Metropolis

Bayam Menjadi Salah Satu Penyebab Inflasi di Kota Batam

Harga Sayur
Ilustrasi. Warga membeli sayur mayur di Pasar Botania, Batam Center. Komoditas utama penyumbang inflasi di Kota Batam adalah minyak goreng, angkutan udara dan sayur bayam. Foto: Iman Wachyudi/Batam Pos

batampos – Pada April 2022 Kota Batam mengalami inflasi 1,12 persen dan secara tahunan Batam mengalami inflasi sebesar 4,39 persen years on years (yoy).

Wakil Ketua Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Kepri, Musni Hardi K Atmaja, mengatakan, komoditas utama penyumbang inflasi di Kota Batam adalah minyak goreng, angkutan udara dan sayur bayam.

“Memasuki bulan Mei 2022, tekanan inflasi diperkirakan akan berkurang,” ujarnya melalui pernyataan resminya yang diterima Batam Pos, Selasa (10/5/2022).

Namun lanjutnya, terdapat beberapa risiko inflasi yang perlu diwaspadai.

Antara lain:

1. Dampak lanjutan dari kenaikan harga bahan bakar minyak terhadap kenaikan barang dan jasa lainnya.

2. Gangguan cuaca terhadap hasil panen komoditas hortikultura.

“Sehubungan dengan hal tersebut, upaya pengendalian inflasi oleh TPID pada Mei akan difokuskan untuk memastikan ketersediaan stok pangan dan BBM,” katanya.

Serta menjaga kelancaran distribusi barang, dan memastikan keterjangkauan harga dengan terus memastikan kelancaran aktivitas bongkar muat dan ketersediaan stok bahan pangan.

Serta optimalisasi kerja sama antar daerah (KAD). Dalam jangka panjang lanjutnya, TPID akan terus mendorong upaya pengendalian inflasi dengan meningkatkan kapasitas produksi lokal melalui penguatan kelembagaan nelayan/petani, perluasan lahan dan implementasi teknik budidaya yang lebih baik.

Seperti Program Lipat Ganda, program urban farming, dan digital farming kepada petani dan nelayan.

“TPID juga akan terus mendorong pemasaran bahan pangan secara online yang diintegrasikan dengan pembayaran secara digital (QRIS),” jelasnya.

Sementara itu kata dia, Indeks Harga Konsumen (IHK) Kepulauan Riau (Kepri) secara bulanan mengalami inflasi sebesar 1,09 persen mont to mont (mtm) atau lebih tinggi dibandingkan bulan Maret 2022 yang mengalami inflasi sebesar 0,68 persen mtm.

“Inflasi terutama didorong oleh kenaikan harga kelompok bergejolak (volatile food) dan kelompok yang harganya yang diatur oleh pemerintah (administered prices) utamanya minyak goreng dan angkutan udara,” katanya.

Pada saat yang sama kata dia, IHK Nasional juga tercatat mengalami inflasi sebesar 0,95 persen (mtm), lebih tinggi dibandingkan inflasi bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0,66 persen (mtm).

Dengan perkembangan tersebut, secara tahunan Kepri pada April 2022 mengalami inflasi sebesar 4,28% (yoy), atau meningkat dibandingkan Maret 2022 sebesar 3,24% (yoy), dan berada di atas rentang sasaran inflasi Nasional sebesar 3 ± 1% (yoy).

“Inflasi di Kepri pada April 2022 bersumber dari kenaikan harga komoditas kelompok makanan, minuman dan tembakau utamanya minyak goreng,” tuturnya.

Sementara itu, kenaikan harga sayur-sayuran seperti bayam dan kangkung yang disebabkan oleh faktor cuaca yang berpengaruh terhadap penurunan pasokan.

Sedangkan Kota Tanjungpinang lanjutnya, mengalami inflasi 0,83% (mtm). Dengan perkembangan tersebut, secara tahunan Kota Tanjungpinang mengalami inflasi sebesar 3,39% (yoy).(*)

Reporter: Messa Haris