Rabu, 10 Agustus 2022

Proses PPDB Online Bermasalah

Laman PPDB Sulit Diakses, Usulkan Daftar Manual Orangtua Datangi Sekolah dan Posko Pengaduan Disdik Batam

Baca Juga

F. EUSEBIUS SARA/BATAM POS
Ratusan orangtua calon peserta didik mendatangi Disdik Kota Batam di Sekupang, Jumat (12/6). Mereka memprotes laman PPDB yang sulit diakses.

BATAM (BP) – Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Batam menerapkan proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ajaran 2020/2021 berbasis online secara penuh karena pandemi Covid-19. Namun, Disdik seperti tidak siap, sehingga proses PPDB banyak dikeluhkan para orangtua calon peserta didik. Pasalnya, website atau laman pendaftaran PPDB online sulit diakses.

Kondisi ini membuat ribuan orangtua calon peserta didik khawatir. Pasalnya, hingga hari ketiga atau hingga Jumat kemarin (12/6) proses PPDB dibuka, mereka belum berhasil mendaftarkan anak-anaknya. Mereka pun mendatangi sekolah yang dituju hingga kantor Disdik Kota Batam di Sekupang. Bahkan, mereka tidak lagi mengindahkan protokol kesehatan dalam pencegahan penyebaran Covid-19.

“Sudah pusing ini, dua malam ini begadang demi agar bisa mengakses ke laman PPDB tapi hasilnya selalu nihil. Tak bisa sama sekali. Server selalu penuh dan tak bisa diakses. Hari ini (kemarin, red) ke sini (SMPN 47, red) biar tahu pasti bisa apa tidak daftar anak saya ke sini. Semakin ribet kulihat dengan sistem PPDB ini. Tak tenang dibuatnya,” keluh Andini, orangtua calon siswa di SMPN 47 Batam di Marina, kemarin.

Di SMPN 21 Batam dan SMPN 50 Batam di Sagulung, ratusan orangtua calon siswa juga berjubel demi mendapatkan informasi layanan PPDB yang pasti. Mereka umumnya tak percaya lagi dengan PPDB online, sebab laman PPDB sama sekali tak bisa diakses.

“Mau sampai kapan kami tunggu seperti ini. Sudah hari ketiga tapi tak bisa sama sekali. Hari ini (kemarin, red) kalau di sekolah ini tak jelas kami mau ke Disdik. Bagaimana sebenarnya agar anak kami segera daftar, itu saja,” kata Zulfan, orangtua calon siswa di SMPN 21 Sagulung.

Pantauan di lapangan sepanjang siang kemarin, hampir semua sekolah negeri yang ada di wilayah Batuaji dan Sagulung ramai didatangi orangtua calon siswa. Tujuan mereka sama, untuk memastikan agar anak mereka segera terdaftar.

Berebut Nomor Antrean
Ratusan orangtua calon peserta didik mendatangi kantor Disdik Batam terkait PPDB yang bermasalah, pagi kemarin. Mereka juga mengeluhkan tidak bisa mendaftarkan anaknya di sekolah tujuan.

Konni Junita, orangtua calon siswa mengaku tidak tidur sampai pukul 03.00 WIB demi agar mendaftarkan anaknya ke SMPN 3 Batam. Tidak hanya itu, ia bersama suaminya bahkan bergantian jam tidur agar bisa mengecek website dan mendaftarkan anaknya.

“Dari pagi, siang, sampai tengah malam pun dicoba tapi tetap tidak bisa dibuka,” kata warga Kampung Agas, Sekupang ini.

Karenanya, ia mendatangi kantor Disdik untuk mengadukan perihal ini, sekaligus mencari informasi kenapa tidak bisa dibuka website-nya. “Mereka (pegawai Disdik, red) tetap bilang website-nya ramai dan antre karena banyak yang mau daftar. Kami pun mau daftar ini,” sebutnya.

Ia mengaku, sudah tiga hari ini tidak bisa tidur memikirkan pendaftaran sekolah anaknya. Sekarang ini permasalahannya bukan orangtua tidak bisa online atau gagap teknologi namun website-nya yang tidak bisa dibuka. “Sudah tiga hari kami siaga dan mencoba daftar tapi tidak masuk juga. Kami kan khawatir karena ini sudah hari ketiga,” ucap Konni.

Ratnawati, warga Batuaji, mengatakan, sudah mencoba mendaftar selama tiga hari ini. Namun karena tidak bisa masuk atau mengakses ke lapam PPDB, ia mendatangi kantor Disdik agar mendapatkan solusi sehingga anaknya bisa terdaftar.

Menurutnya, dari pada pendaftaran online, lebih baik manual. Sebab orangtua bisa langsung mendaftarkan anaknya, tidak seperti saat ini, sampai tidak bisa tidur karena gagal mengakses website PPDB. “Manual saja. Biar cepat. Nanti kan bisa diatur 10 orang sekali daftar ke sekolah. Diatur saja biar orangtua ada kepastian soal PPDB ini,” ujarnya.

Dalam masa pandemi ini, orangtua juga paham agar tetap jaga jarak dan tidak membuat keramaian, asalkan anak-anak ini bisa segera mendapatkan sekolah. “Jauh-jauh dari Batuaji ke sini hanya untuk dapat informasi. Hape cuma satu, belum lagi anak yang satu lagi ujian semester. Bergantian kami pakai hape biar bisa daftar sekolah,” jelasnya.

Sementara itu, orangtua berebut nomor antrean dan mengabaikan sosial dan physical distancing. Orangtua terus berdatangan karena tidak bisa membuka website dan gagal mendaftarkan anaknya.

Jumlah pengaduan karena PPDB membeludak di hari ketiga dibukanya pendaftaran. Disdik menyiapkan sembilan petugas untuk melayani aduan orangtua yang tidak bisa mendaftarkan anaknya.

Sekretaris Dinas Pendidikan Batam, Andi Agung, mengatakan, orangtua calon siswa bisa menanyakan berbagai hal seputar PPDB di posko ini. “Apa saja bisa. Misal ada masalah saat pendaftaran juga bisa ditanyakan di sini,” kata Andi, kemarin.

Dia menyebutkan, sejak hari pertama hingga saat ini PPDB itu sudah ada ratusan orangtua siswa yang datang ke posko. Permasalahan yang disampaikan bermacam-macam. “Tadi contohnya, ada yang daftar tapi ternyata salah memasukkan NIK (nomor induk kependudukan). Jadi ketika masuk lagi tidak bisa. Nah, ini kita bantu selesaikan,” tuturnya.

Andi mengatakan, waktu pelaksanaan PPDB ini akan berlangsung cukup panjang.

Pendaftaran dimulai 10 Juni dan rencananya dibuka hingga 26 Juni mendatang. Tapi ia memaklumi ketika orangtua ingin cepat menyelesaikan proses pendaftaran sekolah anaknya. Sehingga pendaftaran menumpuk di awal-awal masa PPDB, yang pada akhirnya membuat peladen (server) sibuk.

“Biasalah itu, tiap tahun seperti itu. Hari-hari pertama ramai. Nanti ada hari-hari tertentu kosong. Dicoba saja. Dan server kita ini hidup terus, hanya istirahat antara 23.00-01.00 dini hari. Jadi selebihnya orangtua bisa coba masuk ke sistem,” pesan Andi.

Tahun ini, PPDB untuk SD dan SMP negeri di Kota Batam dilaksanakan secara daring (online). Dan penentuan pilihan sekolah berdasarkan sistem zonasi. Pada tingkat SD, 80 persen dari total kapasitas siswa barunya adalah untuk murid di dalam zonasi sekolah.

Sedangkan 15 persen untuk jalur afirmasi dan 5 persen jalur perpindahan kerja orangtua.

Untuk SMP, 50 persen siswa barunya diambil dari jalur zonasi. Kemudian 30 persen untuk siswa berprestasi, 15 persen afirmasi, dan 5 persen perpindahan.

Disdik Harus Evaluasi dan Cari Alternatif
Anggota Komisi IV DPRD Batam, Aman, juga menyoroti soal website PPDB yang masih sulit diakses hingga hari ketiga kemarin. Dia mengatakan, sampai hari ketiga pendaftaran dengan sistem online ini, seharusnya harus segera dievaluasi permasalahannya oleh Disdik Kota Batam.

“Kalaupun awalnya karena kondisi Covid-19 begini semua pakai sistem online, ternyata servernya tidak mempunyai daya tampung yang banyak sehingga menjadi drop,” ujar Aman.

Dikatakannya, untuk mengatasi keresahan wali murid yang susah mendaftarkan anaknya melalui sistem online, ia meminta Disdik untuk tetap membuka pendaftaran dengan cara manual atau offline. Dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan dengan menjaga jarak, penggunaan masker dan lainnya.

“Kondisi ini tidak bisa dibiarkan. Ini kalau sudah tiga hari berturut-turut tidak bisa normal sistem yang digunakan, karena server yang tidak kuat karena data yang masuk terlalu banyak. Memang harus ada alternatif manual seperti itu,” katanya.

Namun, proses pendaftaran dengan manual itu harus sangat diperhatikan. Karena selama ini dengan sistem pendaftaran manual, wali murid sudah datang sejak pagi hari.

Sementara di sekolah belum ada yang jaga dan mengarahkan wali murid untuk terapkan protokol kesehatan. Karena jika ada antrean atau kerumunan orang, tentunya akan membahayakan wali murid nantinya.

“Di sekolah juga harus sudah disediakan sarananya. Misalkan disediakan kursi yang sudah diatur jaraknya. Sehingga orang tua tahu, nanti duduk di kursi yang sudah berjarak itu,” tuturnya.

Disdik harus segera melakukan evaluasi secara sistem dengan meningkatkan daya tampungnya. Sebab, jika tidak segera dilakukan maka wali murid akan ambil inisiatif untuk mendatangi sekolah secara langsung.

Ia menegaskan, bahwa Komisi IV selalu mengamati dan menerima keluhan dari orangtua siswa. Komisi IV sejauh ini juga belum melakukan pemanggilan dari Disdik karena masih menunggu beberapa hari ke depan. Jika permasalahan PPDB online ini tidak berubah, maka Komisi IV akan segera melakukan pemanggilan kepada Disdik Batam.

“Karena memang masih ada waktu sampai tanggal 26 Juni. Mungkin jika pekan depan terus begini dan tidak ada alternatif solusi yang diberikan dalam PPDB ini, maka kita akan panggil untuk mencari jalan keluar bagaimana yang terbaik,” imbuhnya.

Sementara itu, lanjut Aman, jika menerapkan sistem pendaftaran melalui aplikasi WhatsApp dan kemudian dijadwalkan wali murid untuk ke sekolah, hal itu juga bisa dilakukan. Namun pihaknya belum menyampaikannya ke Disdik karena sampai dengan saat ini Disdik masih melihat perkembangan dari proses PPDB ini seperti apa ke depannya.

“Dan kemarin Pak Wakil Wali Kota juga sudah datang langsung dan meminta daya tampung server ini ditingkatkan dari 1.200. Cuma sampai saat ini orangtua masih mengeluh karena susah masuk,” bebernya.

Ia menyebutkan, jika pada tahun sebelumnya dengan daya tampung di waktu bersamaan sebesar 1.200 masih memungkinkan karena pihak sekolah juga membuka pendaftaran dengan cara manual. Namun, saat ini kondisi berbeda dan dibuat dengan sistem online seluruhnya. Sehingga server tidak mampu menampung seluruhnya hingga mengakibatkan down.

“Jadi, intinya kita minta Disdik secepatnya melakukan evaluasi terhadap PPDB ini dan mencari alternatif solusi lain agar tidak ada keresahan di orang tua siswa,” imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Disdik Kota Batam, Hendri Arulan, mengatakan, saat ini masih mencari solusi terbaik agar pendaftaran PPDB ini bisa berjalan lebih baik tanpa adanya keluhan dari orang tua. Berbagai opsi tengah difikirkan dan dibahas bersama dan akan disampaikan kepada pimpinan.

Untuk orangtua yang datang ke kantor dan kesulitan online akan dibantu pendaftarannya. Silakan tinggalkan berkas dan nanti petugas akan membantu mendaftarkan. “Intinya kalau ada yang membutuhkan bantuan akan kami layani,” imbuhnya.

Mengenai pendaftaran manual. Hendri mengaku masih memikirkan mekanismenya. Opsi melibatkan pihak sekolah masih dibahas. Ada masukan juga sekolah ikut membantu mendaftarkan dengan sistem tetap online. Hanya saja sekolah mampu mendaftarkan. “Itu bisa juga. Namun tetap keputusan di pimpinan,” ujarnya.

Berdasarkan data yang masuk hingga kemarin jumlah siswa yang masuk dan berhasil mendaftar sudah diangka dua ribu lebih. Itu artinya, benar-benar ada pendaftar yang berhasil masuk ke website PPDB. “Namun karena ada batasan, banyak yang mengeluh tidak bisa daftar,” sebutnya.

Hendri kembali mengingatkan pendaftaran PPDB masih dibuka hingga 26 Juni mendatang. Orang tua masih memiliki kesempatan untuk mendaftarkan anaknya. Tidak tertutup kemungkinan adanya perpanjangan, jika masih banyak yang belum berhasil mendaftar.
“Semoga ada keputusan dalam waktu dekat ini terkait proses PPDB nanti. Kami juga berharap semua bisa daftar biar tidak ada lagi yang ribut,” terangnya. (*)

Reporter : EUSEBIUS SARA
YULITAVIA
EGGI IDRIANSYAH
Editor : MOHAMMAD TAHANG

Update