Rabu, 10 Agustus 2022

Harga Paket Umrah Diprediksi Melambung

Imbas Pemberlakuan New Normal

Baca Juga

F. DIPTA WAHYU PRATOMO/JAWA POS
Jemaah umrah gagal berangkat dan tertahan di Bandara Juanda Surabaya, 27 Februari lalu, setelah pemerintah Arab Saudi melakukan penangguhan ibadah umrah.

JAKARTA (BP) – Penyelenggaraan umrah ke depan diperkirkan terdampak ketentuan protokol kesehatan. Sebagai dampaknya harga paket umrah diprediksi bakal melambung. Sementara itu banyak jemaah umrah yang tertunda keberangkatannya, sudah terlanjur membayar paket sekitar Rp 25 jutaan.

Saat ini Kemenag menetapkan harga acuan paket umrah adalah Rp 20 juta per jemaah. Adanya sejumlah ketentuan protokol kesehatan pencegahan wabah Covid-19, bisa membuat harga paket umrah melambung. Di antaranya adalah ketentuan pembatasan jumlah jemaah dalam satu kamar hotel. Selama ini biaya umrah bisa ditekan karena satu kamar bisa diisi empat sampai enam jemaah.

Sementara saat berlaku new normal dalam beribadah umrah nanti, bisa jadi kapasitas kamar hotel dibatasi maksimal dua orang jemaah. Ketentuan lain diperkirakan berlaku saat new normal nanti adalah pembatasan kapasitas pesawat terbang.

Kapasitas pesawat terbang dibatasi, akibatnya harga tiket menjadi lebih mahal. Begitupun dengan angkutan transportasi darat yang mengantar jemaah dari Makkah ke Madinah atau sebaliknya. Dengan adanya pembatasan jarak fisik, kapasitasnya tidak bisa penuh seperti sekarang.

Kasubdit Pemantauan dan Pengawasan Ibadah Umrah dan Haji Khusus Kemenag, Noer Alya Fitra mengatakan, sampai saat ini belum ada kabar kapan akses umrah dibuka kembali. Dia juga menjelaskan otoritas Arab Saudi belum membuka akses permohonan visa umrah. Selain itu, Kemenag juga masih menutuk layanan pendaftaran umrah di Kemenag, yaitu Simpatuh juga masih ditutup.

Terkait adanya potensi kenaikan biaya umrah di tengah penerapan new normal nanti, ia belum bisa memperkirakannya. Dia menyebutkan, ketika ada regulasi biaya tambahan oleh Arab Saudi, sulit untuk tidak ikut menaikkan biaya umrah. ’’Tapi itu kan baru wacana,’’ katanya kemarin (10/6). Pria yang akrab disapa Nafit itu menjelaskan sebaiknya semua pihak menunggu kebijakan resmi dari Saudi.

Baik itu bagi para penyelenggara perjalanan ibadah umrah (PPIU) maupun jemaah umrah yang sudah membayar namun tertunda keberangkatannya. Seperti diketahui sejak akhir Februari lalu, pemerintah Arab Saudi menyetop pengajuan visa umrah.

Beberapa hari kemudian penerbangan yang mengangkut jemaah umrah menuju Arab Saudi juga ditangguhkan. Akibatnya banyak jemaah umrah yang sudah berada di bandara dan siap terbang menuju Saudi tertunda keberangkatannya. Nafit mengatakan sampai saat ini Kemenag belum menerima laporan adanya jemaah umrah yang membatalkan paket umrahnya.

Ketua Umum Sarikat Penyelenggara Haji Umrah Haji Indonesia (Sapuhi) Syam Resfiadi mengatakan tidak mau terlalu cepat menyimpulkan soal potensi perubahan harga paket umrah. Sebab dia belum bisa mengetahui perkiraan harga satuan komponen penyelenggaraan umrah. Namun jika dari pihak Arab Saudi ada perubahan harga, penyelenggara di tanah air tentu akan menyesuaikan.

Sementara itu Wakil Menteri Agama (Wamenag) Zainut Tauhid Sa’adi kemarin mengikuti peringatan tiga tahun usia Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH). Dalam kesempatan itu Zainut mengatakan per 31 Mei 2020 jumlah jemaah haji reguler dalam antrian atau waiting list mencapai 4.677.176 orang. Kemudian antrian untuk jemaah haji khusus sebanyak 91.649 orang.

Banyaknya jumlah jemaah yang antri itu, otomatis membuat pundi-pundi keuangan dana kelolaan BPKH meningkat. Zainut menuturkan pada periode Mei 2020 jumlah dana kelola haji di BPKH mencapai Rp 132 triliun. Dana tersebut dikelola dan hasilnya digunakan untuk subsidi ongkos penyelenggaraan haji. (***/wan)

Reporter : JP GROUP
Editor : MOHAMMAD TAHANG

Update