Nasional

Penyakit Mulut dan Kuku Berdampak pada Stok Sapi Idul Adha

 

batampos – Meski sebaran penyakit mulut dan kuku (PMK) masih terjadi, namun hal itu diyakini tak mengganggu stok dalam waktu dekat. Ketua Umum Jaringan Pemotongan dan Pedagang Daging Indonesia (Jappdi), Asnawi, menuturkan, hingga saat ini belum ada dampak yang dirasakan di sektor penjualan dan pemotongan daging. Sebab, kasus PMK mayoritas ada di Jatim.

“Memang Jatim sebagai (salah satu) pemasok sapi terbesar di Indonesia yang memasok menyebar di wilayah Indonesia, termasuk Jakarta, Banten, dan Jabar. Cuma, kontribusinya tidak besar,’’ ujarnya kepada Jawa Pos (grup Batam Pos), Kamis (12/5/2022).

DOKTER hewan meme-riksa kese-hatan sapi di salah satu lokasi peternakan di Jakarta, Kamis (12/5).
F. HARITSAH ALMUDATSIR/JAWA POS

Asnawi menyebut, pangsa pasar sapi Jatim ada di Kalimantan, Sumatra, Medan, Lampung, Padang, Jambi, dan lainnya. Sedangkan, untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya, sapi-sapi yang dipasok harus bersaing dengan pemasok lainnya, terutama pasokan dari impor.

“Sehingga, kapasitas jual Jatim kemari (Jakarta dan sekitarnya) tidak terlalu tinggi,’’ jelasnya.

Dia menuturkan, sejak sapi impor masuk tiga dasawarsa lalu, kebutuhan sapi impor untuk wilayah Jabodetabek dan Bandung Raya terus meningkat. Dari sebelumnya 60 persen menjadi 93 persen. Sehingga, mayoritas kebutuhan daging sapi di wilayah tersebut diperoleh dari sapi impor dari Australia.

Artinya, di Jabodetabek hingga saat ini belum ada dampak dari kasus PMK yang terjadi.

“Dampaknya baru di Surabaya dan Jatim,’’ imbuhnya.

Terkait dengan momen Idul-adha yang jatuh pada Juli mendatang, Asnawi menyebut, kemungkinan akan ada dampak. Sebab, biasanya akan ada sapi pasokan dari Jatim yang dipasok ke berbagai wilayah.

Namun, kondisi lockdown tentu juga diperhitungkan. “Meski di-lockdown bisa diantisipasi (dapat) sapi dari daerah lain. Kalau dari Jatim itu bisa dapat sapi dari Madura, sapi Madura masuk kategori kebutuhan kurban ke Jabodetabek. Karena dari spek timbang hidupnya masuk kate-gori nilai jual tinggi,’’ jelasnya.

Asnawi melanjutkan, pada momen kurban, masyarakat cenderung mencari sapi dengan spek harga di bawah Rp 20 juta. Saat ini, spek sapi di bawah Rp 20 juta sangat minim dicari. Kini, kisaran harganya ada di Rp 21 – Rp 23 juta.

“Itu harga minimal. Di atas itu ya lebih mahal. Bobot hidupnya kisaran 250-300 kg. Mengapa mahal? Karena sekarang juga terjadi kenaikan harga,’’ tuturnya.

Asnawi memerinci, ada kenaikan harga hewan kurban untuk momen Iduladha tahun ini. Untuk sapi dan kerbau terjadi kenaikan 33 persen, dari harga sebelumnya Rp 60 ribu/kg menjadi Rp 80 ribu/kg. Kemudian untuk domba juga naik 33 persen, dari harga Rp 60 ribu/kg menjadi Rp 80 ribu/kg. Kambing juga terjadi kenaikan 43 persen, dari harga Rp 70 ribu/kg menjadi Rp 100 ribu/kg.

Asnawi menuturkan, untuk momen kurban, sapi impor dari Australia belum termasuk kategori bisa dikurban. Sebab, secara hukum syariat harus terlebih dahulu memenuhi persyaratan.

“Jadi, sejauh ini dampak PMK ini belum berdampak. Nanti kemungkinan untuk Iduladha akan berdampak, tapi dari sisi harga saja. Karena dari sisi pasokan ini cukup. Selain dari Jatim, pasokan juga bisa dari daerah lain kok,’’ jelas Asnawi. Terkait kondisi ke depan, dia memandang, kondisi PMK masih bisa dikendalikan dengan baik. Sebab, PMK yang terjadi saat ini tidak separah seperti yang terjadi pada tahun 1887 silam.

Dengan langkah-langkah dan edukasi, Asnawi berharap hal itu bisa mempercepat usainya kasus PMK. “Mudah-mudahan tidak terlalu lama bisa selesai kasusnya dan aman kembali,’’ katanya.

Sementara itu, reaksi dari pelaku industri peternakan punya reaksi beragam terhadap perkembangan isu wabah PMK sapi. Ketua Paguyuban Pedagang Sapi dan Daging Segar (PPSDS) Jawa Timur, Muthowif, kepanikan belum terjadi di pedagang daging di Surabaya. Hal tersebut dikarenakan pasokan Surabaya kebanyakan datang dari Malang, Probolinggo, dan Madura.

’’Di tingkat RPH sendiri, pemerintah kota sudah mengecek setiap sapi yang ingin dipotong. Dan sampai kemarin malam (11/5), belum ada yang terdampak wabah PMK,’’ paparnya, Kamis (12/5).

Sampai saat ini, dia merasa bahwa arus pemotongan sapi di Surabaya sendiri masih stabil. Menurutnya, RPH di Surabaya sendiri biasanya memotong 130 ekor per hari. Kondisi tersebut diharapkan bisa bertahan sampai Idul Adha.

Sementara itu, Ketua Kelompok Peternak Sapi Potong Bumi Peternakan Wahyu Utama, Joko Utomo, justru merasakan kepanikan. Pasalnya, anggotanya sudah mulai merasakan hambatan besar. Dia mengaku bahwa pasar hewan Kerek, Tuban, tak beroperasi. Hal tersebut karena pembeli ragu untuk membeli ternak.

’’Padahal, dari dinas peternakan kabupaten sudah meme-riksa ternak di sana. Dan semua dinyatakan bebas PMK,’’ paparnya. Sebagai hasil, dia me-ngatakan peternak sapi yang sudah berhasil menjual ternaknya selama masa lebaran menolak untuk mengisi kandang mereka. Kebanyakan memilih untuk menyimpan uang mere-ka sampai wabah mereda.

Joko menegaskan bahwa hal tersebut bisa melahirkan risiko yang besar. Karena dengan berkurangan daging lokal, arus daging impor pastinya semakin kencang. Di saat wabah mereda, peternak yang ingin berusaha lagi pun ragu karena harga mereka bakal jatuh digempur daging impor.

’’Kalau begini, jangan mimpi bisa swasembada daging sapi,’’ tegasnya.

Dia berharap pemerintah bisa bertindak sesuai dengan kondisi. Peternak di wilayah yang memang tidak terdampak seharusnya bisa tetap menyalurkan sapinya dengan beberapa syarat. Misalnya, verifikasi bebas PMK.

Dia menceritakan salah satu kisah order dari manufaktor vetsin hilang. Hal tersebut karena pihak manufaktur meminta ada bukti bahwa sapi lokal milik kelompok Joko bebas PMK. Namun, pemerintah sendiri tak mau memberikan sertifikasi untuk sementara itu. ’’Akhinya, order satu ton daging sapi bulan ini dibatalkan. Kalau begini, nanti rakyat sendiri yang susah,’’ ujarnya. (*)