Nasional

IDAI dan Kemenkes Koordinasi Selidiki Hepatitis Akut

Ilustrasi hepatitis (iStock)

batampos – Investigasi kasus hepatitis akut yang menimpa pada 15 anak di Indonesia masih terus diinvestigasi. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) meminta agar masyarakat untuk terus melakukan pencegahan penularan dengan pola hidup sehat dan bersih (PHBS). Sebab penyebab pasti penyakit ini masih belum ditemukan.

Ketua Umum IDAI Piprim Basarah Yanuarso SpA(K) kemarin (10/5) menyatakan bahwa IDAI dan Kementerian Kesehatan masih menyelidiki penyebab hepatitis akut ini. Yang dilakukan adalah surveilan untuk mendeteksi secara dini. ”Setiap senin kami lakukan koordinasi dengan IDAI cabang diseluruh daerah,” ungkapnya kemarin.

Dari koordinasi dengan IDAI cabang pada Senin lalu (9/5) elum banyak laporan. Kasus di Tulungagung dan Sumatera Barat juga belum masuk kriteria probable hepatitis akut. Piprim pun meminta masyarakat tetap tenang dan melakukan PHBS.

Dia pun telah memberitahukan kepada seluruh dokter anak untuk cepat merespon jika ada gejala hepatitis akut. Misalnya BAB berwarna pucat dan tubuh kuning. Langkah yang harus dilakukan adalah tes fungsi hati. Dia minta agar setiap gejala direspon agar dapat tertangani secara dini.

Ketua UKK Gastro-Hepatologi IDAI dr Muzal Kadim SpA(K) kemarin menyatakan bahwa adenovirus yang selama ini diduga menjadi penyebab hepatitis akut sebenarnya memberikan efek ringan. Misalnya diare dan muntah yang bisa sembuh dalam dua atau tiga hari. ”Namun WHO sudah umumkan KLB jadi kita waspada,” ujarnya.

Dia menekankan bahwa sampai sekarang belum jelas penyebab penyakit ini. Sehingga belum ada rekomendasi khusus untuk pembelajaran tatap muka (PTM). ”Bukan berarti kita menunggu kasus berat dulu. Tapi hanya menunggu bukti karena harus teliti,” ujarnya. Kebijakan ini bisa berubah sewaktu-waktu jika diperlukan.

Anggota Komisi IX DPR RI Okky Asokawati mengatakan, pemerintah harus bertindak cepat dalam merespons persoalan kasus hepatitis akut. Respons cepat dibutuhkan untuk memberi ketenangan kepada masyarakat dan menjadi tindakan preventif atas munculnya penyakit tersebut.

Menurut dia, komunikasi publik pemerintah dalam menanggapi hepatitis akut harus satu narasi yang solid, sistemik dan terukur. “Mulai dari pemerintah pusat hingga pemerintah daerah,” kata Ketua DPP Bidang Kesehatan Partai Nasdem itu

Menurut Okky, selain persoalan komunikasi, langkah edukasi yang sifatnya preventif dapat ditingkatkan dengan menggandeng berbagai stakeholder di masyarakat. Langkah itu bisa dilakukan sembari menunggu perkembangan terkini mengenai jepatitis akut di Indonesia.

Pemerintah harus segera melakukan konsolidasi dengan melibatkan dokter spesialis anak, dokter spesialis penyakit dalam, serta unit pendidikan dari tingkat pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga SMA dengan melibatkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk meningkatkan aspek pencegahan

Okky menyebutkan, dalam menangani kasus penyebaran hepatitis akut, pemerintah dapat belajar ketika melakukan penanganan kasus Covid-19 pada 2020 lalu. “Semua dilakukan agar dapat lebih mengedepankan aspek preventif dalam merespons keberadaan hepatitis akut,” tuturnya.

Temuan kasus hepatitis akut di sejumlah negara termasuk dugaan yang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia harus dijadikan bahan dalam merumuskan kebijakan publik di bidang kesehatan.

Okky juga mengingatkan, pemerintah harus belajar dari dinamika dalam perumusan kebijakan saat merespons pandemi Covid-19 lalu. Menurut dia, sikap preventif jauh lebih baik dilakukan untuk mengurangi ekses ekstrem yang muncul. Sikap preventif dan terukur harus dikedepankan sembari memberi informasi yang tepat ke publik. “Ketenangan publik juga menjadi aspek penting dalam merespons keadaan saat ini,” tandasnya. (*)

Reporter: JP Group