Rabu, 10 Agustus 2022

Covid-19 Batam Makin Mengganas

Klaster Seraya dan DD Terus Bertambah IDI: Tingkat Kepatuhan Warga Rendah

Baca Juga

F. DALIL HARAHAP/BATAM POS
DUA dari sembilan orang yang positif Covid-19 di Batam, diangkut menuju RS Covid-19 Galang menggunakan bus dari Rusun Tanjunguncang, Selasa (19/5).

Penyebaran Covid-19 di Batam makin mengganas. Kota ini kembali mencatatkan kasus baru yang cukup mengejutkan. Ke­marin, ada 13 kasus baru positif. Satu di antaranya balita berusia 2 ta­hun, dan dua anak berusia 6 dan 9 tahun. Sa­yang, sang ba­lita meninggal dunia, Minggu (17/5) lalu. Dia menjadi warga Batam kedelapan yang meninggal karena virus yang menyerang saluran pernapasan ini.

Kejadian ini, membuat sejumlah warga yang patuh mengikuti anjuran pemerintah kesal dan sedih.

“Tadi penugasan ke perairan Sagulung, lewat Batuaji. Kawasan pusat perbelanjaan SP Plaza macet. Ramai banget orang. Luar biasa,” ujar Danan Wahyu Sumirat, warga Batam Center, Selasa (19/5).

Danan mengaku tak habis pikir melihat karakter warga Ba­tam yang masih anggap se­pele wabah ini.

“Susah mengu­bah kebiasaan bebal,” ungkapnya.
Demikian halnya Tanti. Ia tak kalah kesal melihat kerumunan di Bengkong yang masih padat merayap. Warga masih berkumpul ramai, seolah tak ada pandemi.

“Tak sayang nyawa atau gimana nggak ngerti lagi bilanginnya. Pun kalau tak sayang nyawa sendiri, jangan jadi pembunuh, menyebar virus bagi orang lain. Kalau sudah mengganas gini, ada penambahan kasus positif setiap hari, siapa yang mau disalah­kan?” ujarnya kesal.

Tanti mengungkapkan, sia-sia ia menggunakan masker dan mengikuti instruksi pemerintah dalam menjalankan protokol kesehatan kalau akhirnya jumlah pasien terus bertambah. “Ayo masyarakat, disiplin sedikit saja, bisa nggak?” pintanya menahan tangis.

Sementara itu, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kepri, Rusdani mengatakan, kepatuhan masyarakat penting memutus rantai penyebaran Covid-19. “Jika masih banyak yang membandel, maka (pasien Covid-19, red) akan terus bertambah,” ujar Rusdani baru-baru ini.

Dia menegaskan supaya warga mematuhi aturan kalau mau wabah ini selesai dan kehidupan kembali normal.

“Patuhi aturan yang diberi petugas kami. Tim medis juga agar bekerja seefektif mungkin. Penggunaan APD sangat dianjurkan. Kita tak mau teman-teman jadi korban, karena keteledoran dan kealfaan,” ungkapnya.

Pembatasan sosial dan memakai masker sangat dianjurkan. “Masyarakat patuhilah social distancing. Yang kita takutkan itu adalah orang tanpa gejala (OTG). Dia terlihat sehat, tapi bisa menularkan virus ke orang lain,” tegasnya.

Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Batam, Muhammad Rudi, mengungkapkan, penambahan kasus baru yang cukup signifikan dibanding penambahan sebelumnya, merupakan hasil pemeriksaan swab oleh Tim Analis BTKLPP Batam, berdasarkan hasil tracing closes contact yang terus berlangsung dari klaster terkonfirmasi positif Nomor 32 (Jemaah Tabligh WN India) dan 35 (Klaster DD Bengkong) yang telah meninggal dunia.

“Sebanyak 13 kasus terkonfirmasi positif Covid-19 kali ini terdiri dari delapan perempuan dan lima laki-laki. Seluruhnya warga Batam, termasuk satu balita perempuan usia dua tahun, enam tahun dan anak usia sembilan tahun,” ujar Rudi di Batam Center, kemarin.

Ia merinci, kasus pertama dari 13 kasus baru itu, yakni laki-laki berinisial J, 39, warga Bengkong Sadai. Dinyatakan sebagai kasus ke-66. Dia merupakan menantu kasus ke-44 dan paman dari kasus ke-48 yang saat ini masih diisolasi di rumah sakit rujukan Covid-19, RSUD Embung Fatimah di Batuaji.

Riwayat kasusnya, pada 26 April yang bersangkutan mengatakan pernah kontak langsung saat sama–sama melaksanakan salat berjemaah di Masjid Al Furqan, di dekat rumahnya yang diimami almarhum Darwin Darwis (DD).

Pada Rabu (6/5), J bersama warga dan jemaah lainnya melakukan RDT di Masjid Al Furqan. Hasilnya reaktif. Sehari setelahnya, dievakuasi untuk menjalani karantina di Rusun Tanjunguncang. Selanjutnya, mereka menjalani uji swab tenggorokan pada Jumat (8/5) dan tiga hari kemudian, hasilnya negatif.

Terkait dengan hasil tersebut, selanjutnya J dipulangkan setelah diedukasi supaya tetap melaksanakan isolasi mandiri di rumahnya. Lalu, pada 16 Mei diswab tenggorokan yang kedua dan hasilnya positif.

“Sejauh ini, kondisi yang bersangkutan dalam keadaan stabil dan tidak merasakan adanya gangguan kesehatan yang berarti dan masih diisolasi di RSKI Covid-19 Galang,” ujar Rudi.

Kasus kedua, perempuan berinisial KN, 30. Dia Ibu Rumah Tangga (IRT) dari Bengkong Sadai. Dinyatakan sebagai kasus ke-67. Ia merupakan istri dari pasien ke-53 yang masih diisolasi di RSKI Covid-19 Galang.

Sehubungan dengan pengembangan dan tracing terhadap kasus ke-35 (DD), KN bersama suaminya pada 12 Mei melakukan RDT di Puskesmas Seipanas dengan hasil nonreaktif.

Kemudian, setelah suaminya dinyatakan positif, maka pada 16 Mei diswab tenggorokan yang hasilnya positif. Ia juga merupakan pasien OTG. Kondisinya stabil.
Kasus ketiga, laki-laki berinisial MI, 49. Seorang montir bengkel di Kampung Seraya, Batuampar, dinyatakan sebagai kasus ke-68.

MI juga memiliki usaha warung sembako yang dikelola istrinya dan menerima titipan penjualan makanan ringan dari para tetangga. Salah satu yang menitipkan penjualan makanan ringan (Donat) adalah pasien ke-50 yang memiliki kaitan erat dengan klaster kasus JT ke-35 (SAA), WNA yang telah meninggal dunia.

Kasus keempat, perempuan berinisial NS, 44. Dia wiraswasta dari Kampung Seraya, bersuamikan MI, kasus ke-68. Dia dinyatakan sebagai kasus ke-69.
Sehubungan adanya temuan pengembangan kasus baru positif covid-19 yang berkaitan dengan Klaster

JT ke-32 di tempat tinggalnya, yang bersangkutan pada 15 Mei menjalani rapid test yang hasilnya reaktif. Kemudian, dilanjutkan keesokan harinya, pemeriksaan swab tenggorokan yang hasilnya positif.

“Kondisi yang bersangkutan stabil dan tidak merasakan adanya gangguan (OTG, red),” jelas Rudi,

Kasus kelima, laki-laki berinisial RK, 26. Dia satpam asal Kampung Seraya, Batuampar. Dinyatakan sebagai kasus ke-70. “RK merupakan abang kandung dari pasien kasus ke-46 dan keponakan dari kasus ke-50,” kata Rudi.

Sehubungan adanya temuan pengembangan kasus baru positif covid-19 di tempat tinggalnya, RK pada 15 Mei rapid test yang hasilnya reaktif. Selanjutnya, diswab tenggorokan yang hasilnya positif. Kini dirujuk di RSKI Covid-19 Galang.
Kasus keenam, remaja perempuan berinisial NE, 14. Berstatus pelajar dan tinggal di Kampung Seraya, Batuampar. Dia kasus ke-71.

Rudi mengatakan, NE sebelumya sering berkunjung ke rumah temannya yang saat ini telah ditetapkan positif Covid-19, dimana temannya tersebut memiliki closes contact dengan pasien kasus ke-50 untuk membeli donat.

Kasus ketujuh, perempuan berinisial NS, 32. Ibu Rumah Tangga (IRT) dari Kampung Seraya, Batuampar. Dia kasus ke-72.

Rudi menjelaskan, yang bersangkutan merupakan istri dari pasien kasus ke-70 yang juga merupakan kakak ipar dari kasus ke- 46, serta keponakan dari pasien ke-50.
Rudi mengatakan, NS dalam keadaan stabil dan tidak merasakan adanya gangguan kesehatan yang berarti.

Kasus kedelapan, bocah perempuan berinisial PDS ,6. Dia masih duduk di bangku taman kanak-kanak (TK) di Kampung Seraya, Batuampar. Dia kasus ke- 73. “PDS mengatakan, sebelum Ramadan, sering bertemu dengan pasien kasus ke-50. Jajan kue donat.Kondisinya juga stabil di RSKI Covid-19 Galang,” kata Rudi.

Sementara itu, kasus baru ke-9 juga dari Kampung Seraya. Adalah Y, 64 yang menjadi pasien kasus ke-74. Dia juga tertular dari pasien ke-50.

Sejauh ini, kata Rudi, kondisi yang bersangkutan dalam keadaan stabil dan tidak merasakan adanya gangguan kesehatan yang berarti, serta dikarantina guna penanganan kesehatannya di RSKI Covid-19 Galang.

Kasus kesepuluh, laki-laki berinisial IBS, 34. Seorang karyawan. IBS masuk daftar pasien Covid-19 urutan 75. Dia pernah closes con­tact dengan nomor 46 pada saat makan bakso di tempat tinggalnya tersebut.

Sementara itu, kasus kesebelas, laki-laki berinisial A , 34. Seorang karyawan yang bermukim di Tanjunguncang. Dinyatakan sebagai kasuske-76.

A pada 15 Mei datang berobat ke IGD RSUD Embung Fatimah Batam dengan keluhan demam sejak tiga hari sebelumnya, yang disertai sedikit sesak napas, dan badan lemas. Tiga minggu sebelumnya A juga mengalami keluhan batuk kering yang belum sembuh hingga saat ini.

Oleh tim medis rumah sakit dilakukan penanganan dengan tindakan pemeriksaan laboratorium serta foto rontgen dengan kesimpulan terdapat gambaran “pneumonia”.

Kepada A juga dilakukan pemeriksan RDT yang hasilnya nonreaktif. Berdasarkan hasil analisa pemeriksaan tersebut oleh Dokter Penanggung Jawab Pasien (DPJP) dilakukanlah perawatan di ruang isolasi Tun Sundari, yang kemudian pada keesokan harinya 16 Mei ditindaklanjuti kembali dengan melakukan pemeriksaan swab tenggorokan yang hasilnya diketahui positif.

“Kondisinya memburuk dan sedang dalam perawatan intensif menggunakan ventilator di ruang ICU Isolasi Paviliun Tun Sundari RSUD Embung Fatimah,” kata Rudi.
Kasus keduabelas, balita perempuan berinisial VS berusia 2 tahun,asal Tembesi, Sagulung. Dia dinyatakan sebagai kasus ke-77.

Rudi mengatakan, V pada 15 Mei pukul 14.30 WIB, dibawa orangtuanya ke IGD RSUD Embung Fatimah Batam dengan kondisi non responsif sejak pagi hari. Menurut orangtuanya, anak tersebut sudah mengalami demam sejak lima hari sebelumnya yang disertai BAB cair dan berlendir, serta ditemukan benjolan di bawah lehernya.

Selanjutnya dilakukan perawatan di bangsal anak dengan sebelumnya dilakukan peneriksaan RDT dengan hasil nonreaktif.

Kemudian pada 16 Mei dilakukan pemeriksaan swab tenggorokan yang hasilnya baru diketahui terkonfirmasi positif kemarin.

Kemudian, 17 Mei pukul 13.30 WIB, kondisinya memburuk. Dokter berusaha melakukan tindakan upaya pertolongan maksimal, tapipada pukul 18.30 WIB, dia dinyatakan meninggal dunia.

Kasus ketigabelas, anak perempuan berinisial IS,9, pelajar SD dari Kampung Seraya, Batuampar. Dinyatakan sebagai kasus ke- 73.

Rudi mengatakan, yang bersangkutan merupakan kakak kandung kasus ke-73 yang pada saat sebelum Ramadan juga sering bertemu pasien ke- 50 untuk membeli donat. Beruntung, kondisinya stabil.

Sesuai dengan hasil penyelidikan epidemiologi (PE) yang telah dilakukan terhadap seluruh klaster terkonfirmasi positif Covid-19 di Kota Batam, diperoleh kesimpulan sementara, masih mungkin terjadi pertumbuhan kasus Covid-19 yang berkaitan dengan berbagai klaster yang ada ataupun kasus baru yang terjadi, baik dari transmisi lokal maupun impor.

Hal ini mengingat masih banyak ditemui masyarakat yang belum sepenuhnya mematuhi protokol dan imbauan pemerintah. “Saya mengingatkan dan kembali mengimbau kepada seluruh masyarakat Kota Batam untuk kemaslahatan bersama agar tetap mengikuti anjuran pemerintah untuk melakukan jaga jarak, senantiasa mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, tetap di rumah saja, dan mengenakan masker jika terpaksa harus keluar rumah, serta selalu menjaga kesehatan dengan makan makanan seimbang, berolahraga secara teratur dan istirahat yang cukup,” pinta Rudi.

Sementara itu, dari 13 kasus positif Covid-19 yang baru itu, 11 di antaranya sebelumnya berstatus orang dalam pengawasan (ODP) dan menjalani observasi di Rusunawa BP Batam di Tanjunguncang.

Setelah hasil swab keluar dan dinyatakan positif, 11 orang ini dipindahkan ke RSKI Covid-19 Galang, Selasa (19/5) pagi. Jumlah pasien positif dari klaster yang sama sudah 13 orang, sebab sehari sebelumnya, Senin (8/5) dua orang juga dipindahkan ke RS setelah dinyatakan positif.

Pantauan di lapangan, proses pemindahan sebelas ODP yang dinyatakan positif ini berlangsung cukup ketat. Petugas dan armada yang mengangkut mereka sangat safety. Mereka diangkut dengan dua ambulans dan satu bus sekitar pukul 11.00 WIB.
Informasi yang disampaikan petugas di rusunawa, dari sebelas orang ini, satu di antaranya balita. Mereka dari Klaster Kampung Seraya, Batuampar, yang ada kontak dengan pasien kasus 32 dan 35.

“Satu RT mereka ini, berhubungan dengan pasien 32 dan 35 katanya,” ujar koordinator lapangan dari petugas keamanan di lokasi karantina Rusunawa Nur Arifin, kemarin.
Ia menyebutkan, total ODP dari klaster Seraya yang diantar sepekan yang lalu ke Rusunawa ada 20 orang dan 13 orang di antaranya sudah dipindahkan ke rumah sakit karena dinyatakan positif.

“Lebih banyak yang positif,” ujar Nur.
Sementara, untuk jumlah semua ODP yang tersisa di rusunawa hingga kemarin masih ada 22 orang. Mereka masih menunggu hasil swab dari BTKLPP Kota Batam.

Pemeriksaan Swab
Aman Dua Bulan
Pemeriksaan swab di Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BTKLPP) Kelas I Batam berjalan tanpa kendala. Ketersediaan alat pendukung pun disebut cukup untuk dua bulan ke depan.

“Insyaallah aman. Cukup untuk dua bulan ke depan,” imbuh Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BTKLPP Batam, Ismail Damhuji.

Asumsi kecukupan ini berdasarkan kondisi sekarang. Menurut dia, dalam sehari sampel yang masuk ke BTKLPP berkisar antara 50 sampel hingga 100 sampel paling tinggi. “Kalau flat saja kondisinya seperti sekarang. Kalau yang masuk di atas 100 bisa cepat habis juga,” katanya.

Ismail menyebutkan, perihal alat pendukung yang diantisipasi ketersediaannya adalah dacron. Menurut dia, satu VTM sejatinya butuh dua dacron.

“Semuanya masih ada. Kita hanya antisipasi dacron. Satu VTM itu dua dacron. Misal VTM 1000, dacron 2000 kita butuhkan,” papar dia.
Ia mengaku, terus berkoordinasi dengan tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Batam agar alat tersebut tetap tersedia dan mendukung proses pemeriksaan swab di BTKLPP.

Tak hanya itu, tak lama lagi, BTKLPP akan kedatangan alat baru yang dijadwalkan pekan depan. Alat centrifuge ini diharapkan dapat digunakan setelah Idulfitri. Dengan kedatangan alat ini, tentunya menambah jumlah sampel yang diperiksa satu harinya.

“Satu alat (centrifuge,red) dapat melakukan pemeriksaan 100 sampel seharinya. Alat ini merupakan pengadaan dari kami sendiri (BTKLPP) melalui Kementrian Kesehatan,” kata Ismail.

Dengan adanya alat ini, pemeriksaan sampel swab bisa dimaksimalkan dalam seharinya sebanyak 160 sampel. “Sudah ada dua PCR ditambah centrifuge,” ungkapnya.
Terkait alat baru tersebut, Ismail mengaku sudah meminta penyedia mengirimkan terlebih dahulu. (***)

Reporter : ADIANSYAH – MUHAMMAD NUR – EUSEBIUS SARA
FISKA JUANDA – CHAHAYA SIMANJUNTAK – RIFKY SETIAWAN
Editor : CHAHAYA SIMANJUNTAK

 

 

Update