Pro Kepri

Sapi Asal Riau Dilarang Masuk Karimun

batampos– Kebutuhan sapi untuk Hari Raya Idul Adha 2443 Hijriah atau biasa disebut hara raya kurban di Karimun diprediksi meningkat. Hanya saja, saat ini Provinsi Riau sebagai daerah yang biasa menjadi langganan pembelian sapi atau jalur masuknya sapi sudah ditetapkan sebagai wabah atau pandemi lumpy skin deases (LSD) atau penyakit benjolan pada kulit sapi. Akibatnya, Pemkab Karimun melarang masuknya sapi asal Riau ke Karimun.

Ucok, penjual daging sapi segar di pasar Puan Maimun, Tanjungbalai Karimun. Akibat Riau dinyatakan sebagai daerah wabah LSD, maka pemkab karimun melarang sapi asal Riau masuk ke daerah ini.

”Memang, daerah Pekanbaru, Provinsi Riau sudah ditetapkan sebagai daerah wabah LSD. Sehingga, tidak hanya sapi hasil peternakan di daerah Riau saja yang tidak bisa keluar daerah. Tapi, sapi dari provinsi lain yang akan dikirim ke daerah kita melalui jalur pengiriman atau transit di Provinsi Riau juga tidak akan bisa keluar,” ujar Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Karimun, Sukrianto Jaya Putra, Jumat (13/5).

Perlu diketahui, kata Sukrianto, untuk memenuhi kebutuhan hewan kurban pada setiap Hari Raya Idul Adha di Kabupaten Karimun sapi atau lembu memang harus didatangkan dari luar daerah. Karena, hasil dari peternakan sapi di Kabupaten Karimun belum mencukupi.

BACA JUGA: Tegas, Pemprov Kepri Larang Pesan Hewan dari Daerah Wabah PMK

”Data terakhir yang kita lakukan pengawasan ke lapangan jumlah sapi yang siap untuk hewan kurban di Kabupaten Karimun tersedia hanya 260 ekor. Jika melihat realisasi kebutuhan sapi pada tahun lalu itu 500-an ekor. Sehingga, tahun ini diperkirakan kebutuhannya meningkat. Jika mengandalkan hasil peternakan sapi dari daerah kita sudah pasti tidak mencukupi,” jelasnya.

Dikatakannya, selain penyakit LSD, juga ada penyakit mulut dan kuku (PMK). Sehingga, daerah yang juga sudah ditetapkan sebagai daerah wabah PMK juga tidak bisa masuk. Seperti Sumbar dan Aceh Temiang. Sehingga, sudah tentu sapi atau lembu dari daerah tersebut juga tidak bisa keluar atau masuk ke Karimun.

”Memang ada solusi yang bisa ditawarkan kepada pemasok sapi. Yakni, mendatangkan dari Kuala Tungkal, Jambi. Hanya saja, dampaknya pada harga yang menjadi lebih mahal. Karena, biaya transportasi,” ungkapnya.

Selain itu, tambah Sukrianto, pihaknya juga akan koordinasi dengan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Kesehatan Hewan Provinsi Kepri. Termasuk juga dengan Kantor Stasiun Karantina Hewan. Yakni, apakah bisa didatangkan sapi dari daerah Penyalai dan Kabupaten Meranti. Mengingat dua daerah tersebut tidak satu tanah dengan Pekanbaru. (san)