Rabu, 10 Agustus 2022

Banyak Orang Miskin Baru

Kembali ke Situasi 2011

Baca Juga

F. CECEP MULYANA/BATAM POS
SEORANG warga mengambil bantuan sosial tunai senilai Rp 600 ribu dari Kementerian Sosial di kantor pos Batam Center, Kamis (14/5) lalu. Pemerintah mengungkapkan, jumlah warga miskin baru di Indonesia bertambah akibat pandemi Covid-19.

JAKARTA (BP) – Wakil Presiden Ma’ruf Amin menyebutkan sa­lah satu efek wabah Covid-19 ada­lah meningkatnya jumlah war­ga miskin. Dengan pemberlakuan masa new normal, dia berharap masyarakat bisa kembali produktif. Namun tetap menjaga keamanan dari potensi penularan virus corona.

Pesan tersebut dia sampaikan saat memimpin halal bi halal bersama jajaran Sekretariat Wakil Presiden (Setwapres) dan unsur lainnya, Jumat (29/5). “Sekarang kemiskinan itu bertambah. Jadi, di samping miskin lama, sekarang ada miskin baru. Misbar. Banyak misbar,” tutur dia.

Menurut Ma’ruf, wabah Covid-19 tidak hanya membawa dam­pak kesehatan, namun se­rangan Covid-19 yang sudah terjadi sekitar tiga bulan terakhir, membuat penurunan di bidang ekonomi.

Bahkan Ma’ruf menyebutkan penurunan ekonomi Indonesia akibat wabah Covid-19 sangat drastis.

Ketua Umum MUI itu memperkirakan dengan adanya orang miskin baru, situasi ke­miskinan di Indonesia kembali ke situasi 2011 lalu. “Artinya ke depan kita akan menghadapi tugas-tugas yang berat,” jelasnya.

Kantor Wakil Presiden mendapatkan penugasan tidak hanya bidang kemiskinan, tetapi juga soal reformasi birokrasi, penanganan stunting, kebencanaan, dan lainnya.

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk miskin di Indonesia pada September 2011 mencapai 29,89 juta jiwa. Jumlah tersebut setara dengan 12,36 persen penduduk Indonesia.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 10,95 juta jiwa adalah penduduk miskin perkotaan.
Sementara itu jumlah penduduk miskin perdesaan ada 18,94 juta orang.

Dengan prediksi tersebut, maka angka persentase kemiskinan Indonesia kembali dua digit. Sebelumnya pada September 2019 lalu angka kemiskinan di Indonesia berhasil ditekan menjadi satu digit. Tepatnya di angka 9,22 persen. Dengan persentase tersebut, maka jumlah penduduk miskin di Indonesia pada September 2019 tercatat ada 24,79 juta jiwa.

Ma’ruf mengingatkan bahwa saat ini harus menata semangat baru.
Menurut dia, semangat baru ini diperlukan karena tantangan yang akan dihadapi bangsa Indonesia semakin berat. “Tantangan tugas-tugas yang kemarin (sebelum Covid-19, red) sudah membaik, sekarang menjadi lebih berat lagi. Seperti kemiskinan dan pengangguran,” tuturnya.

Sementara itu Ma’ruf mengatakan, pemerintah belum memberikan penilaian terhadap kasus stunting di Indonesia setelah adanya wabah Covid-19. Menurut dia upaya menekan angka stunting atau tubuh kerdil tergganggu wabah Covid-19.

Selain itu juga ada persoalan angka kelahiran yang bertambah. “Karena banyak orang di rumah terus,” jelasnya. Kondisi masyarakat yang banyak di rumah saja itu, membuat angka kehamilan meningkat. Banyaknya orang yang hamil ini, perlu mendapatkan perhatian. Supaya saat anaknya lahir nanti dalam kondisi gizi dan pertumbuhan yang bagus.

Halal bi halal secara online tersebut juga diikuti Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K). Koordinator Kelompok Kerja Kebijakan Sekretariat TNP2K Elan Satriawan menyatakan siap menyambut masa new normal dengan bekerja lebih keras. “(Saat ini, red) banyak orang kehilangan pekerjaan,” katanya.

Dia menuturkan, TNP2K siap bekerja lebih keras dan lebih baik. Khususnya menghadapi cobaan wabah Covid-19 yang berdampak pada peningkatan jumlah kemiskinan di Indonesia. Dia optimistis persoalan ini bisa diselesaikan dengan cepat. (*)

Reporter : JP GROUP
Editor : CHAHAYA SIMANJUNTAK

Update