Metropolis

Terkendala Aturan PCR dan Antigen, Jumlah Kunjungan Wisatawan Mancanegara Belum Maksimal

wisman singapura
Ilustrasi. Salah seorang wisatawan Singapura melambaikan tangan sebelum menaiki bus yang akan mengantarkannya ke resort dan hotel di kawasan Nonga Kota Batam. Saat ini kapal Batam Fast akan berlayar 4 kali dalam seminggu yakni Kamis hingga Minggu dari Pelabuhan Nongsapura ke Singapura. Foto: Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos – Wisatawan mancanegara (wisman) mulai ramai masuk ke Batam. Namun, jumlahnya dinilai belum maksimal. Khusus untuk wilayah Nongsa Sensation, sepanjang Februari, hanya 90 wisman datang, April 1.015 wisman, dan dari awal hingga 13 Mei hanya 428 wisman.

Weekday masih sepi, weekend ada peningkatan. Namun, belum maksimal,” kata Ketua Nongsa Sensation, Andy Fong.

Ia mengatakan, ada beberapa hal yang menjadi pokok permasalahan rendahnya jumlah kunjungan ini. Yakni, masih diberlakukannya Antigen-Rapid Test (ART) dan wajib membeli asuransi.

”Kami itu ada event golf minggu depan, SPGA. Direncanakan ada 80 hingga 100 orang wisman yang datang. Namun, hanya 50 orang yang memastikan datang,” ungkap Andy.

Sebanyak 50 orang sisanya, kata Andy, tidak berkenan datang, akibat masuk ke Batam masih memberlakukan ART.

”Orang pilih tidak mau datang,” ujar dia.

Kepala Dinas Pariwisata Kepri, Buralimar, mengamini masalah syarat masuk antigen atau PCR, masih menjadi problem pariwisata di Kepri.

”Iya, memang masih memberlakukan SE 17 itu, orang Singapura masih wajib antigen. Orang luar Singapura yang bermukim kurang dari 2 minggu, juga wajib PCR masuk ke Kepri,” ungkap Buralimar.

Buralimar mengaku sudah menyampaikan permasalahan ini ke kementerian terkait. Namun, hingga kini belum ada perubahan aturan masuk ke Kepri dari pemerintah pusat.

”Kenapa tidak disamakan dengan Bali saja, bebas antigen atau PCR,” ujar Buralimar.

Aturan ini kata dia, membuat wisman berpikir datang ke Kepri. Apalagi aturan PCR bagi warga negara non Singapura, yang bermukim kurang dua minggu di negara jiran tersebut.

”Turis ke Kepri memang didominasi dari Singapura, 45 persen. Tapi ada 55 persen dari luar Singapura. Biasa mereka datang ke Singapura, lalu juga singgah ke Batam atau daerah lainnya di Kepri beberapa hari. Tapi aturan PCR dan antigen, membuat wisman enggan datang,” kata Buralimar.(*)

Reporter: Fiska Juanda