Rabu, 10 Agustus 2022

Dunia Usaha Jaga Optimisme di Tengah Wabah Global

Properti Bergairah, Roda Perekonomian Bergerak

Baca Juga

F. PUGUH SUJIATMIKO/JAWA POS
Suasana perumahan pengembang Citraland Surabaya-The Singapore Of Surabaya. Rabu, (20/5) lalu.

JAKARTA (BP)- Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), dan Realestat Indonesia (REI) meyakini sektor properti sebagai lokomotif pertumbuhan ekonomi nasional. Banyak aktivitas ekonomi yang melekat di sana. Juga ada sekitar 30 juta pekerja yang menggantungkan nasib mereka.

’’Dari 175 sektor industri yang terkait langsung maupun tidak langsung dengan sektor properti, industri ini memiliki pangsa jumlah permintaan akhir 33,9 persen,’’ kata Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Properti Hendro Gondokusumo pekan lalu. Angka itu, menurut dia, menunjukkan multiplier effect properti yang tinggi. Tiap kali properti tumbuh, dampaknya langsung dirasakan 33,9 persen sektor yang berkaitan.

Pada masa pandemi Covid-19 seperti sekarang, sektor properti dalam negeri harus bisa jadi andalan. ’’Sekarang saatnya memaksimalkan potensi lokal. Industri properti Indonesia itu 90 persen kandungannya adalah lokal, bahkan 100 persen untuk rumah sederhana. Ini sangat strategis untuk menggerakkan perekonomian kita,’’ ujarnya.

Mempertahankan stabilitas kinerja properti sangat penting. Menurut Ketua Bidang Properti Apindo Sanny Iskandar, properti bersinggungan langsung dengan tenaga kerja. Jika industri properti dan industri ikutannya terganggu, sekitar 30 juta pekerja juga akan kena imbas.

’’Belum lagi ditambah dengan sektor informal yang juga ikut terdampak seperti sewa kontrakan dan warung-warung untuk para pekerja lapangan,’’ katanya.

Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa properti dalam negeri masih bisa berkembang lagi jika mendapatkan porsi yang seimbang dari pemerintah. Porsi seimbang yang dimaksud adalah kebijakan yang terintegrasi untuk pendanaan, perizinan dan pertanahan, perpajakan, serta kepemilikan properti.

Ketua Umum REI Totok Lusida menambahkan, properti mempunyai hubungan erat dengan perbankan. Dukungan perbankan amat penting. Apalagi di tengah wabah global seperti sekarang. Dalam dunia properti, porsi kredit pada sisi supply dan demand hampir berimbang. Kredit modal kerja dan konstruksi amat penting bagi pengembang untuk melakukan pendanaan awal. Selanjutnya, pendanaan diteruskan oleh KPR KPA atau konsumen.

’’Jika salah satu porsi kredit ini terganggu, pendanaan pengembang pasti akan terpukul,’’ jelasnya.

Maka, REI mendesak restrukturisasi utang para pengembang dan konsumen bisa terwujud lebih cepat.

Data Bursa Efek Indonesia menyebutkan, sekitar 76,2 persen utang jangka pendek perusahaan pengembang terbuka ada di bank swasta. Padahal, pihak swasta sulit sekali merestrukturisasi kredit karena ada tekanan dari OJK terhadap KPI (key performance indicator) perbankan. Salah satu indikatornya, nonperforming loan alias NPL.

’’Ada kebijakan yang tidak sinkron dari OJK. Di satu sisi, meminta agar dilakukan stimulus restrukturisasi. Namun, di pihak lain, tetap memegang acuan ketat mengenai NPL dan KPI perbankan. Hingga saat ini, POJK No 11/POJK.03/2020 dirasa belum cukup efektif,’’ ucapnya.

Atur Strategi, Pengembang Jaga Optimisme
Di sisi lain, para pengembang masih optimistis menyikapi tantangan-tantangan di masa pandemi saat ini. Senior Director PT Ciputra Development Tbk Sutoto Yakobus menuturkan bahwa Ciputra Group akan meninjau kembali rencana launching proyek tahun ini. Ada proyek yang tetap jalan. Tetapi, ada juga yang ditunda sesuai dengan perkembangan situasi.

’’Secara umum, pada semester pertama penjualan meleset agak banyak. Semoga bisa mencapai 60 persen dari yang telah ditargetkan semula,’’ katanya. Menurut dia, perkembangan properti pada semester pertama masih sulit diproyeksikan.

Terpisah, Direktur Pemasaran PT Intiland Grande Harto Laksono menjelaskan bahwa kini harga properti sedang tidak normal. Itu menjadi peluang bagi investor untuk membeli properti. ’’Developer dengan konsep pengembangan yang baik dan benar masih akan bisa melakukan transaksi,’’ tuturnya.

Harto mengungkapkan bahwa tempat tinggal akan selalu menjadi kebutuhan. Karena itu, penting bagi developer mempertahankan jumlah unit properti miliknya agar tetap dapat bersaing.

Komisaris PT Pondok Tjandra Indah Jenny Sugiharto menyebut properti sebagai barang primer. Maka, dia optimistis kinerjanya akan tetap baik. Kendati daya beli masyarakat menguap, penjualan properti masih ada.

’’Tapi, memang teknik penjualan pada masa pandemi ini harus disiasati juga agar bisa menjangkau mereka yang terdampak,’’ ujarnya beberapa waktu lalu. Salah satu siasatnya adalah menurunkan nominal angsuran uang muka selama April, Mei, dan Juni.

Terpisah, Vice President 3 Realty PT PP Properti Tbk Rudy Harsono menyatakan, secara nasional, PPRO pada masa Covid-19 masih mampu melakukan transaksi penjualan. Minat investasi properti masih cukup tinggi. Sebab, banyak customer yang melihat masa sekarang sebagai peluang bagus. ’’Kami siapkan website dan online marketing yang direct langsung ke tim,’’ ungkapnya. (agf/res/c20/hep)

Reporter : JP GROUP
Editor : ALFIAN L

Update