Rabu, 10 Agustus 2022

7.000 Tagihan Listrik Pelanggan Bengkak

Khusus Kenaikan di Atas 50 Persen PLN Batam: Telat Bayar Tak Akan Diputus

Baca Juga

Setelah melakukan pemetaan data pelanggan, bright PLN Batam menyatakan ada sekitar 7 ribu pelanggannya yang mengalami kenaikan tarif di atas 50 persen. “Kami lagi memetakan yang naiknya di atas 50 persen. Ada sekitar 7 ribu pelanggan dari 300 ribu pelanggan PLN Batam,” kata Executive Vice Presiden Commercial PLN Batam, Agus Subekti, Minggu (7/6).

Sebagai sarana sosialisasi, PLN Batam akan mengirim petugas pencatat meteran listrik untuk mendatangi rumah pelanggan-pelanggan yang mengalami kenaikan di atas 50 persen. “Artinya, jangan sampai pelanggan komplain datang ke kantor dan dia antre lagi. Kami berusaha tingkatkan kepedulian melalui sistem door to door kepada pelanggan yang tagihannya naik di atas 50 persen,” tuturnya.

Dalam pekan ini, kata Agus, petugas-petugas tersebut akan mulai bergerak. Agus yakin cara ini merupakan yang terbaik, karena banyak juga petugas yang kenal baik dengan pemilik rumah yang akan didatanginya. “Karena kalau sampai datang ke kantor, apalagi teriak-teriak karena tersulut emosi, nanti makin rumit. Apalagi sekarang dilarang berkerumun karena Covid-19,” jelasnya.

Sedangkan mengenai rekomendasi dari Pemerintah Kota (Pemko) Batam agar jangan ada pemutusan sambungan listrik warga yang tak mampu membayar tagihan bulan ini dan pemberian relaksasi, Agus mengaku PLN Batam akan mengikuti arahan tersebut.

PLN Batam juga mendapatkan arahan yang sama dari Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Kepri. “Bagi pelanggan yang datang ke kantor PLN Batam akan mendapat relaksasi. Sedangkan untuk penagihan, kita akan lakukan secara persuasif dan humanis kepada pelanggan,” ujar Agus.

Sebelumnya, Wali Kota Batam, Muhammad Rudi, meminta keterangan dan solusi kepada PT bright PLN Batam atas kenaikan bengkaknya tagihan listrik yang dikeluhkan ribuan warga Batam, saat pertemuan dengan pihak PLN di Kantor Wali Kota Batam, Sabtu (6/6) lalu.

Rudi yang diwakili Sekretaris Daerah Kota (Sekdako) Batam, Jefridin, meminta pihak PLN Batam yang diwakili Plt Dirut yang juga Direktur Operasi PT Bright PLN Batam, Awaludin Hafid, dan jajarannya, agar dalam masa pandemi seperti ini, PLN Batam memberikan dua solusi bagi PLN guna membantu meringankan beban masyarakat.

Pertama, meminta PT bright PLN Batam tak memutus sambungan listrik bagi warga yang tak dapat melunasi tagihannya pada bulan Juni ini. Kedua, jika alasan kenaikan tagihan listrik terjadi akibat kekeliruan penghitungan tagihan di bulan April dan Mei, sehingga terjadi kekurangan bayar sebagai penambah tagihan listrik pada bulan berikutnya, maka Wali Kota meminta agar diberi relaksasi, dengan cara diangsur pembayarannya.

“Misalnya kekurangan Rp 400 ribu, diangsur tiap bulan sesuai kemampuan warga yang bersangkutan,” jelas Jefidin.

Di pertemuan tersebut, Awaluddin menjelaskan tarif dasar listrik seluruh golongan tidak mengalami kenaikan pada masa pandemi Covid-19. Bahkan sejak 2017, PLN Batam tidak ada kenaikan tarif. Lonjakan yang terjadi karena di bulan Maret dan April tidak dilakukan pengecekan meteran pemakaian listrik ke rumah-rumah warga oleh petugas bright PLN Batam akibat Covid-19.

Diakui Awaluddin, di bulan tersebut pelanggan diminta menyampaikan stand pembacaan kWh secara mandiri dengan cara difoto lalu dikirim ke WA dan aplikasi PLN. Namun, berdasarkan data dari Manbill (manajemen billing) bright PLN Batam, kiriman foto kWh tersebut ada yang tak masuk (tak dikirim/tak terkirim).

“Akibatnya, tagihan pemakaian listrik pelanggan yang foto stand kWh meter pada bulan Maret dan April tak terkirim tadi, memakai data pemakaian listrik sebelum kondisi Covid-19 merebak, di mana pemakaian listrik pada saat itu kemungkinan masih rendah.

Sehingga ketika kondisi pencatatan sudah normal, barulah diketahui bahwa pada dua bulan yang dihitung berdasarkan estimasi tersebut, pemakaian listrik tinggi,” jelas Awaluddin.

Penyebabnya, sambung Awaluddin, karena ada perubahan perilaku pelanggan yang lebih banyak di rumah selama masa pandemi. Ditambah umat Islam menjalankan Ramadan serta Hari Raya Idulfitri yang mayoritas di rumah saja, tidak melaksanakan tradisi pulang kampung.

“Karena pemakaian tinggi, sementara yang ditagihkan berdasar perkiraan di masa normal, maka tentu saja ada selisih kekurangan bayar yang cukup signifikan. Kekurangan inilah yang ditambahkan pada tagihan bulan Juni, sehingga kesannya ada kenaikan tarif listrik, padahal tidak,” terangnya.

Terkait soal pemutusan kepada pelanggan, Awaluddin menegaskan tetap melakukan penagihan kepada dengan mengedepankan pendekatan persuasif dan humanis. Tak hanya itu, PLN juga akan memberikan kemudahan atau relaksasi kepada segmen rumah tangga melalui angsuran kepada pelanggan terdampak lonjakan yang cukup besar secara selektif.

“Kami tetap mengimbau agar pelanggan dapat mengendalikan pola pemakaian listriknya,” ujar Awaluddin. (***)

Reporter : RIFKI SETIAWAN
Editor : MOHAMMAD TAHANG

Update