Metropolis

Stop Ngebandingin, Dong!

Web 01 1batampos – Lebaran saatnya bertemu keluarga besar. Pastinya seru banget bisa ketemu lagi setelah dua tahun pandemi. Namun, sering kali pertemuan keluarga jadi ajang saling membandingkan. Dari pendidikan, karier, sampai relationship. Duh, sebel banget deh! Sebagaimana curhatan dari kawan Zetizen berikut. Yuk, simak cara mereka meresponsnya! (elv/c12/lai)

Web 08
Siswi SMA N 11 Surabaya

Aku tuh tiga kali ganti klinik perawatan karena nggak cocok. Baru dua minggu udah dikomenin. Dari yang bilang buang uang karena nggak ada perubahan sampai ada yang bilang ’bukannya lebih cantik, jadi lebih tua dari tante’. Sebel banget lah pasti! Aku treatment juga karena arahan dokter. Akhirnya aku bales tuh, ’Lagian tante bukan yang bayar, tapi banyak komen. Papaku yang bayar aja nggak komen apa-apa’. Memang agak songong sih, sampai aku nggak boleh ngomong lagi pas reuni keluarga, hehe.’’

Web 07 1
Annisa Nur Nabillah – Universitas Negeri Surabaya

Waktu itu memang lagi kumpul sama sepupu, ngobrol ngalor-ngidul. Terus nggak sengaja nyambung ke obrolan nikah, kayak siapa yang bakal nikah duluan. Kebetulan jarak umurnya memang dekat. Nah, terus om aku nimbrung dan bilang, ’cowok yang diceritain kemarin nggak diajak ke sini? Om pengin kenalan, lho’. Bingung juga mau jawab apa karena udah nggak sama cowok itu lagi. Senyumin aja deh.’’

Web 06 1
Mahasiswi Universitas Kristen Petra

Kejadiannya ini waktu SMP dan dibandingkan dengan sepupu yang seumuran. Jadi, sepupuku masuk ke sekolah negeri, sedangkan aku tim swasta sampai kuliah. Alhasil, sepupuku lebih dibanggakan. Seringnya dibilang jago kandang karena nggak mau coba negeri. Padahal, memang nggak dibolehin sama orang tua. Waktu tahun lalu sepupuku masuk ITS, aku cuman bisa merespons, ’Hehe, iya tante, tapi semua universitas kan sama aja, yang penting semangat belajarnya’.’’

How to Deal with It

Keterima kuliah di mana?
Anak tante aja lolos di universitas negeri, lho!
Jurusan x nanti mau jadi apa?
Wah, kurusan/gemukan ya sekarang
Kapan lulus?
Sudah kerja? Di mana?
Jerawatnya makin banyak, ya

SUDAH siap menghadapi pertanyaan basa-basi yang udah basi di atas, Kawan? Hehe. Momen Lebaran memang menjadi ajang pertemuan keluarga, tetangga, dan juga teman. Saat itulah muncul pertanyaan basa-basi yang kadang menjengkelkan. Apalagi kalau ada yang membandingkan kamu sama capaian orang lain. Bikin keki deh!

Next time, kalau kamu dibandingkan, coba deh ajak keluarga atau tetangga kamu itu pergi lihat bunga mawar di halaman (kalau ada). Apa bedanya? Nggak ada! Bunga mawar tetap bunga mawar, sekalipun berwarna-warni. Begitu pun kamu. Kamu, ya tetap kamu, bukan orang lain. Atau, coba sesekali bandingin balik, hehe.

Well, yang penting chill aja menghadapinya. Jangan terlalu dimasukkan ke hati. Apalagi sampai overthinking berkepanjangan. Justru buktikan dengan aksi nyata. Kalau mereka bilang jurusan kuliahmu nggak bakalan sukses, buktikan kalau kamu bisa sukses dengan caramu sendiri. You got this! (elv/c12/lai)

Web 02 1

“Stop Membandingkan! Ini Dampak Buruknya”

Reporter: Vany Aliffia
Editor : Agnes Dhamayanti

Setiap perilaku pasti ada alasannya. Begitu pula dengan orang tua atau saudara yang hobi banget ngebandingin anaknya dengan orang lain. Katanya sih, untuk memotivasi anak. Padahal dengan membandingkan justru memberikan efek negatif. Cen­derung merugikan dan mengambat kemajuan. Inilah dampak negatif yang akan didapatkan saat orang tua/ kerabat terdekat suka membandingkannya dengan orang lain. Yuk Simak! (*)

Web 04 1
F. Dokumentai Pribadi

Galuh Febri Saputra
Politeknik Negeri Batam
@galuh.fs

Orang yang suka membandingkan termasuk orang tua atau keluarga lainnya bisa meningkatkan rivalitas saudara, jika orang tua kerap membandingkan kerap akan menumbuhkan persaingan. Bahkan anak-anak yang lebih tua dengan gampang menggoda perkelahian, memukul, dan berperilaku agresif. Hal ini juga dapat mendorong anak untuk bersikap bodo amat, jika anak-anak sering melihat orang tua lebih menghargai anak orang lain mereka akan merasa diabaikan, kelak anak pun tidak akan pernah mencoba untuk memikirkan orang tuanya dan merasa bodoh amat. Jangan nge-down ya, Show your skills! (*)

Web 03 1
F. Dokumentai Pribadi

Lintang sukma
Politeknik Negeri Batam
@lintang.maa

Orang tua harus selalu menjaga harga diri anak. Tetapi, sayangnya kecenderungan orang tua malah sering membanding-bandingkan anaknya, bahkan saudara atau kerabat kita pun bisa-bisanya ikut campur juga. So, pastinya ada dampak buruknya, anak akan menjauh dari orang tuanya. Setop membandingkan anak donk. Karena dapat menumbuhkan kebencian dan tidak mau lagi berusaha untuk membanggakan hati orang tua. (*)

Web 05 1
F. Dokumentai Pribadi

Sinta Devi Rahayu
Politeknik Negeri Batam
@sintadevi.rh

Yah… Niatnya silahturahmi, tapi malah ada aja obrolan membandingkan anak A dan anak B, sudah wajar ya. Efeknya bisa menyebabkan kecemburuan yang ekstrim, kecemburuan bukan hanya perasaan yang sedang pacaran, tetapi kecemburuan ini bisa menimbulkan kebencian bahkan agresif. Bagi yang suka membanding-bandingkan akan membuat anak merasa cemas dan gelisah. Anak bisa menjadi berlebihan menyenangkan hati orang tua dan akan terus merasa tidak bisa memenuhi ekspetasi yang diharapkannya, perlahan akan kehilangan rasa percaya diri. Ayo para orang tua, hilangkan sikap membandingkan dan terus support pertumbuhan anak yang sehat! (*)