Rabu, 10 Agustus 2022

Lebaran dalam Suasana Prihatin

Kemenag Tetapkan 1 Syawal 1441 H Besok

Baca Juga

F. IMAM HUSEIN/JAWA POS
Calon pemudik yang terjaring razia penyekatan di dalam bus di Pintu Tol Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, kemarin. Calon pemudik yang terjaring razia penyekatan Polda Metro Jaya tersebut dibawa ke terminal Pulogebang, Jakarta, untuk pendataan, kemudian diarahkan kembali ke rumah masing-masing di Jakarta. Pemerintah menetapkan, bagi warga yang sudah mudik, dilarang kembali ke Jakarta sampai wabah Covid-19 selesai. (berita terkait di Halaman 2)

JAKARTA (BP) – Pemerintah melalui Kementerian Agama menetapkan 1 Syawal 1441 Hijriah jatuh Minggu (24/5) besok. Keputusan itu didasari dari hasil penghitungan hisab dan pemantauan langsung atau rukyatulhilal.

“Hasil penghitungan hisab, posisi hilal di bawah ufuk,” ujar Menteri Agama Fachrul Razi usai memutuskan sidang Isbat di Jakarta, Jumat 922/5) malam tadi.

Fachrul mengungkapkan, posisi hilal di Indonesia kemarin sore di kisaran minus 5 derajat sampai minus 3 derajat di bawah ufuk. Hasil penghitungan hisab itu kemudian dibuktikan dengan pelaksanaan rukyatulhilal.

Fachrul menjelaskan, dari 80 titik pemantauan hilal di seluruh Indonesia, tidak ada satu pun yang berhasil melihat hilal. Dia menegaskan, metode hisab dan rukyat bukan untuk dipertentangkan. Namun, keduanya saling melengkapi. Orang yang melakukan rukyat harus memahami ilmu hisab. Begitu pula data hasil hisab, dibuktikan melalui rukyat.

Sementara itu, rukyatulhilal fi’liyah yang dilaksanakan Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) juga tidak berhasil melihat hilal, Jumat (22/5) sore. “Atas dasar laporan itu. Hilal tidak terlihat,” jelas Ketua PB NU Said Aqil Siroj.

Meski begitu, Said mengungkapkan, sepakat dengan pemerintah, awal bulan Syawal 1441 Hijriah jatuh Minggu, 24 Mei 2020. ”Seluruh umat muslim, terutama warga Nahdlatul Ulama, melakukan puasa Ramadan istikmal (menyempurnakan, red) selama 30 hari,” jelas Said.

Suasana Idulfitri tahun ini akan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Pandemi Covid-19 yang belum jelas kapan akan berakhir membawa Lebaran pada suasana keprihatinan.

Ketua Bidang Pendidikan dan Kaderisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Abdullah Jaidi mengatakan, Lebaran tahun ini dirayakan ketika musibah Covid-19 masih terjadi. “Oleh sebab itu, mari merayakan Idulfitri dengan suasana keprihatinan, sampai nanti kondisi berangsur pulih,” tutur dia.

Jaidi mengatakan, ada beberapa pesan penting dari MUI. Di antaranya, soal pelaksanaan salat Idulfitri. “Salat Id tidak dilarang (di masjid, red),” tegasnya.

Namun, kata dia, MUI berharap, di tengah kondisi pandemi Covid-19 yang belum hilang, umat Islam lebih bersabar. Kemudian, menjalankan salat Id di rumah masing-masing.

Fatwa MUI memang memperbolehkan salat Id dilakukan di daerah yang berstatus zona hijau penularan Covid-19. Namun, jika dipaksakan, malah bisa memicu adanya penularan. Sebab, dalam pelaksanaan salat Id berjemaah selama ini, cukup sulit untuk menerapkan protokol kesehatan.

Menurut dia, protokol kesehatan mudah dalam tataran teori, tetapi sulit untuk dipraktikkan. Misalnya, dalam urusan menjaga jarak dan lainnya. (*)

Reporter : JP GROUP
Editor : CHAHAYA SIMANJUNTAK

Update