malam di Tanjungpinang.

Mantan Staf Ahli Menko Perekonomian Bidang Hubungan Ekonomi dan Kemaritiman tersebut menceritakan, Pemerintah RI telah melakukan penjajakan wilayah Galang Batang sebagai wilayah investasi sejak tahun 2013 lalu. Namun pemerintah melalui Menko Perekonomian sangat hati-hati dalam memberikan izin kepada investor karena posisi Galang Batang yang berdekatan dengan kawasan pariwisata Bintan Resort di Lagoi.

“Industri pengolahan alumunium jika berdekatan dengan kawasan pariwisata akan saling mempengaruhi. Dikhawatirkan adanya emisi dapat mengganggu dunia pariwisata. Ini menjadi pekerjaan rumah, namun akhirnya mendapat pembuktian adanya produksi SGA dengan teknologi terkini, tidak mengeluarkan emisi sehingga dapat beroperasi berdampingan dengan kawasan pariwisata” jelasnya.

Menurutnya, KEK Galang Batang mendapat lampu hijau dari Pemerintah pusat dengan terbitnya PP No. 42 Tahun 2017 tentang Kawasan Ekonomi Khusus Galang Batang. Sebelumnya PMA memilih lokasi Galang Batang, Kepri, tentunya dengan berbagai pertimbangan keunggulan-keunggulan yang dimiliki Kepri.

Disebutkannya, pertama daerah Kepri yang masuk dalam Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) I yang mana jika keluar perairan akan langsung ke perairan internasional. Kedua, kondisi leadership di Kepri cukup akrab dan ramah kepada investor. Yang mana multiplayer effectnya akan meningkatkan kesejahteraan dan perekonomian secara keseluruhan.

Untuk diketahui, industri alumunium berasal dari bahan baku bauksit yang diproses melalui empat tahapan sehingga menghasilkan alumina. Di PT. BAI, alumina yang diproduksi merupakan Smelter Grade Alumina (SGA). Alumina ini merupakan bahan baku penghasil alumunium ingot yang diperlukan oleh industri-industri besar seperti pesawat terbang, kereta api, dan mobil. Hilirisasinya juga akan lebih banyak lagi seperti bahan baku wadah minuman kaleng, juga alumunium foil.

BACA JUGA: Investasi di Karimun Berkurang Rp8 Triliun

“Saat ini, PT. BAI sudah memiliki alumunium refinery untuk memproduksi SGA yang mana produksi tersebut sudah mulai diekspor. Proyeksi ke depan PT. BAI juga akan membangun alumunium smelter unutk memproduksi alumunium ingot,” jelasnya lagi.

Lebih lanjut katanya, kedepan PT. BAI menargetkan akan memproduksi 2 juta ton SGA yang dapat menghasilkan 1 juta ton alumunium ingot. Target tersebut direncanakan akan tercapai pada tahun 2027 dengan rincian produksi 250 ribu ton ingot di tahun 2025, 250 ribu ton di tahun 2026 dan 500 ribu ton di tahun 2027. (*)

Reporter: Jailani