Nasional

PMK Hewan Tak Menular ke Manusia

Syahrul Yasin Limpo. (Dok Jawa Pos)

batampos – Penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan yang terjadi di sejumlah wilayah di Jatim cukup mengkhawatirkan. Kementerian Pertanian berupaya untuk menekan penyebaran ke ternak yang lebih luas. Penyakit ini tidak menular ke manusia.

PMK memiliki tingkat penyebaran yang cepat pada hewan. Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo menegaskan bahwa penyakit ini tidak menular ke manusia. “Kita harus maksimal melakukan sosialisasi kepada masyarakat bahwa penyakit ini tidak menular pada manusia,” ujarnya.

Syahrul mengatakan bahwa pihaknya melalui Pusat Veteriner Farma (Pusvetma) di Surabaya tengah melakukan penelitian lanjutan untuk memastikan tingkat dan jenis serotype PMK. ”Kita bisa identifikasi ini pada level berapa, jenisnya seperti apa,” katanya. Dengan hasil laboratorium tersebut, pemerintah akan lebih mudah menentukan vaksin yang tepat. Vaksin ini digunakan untuk hewan. Syahrul menekankan bahwa vaksin yang digunakan akan diupayakan buatan dalam negeri.

Pada kesempatan lain, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menuturkan bahwa pihaknya sudah diskusi dengan badan kesehatan dunia (WHO) dan organisasi kesehatan hewan dunia (OEI). Budi ingin memastikan bahwa penyakit ini hanya terjadi pada hewan dan tidak menular pada manusia. “Untuk penyakit ini hanya di hewan berkuku dua,” bebernya.

Budi menyatakan bahwa ada penyakit kaki, mulut, dan tangan ada yang menyerang manusia. Namun jenisnya berbeda dengan PKM pada hewan.

Epidemiolog dari Universitas Grifth, Australia, Dicky Budiman juga meyakinkan bahwa penyakit ini kecil kemungkinan menular ke manusia. Namun ini tidak boleh jadi alasan untuk lengah. Dia meminta semua pihak belajar dari Covid-19. ”Zoonotic virus dari hewan saja bisa berbuah dari hewan ke manusia,” tuturnya.

Apalagi perilaku manusia dan ekosistem yang terus berubah. Ini menimbulkan kerawanan adanya penularan penyakit hewan ke manusia. ”Harus belajar dari pandemi, fokusnya tidak hanya kesehatan manusia saja namun juga kesehatan hewan dan lingkungan,” beber Dicky. (*)

Reporter: JP Group