Rabu, 10 Agustus 2022

Target Pangkas Impor Harus Dijaga

Ciptakan Kemandirian Industri Dalam Negeri

Baca Juga

F. CECEP MULYANA/BATAM POS
SEJUMLAH pekerja melakukan bongkar muat barang di Pelabuhan Batuampar, Selasa (2/7/2019). Untuk menciptakan kemandirian industri dalam negeri, Kemenperin melakukan pemangkasan impor hingga 35 persen sampai tahun 2022.

JAKARTA (BP) – Kementerian Perindustrian mencanangkan target penurunan impor hingga 35 persen sampai tahun 2022. Rencana tersebut mundur dari target awal yang sebenarnya dipatok bisa terealisasi di tahun 2021, namun karena berbagai sektor terdampak pandemi corona. Kemenperin memastikan target menurunkan impor perlu tetap dijaga untuk menciptakan kemandirian industri dalam negeri.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menjelaskan bahwa ada sekitar lima sektor yang akan menjadi prioritas penurunan impor. Sektor-sektor tersebut antara lain sektor industri otomotif, makanan dan minuman, petrokimia, elektronika, dan tekstil.

Selain itu, Menperin juga menyebut mentargetkan penurunan impor untuk industri alat kesehatan dan farmasi. ”Kami akan mengidentifikasi berdasakan penyumbang terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi, juga penyerapan tenaga kerja,” ujar Agus, dalam acara Halal Bi Halal Virtual bersama Kementerian Perindustrian, Senin (25/7).

Agus membeberkan tahapan yang akan dilakukan untuk mengurangi impor, di antaranya adalah meneggenjot industri untuk melakukan subtitusi impor. Target tersebut sudah sempat disampaikan Agus dalam berbagai kesempatan serta sudah dikomunikasikan pada berbagai asosiasi industri sebelum pandemi corona. Menyusul subtitusi impor, pemerintah akan mengencangkan konsep pengamanan seperti safeguard.

Menperin menegaskan buka­n berarti industri akan menjadi anti impor. Namun yang dite­kankan, bahwa seluruh sektor industri harus memaksi­malkan bahwa produk yang di­impor adalah barang yang di­butuhkan sebagai bahan ba­ku misalnya, dan belum mampu diproduksi di Indone­sia.

Dalam hal tersebut, Menperin­ menegaskan bahwa Kemenperin tidak anti terhadap impor­, namun ingin memaksimalkan bahwa produk yang diimpor adalah betul-betul barang yang dibutuhkan dan belum mampu diproduksi di Indonesia. ”Impor itu harus mempunyai nilai tambah dari industri kita sendiri,” urai Agus.

Mengenai kinerja industri manufaktur, Agus mengklaim sektor tersebut masih menjadi kontributor terbesar bagi Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, meski Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur saat ini mengalami penurunan. Pada Februari 2020 lalu, sebelum terjadi pandemi Covid-19, PMI manufaktur berada di angka 51,9. Saat ini, angka itu merosot secara drastis hingga 25,7.

Agus meyakini, PMI manufaktur bisa kembali naik ke angka sebelumnya dalam waktu tiga bulan setelah kondisi normal. Kondisi normal yang disebutnya, ketika vaksin Korona telah ditemukan dan disebarluaskan di seluruh dunia.

“Mudah-mudahan vaksin ini bisa ditemukan dalam waktu dekat dan bisa didistribusikan secara massif pada masyarakat. Sehingga operasional industri di lapangan itu bisa kembali kepada utilisasi ketika sebelum Covid-19 datang,” bebernya.

Selain PMI, Menperin juga menyebut rata-rata utilitas industri manufaktur saat ini hanya sekitar 20 hingga 30 persen saja. Hal ini dinilai sangat rendah jika dibandingkan dengan kondisi normal. (agf/***)

Reporter : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO

Update